Stunting, sebuah istilah yang baru aku kenal sejak menjadi ibu, kira-kira menjelang kelahiran anak pertamaku empat tahun yang lalu. Agak terlambat rasanya, karena tidak ada yang pernah memberitahuku soal stunting ini dengan lebih jelas. Dokter dan bidan tempat aku periksa kehamilan juga tidak pernah menyampaikan soal stunting maupun pencegahannya.

Ketika anak sudah lahir dan hampir memasuki fase MPASI, barulah aku mencari tahu lebih dalam lagi soal stunting. Semua bermula dari omongan orang tuaku yang terus mengomentari berat badan anakku yang dinilai kecil. Belum lagi kalau melihat anak-anak sepantarannya yang terlihat lebih tinggi dari anakku.

Sejak pandemi covid-19, posyandu di daerahku tutup, dan aku sekeluarga berusaha membatasi diri untuk tidak pergi ke puskesmas selama tidak ada urgensinya. Aku dan suami tidak memiliki latar belakang pengetahuan tentang ilmu kesehatan. Kami sempat mengalami masa-masa stress karena khawatir dengan tinggi badan dan berat badan anak kami yang tidak terpantau oleh petugas kesehatan.

Akhirnya yang bisa kami lakukan selama pandemi adalah dengan belajar memantau sendiri tinggi, berat dan lingkar kepala anak kami lalu mencatatkannya di buku pink, baca buku atau informasi mengenai tumbuh kembang anak dan mengikuti webinar-webinar parenting salah satunya yang membahas tentang stunting.

Sekilas Tentang Stunting

Berdasarkan Buku Ringkasan Stunting, Stunting diartikan sebagai kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) akibat kekurangan gizi kronis hingga anak terlalu pendek untuk usianya (kerdil).

Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Kondisi stunting sangat berpengaruh pada tingkat kecerdasan anak dan status kesehatan saat dewasa. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi pervalensi stunting perlu dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. Akibat kekurangan gizi pada 1000 HPK bersifat permanen dan sulit diperbaiki.

Peluncuran ILM "Cegah Stunting Itu Penting" Cegah Stunting Itu Penting
Opening Peluncuran ILM "Cegah Stunting Itu Penting"

Mengapa Cegah Stunting Itu Penting?

Stunting masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan serius yang dihadapi anak-anak Indonesia dan bisa mengancam masa depan bangsa. Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban stunting yang tinggi yakni 24,4 persen. Kondisi ini menjadi tantangan bangsa Indonesia dalam upaya mencapai Indonesia Emas 2045 karena stunting bukan hanya berdampak pada tinggi badan, melainkan pada tingkat kecerdasan dan daya saing generasi penerus bangsa di masa depan. Tinggi badan hanya tampak luarnya saja (penampilan, namun yang krusial adalah masalah kognitifnya.

Oleh sebab itu, pemerintah telah menetapkan stunting sebagai isu prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Bahkan pada tahun 2021 Pemerintah juga telah menetapkan Peraturan Presiden No. 72 tentang Percepatan Penurunan Stunting dengan target penurunan prevalensi yang signifikan  menjadi 14% pada tahun 2024.

Kecepatan penurunan stunting yang harus dicapai berdasarkan RPJMN 2020-2024 adalah 2,6% per tahun menuju target 14% di tahun 2024. Suatu laju penurunan yang cukup menantang  jika dibandingkan dengan laju penurunan di tingkat global yang hanya mencapai 0,5% pertahun selama periode 2000 hingga 2021. Kami memiliki optimisme yang besar bahwa target ini dapat tercapai bila dilakukan secara penta heliks, dengan melibatkan juga pihak swasta, perguruan tinggi, masyarakat dan media. Oleh karenanya, kami sangat mengapresiasi semua pihak yang telah secara aktif ikut serta dalam upaya percepatan penurunan stunting dengan berbagai program yang telah dilakukan. Secara khusus kami juga ingin menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Danone Indonesia yang dengan visinya ‘One Planet, One Health telah mendukung penguatan program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi untuk Pencegahan Stunting melalui Iklan Layanan Masyarakat “Cegah Stunting itu Penting” yang akan ditayangkan di berbagai media sehingga diharapkan seluruh lapisan masyarakat dapat teredukasi dan tercapainya perubahan perilaku yang menunjang percepatan penurunan stunting di Indonesia.” Jelas Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K), Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang diwakilkan oleh Deputi Bidang Advokasi, Penggerakan dan Informasi (ADPIN), BKKBN, Drs. Sukaryo Teguh Santoso, M.Pd.,

Pencegahan stunting masih menjadi perhatian serius oleh pemerintah agar upaya untuk mempersiapkan Generasi Emas Indonesia pada tahun 2045 tidak terhambat. Sebab, permasalahan stunting bisa berdampak panjang bukan hanya pada kesehatan tapi juga produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pasalnya, dalam jangka panjang stunting menimbulkan kerugian ekonomi sebesar 2-3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun, atau sekitar lebih dari Rp 500 triliun rupiah per tahun, dengan asumsi PDB Indonesia tahun 2021 sebesar Rp16.970 triliun. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan, anak yang mengalami kondisi stunting. berpeluang mendapatkan penghasilan 20 persen lebih rendah dibandingkan anak yang tidak mengalami stunting ketika dewasa nanti.

Salah satu kendala penyelanggaran percepatan pencegahan stunting adalah masih minimnya advokasi, kampanya, dan diseminasi terkait stunting dan berbagai upaya pencegahannya.

Pembicara Webinar "Cegah Stunting Itu Penting"
Pembicara Webinar "Cegah Stunting Itu Penting"

Peluncuran Iklan Layanan Masyarakat (ILM) “Cegah Stunting Itu Penting”

Aku berkesempatan untuk mengikuti Webinar dalam rangka Peluncuran Iklan Layanan Masyarakat (ILM) “Cegah Stunting Itu Penting”, kolaborasi Danone Indonesia dan BKKBN untuk memperkuat edukasi publik dalam mendukung kampanye nasional pencegahan stunting. Webinar yang diadakan pada tanggal 25 Juli 2022 tersebut menghadirkan pembicara expert, yakni Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K), Vice President General Secretary Danone Indonesia, Vera Galuh Sugijanto, Nissa Cita Adinia, S.Sos, M.Commun., (Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia), Muslicha, S.Sos, M.Si, dan Dr. Sarah Angelique, MS.

Edukasi menjadi suatu pilar penting yang dapat berperan dalam penurunan angka stunting di Indonesia. Namun, terbatasnya sumber daya untuk advokasi dan edukasi tentang stunting di masyarakat, masih menjadi salah satu kendala untuk mencapai target penurunan stunting. Maka dari itu, dengan pendekatan strategi penanganan dan pencegahan stunting melalui Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Publik, diharapkan penyebaran infomasi dapat berjalan efektif dan berperan penting dalam mengedukasi masyarakat. Dimana, salah satu upaya sosialisasi yang dilakukan adalah dengan menayangkan iklan layanan masyarakat ‘Cegah Stunting itu Penting’ sebagai upaya peningkatan pemahaman melalui edukasi dan sosialisasi mengenai upaya-upaya pencegahan sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku yang berkontribusi terhadap penurunan angka stunting.

“Sebagai perusahaan yang memiliki misi membawa kesehatan melalui makanan dan minuman kepada sebanyak mungkin orang, Danone Indonesia berkomitmen untuk ikut serta dalam meningkatkan kualitas kesehatan anak Indonesia dan mendukung upaya pemerintah dalam percepatan penurunan angka stunting. Maka dari itu, dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2022, kami berkolaborasi dengan Pemerintah melalui dukungan penguatan program komunikasi, informasi dan edukasi mengenai pencegahan stunting, dengan meluncurkan iklan layanan masyarakat ‘Cegah Stunting itu Penting’. Kami berharap inisiatif ini dapat mendukung target penurunan angka stunting di Indonesia dan masyarakat di seluruh penjuru Indonesia dapat memahami tentang pencegahan stunting.” Ungkap ibu Vera Galuh Sugijanto, Vice President General Secretary Danone Indonesia

Iklan layanan masyarakat tersebut merupakan media edukasi melalui video yang berisi 6 (enam) pesan kunci untuk pencegahan stunting. Enam pesan kunci di dalam Iklan layanan masyarakat tersebut adalah sebagai berikut

  1. Minum tablet tambah darah setiap hari;
  2. Ikuti kelas Ibu hamil biar janin sehat;
  3. Cukup ASI saja sampai usia 6 bulan;
  4. Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir;
  5. Pakai Jamban Sehat;
  6. Rutin ke Posyandu setiap bulan

Materi video iklan layanan masyarakat tersebut saat ini telah siap untuk ditayangkan dan disebarluaskan ke masyarakat luas melalui  media elektronik, kanal digital, dan media sosial, sebagai bentuk edukasi publik untuk tujuan pembangunan perubahan perilaku.

“Iklan layanan masyarakat, dalam berbagai formatnya saat ini, adalah alat efektif dalam menjangkau masyarakat luas, untuk meningkatkan kesadaran (awareness) publik tentang isu stunting dan mengedukasi perilaku kunci tang berpengaruh dalam mencegah stunting. Saya senang sudah ada kedua figur orang tua atau ayah Ibu yang digambarkan ada dalam iklan layanan. Ini berarti juga menunjukkan pencegahan stunting dari rumah bukan hanya menjadi tanggung jawab perempuan atau sang Ibu saja. Hal-hal seperti ini, penting ditampilkan. Semoga iklan ini mampu mengedukasi kebiasaan-kebiasaan mudah yang selayaknya bisa dilakukan dari rumah untuk mencegah resiko stunting.” Nissa Cita Adinia, S.Sos, M.Commun., Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia

Selain dalam inisiatif edukasi melalui layanan masyarakat, Danone Indonesia juga memiliki program berbasis multistakeholders ‘Bersama Cegah Stunting’ sejak tahun 2003 yang telah menjangkau lebih dari 1 juta penerima manfaat. Program ini mengintegrasikan intervensi spesifik dan sensitive dengan memfasilitasi koordinasi, identifikasi, dan informasi terkait lokasi stunting, pemberdayaan dan penyuluhan, penelitian, serta pemantauan dan evaluasi maupun aspek edukasi masyarakat. Upaya edukasi yang kami lakukan melalui edukasi tentang pentingnya gizi seimbang pada program Isi Piringku, meningkatkan kebiasaan minum air putih 7-8 gelas dalam program Ayo Minum Air (AMIR), edukasi anemia untuk memutus mata rantai stunting pada remaja di bawah Generasi Sehat Indonesia (GESID) dengan target yakni edukasi untuk anak remaja. Kami juga memberikan akses air bersih dan penyehatan lingkungan serta pendidikan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi masyarakat melalui Akses Air Bersih dan Sanitasi Higiene (WASH).

Sebagai seorang ibu atau orang tua dari generasi penerus bangsa, aku sangat peduli akan masa depan bangsa Indonesia. tentunya harapanku adalah agar Indonesia di masa depan dipimpin dan dijalankan oleh generasi sehat, kuat tangguh, cerdas serta humanis. Untuk mencapai harapan tersebut, kita, orang tua dapat memulainya dari memberikan nutrisi terbaik bagi diri dan juga anak-anak agar anak-anak yang lahir bebas stunting. Kita juga bisa turut andil dalam menyebarluaskan informasi mengenai pencegahan stunting melalui iklan layanan masyarakat (ILM) "Cegah Stunting Itu Penting" pada berbagai platform komunikasi yang kita punya, seperti Whats app grup keluarga, tetangga, dst, Instagram, Twitter, Youtube dan juga narablog. Semoga bermanfaat, ciao!




Sumber:

Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Stunting Summit: Komitmen Bersama Turunkan Prevalensi Stunting di Indonesia.

Badan Pusat Statistik. 2022. Ekonomi Indonesia Triwulan IV 2021 Tumbuh 5,02 Persen (y-on-y)    

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). 2017. 100 Kabupaten Prioritas untuk Intervensi Anak KErdil (stunting), Ringkasan

Euforia kembali ke sekolah pada tahun ajaran baru kali ini terasa berbeda. Pasalnya sudah dua tahun anak-anak sekolah menimba ilmu di rumah saja akibat pandemic Covid-19. Mereka tidak dapat bercengkrama dengan teman sebaya dan juga berinteraksi langsung dengan gurunya. Akhirnya, pertengahan 2022, pemerintah kembali mengizinkan sekolah tatap muka diadakan kembali dengan tetap menjalankan protokol Kesehatan.

Interlac Vitamin D3 jaga imun tubuh anak
Interlac +VitaminD3 bantu jaga imun tubuh anak

Setelah beradaptasi dengan masa transisi dari pandemik menuju new normal, anak-anak harus beradaptasi lagi dengan masa #BackToSchool (kembali ke sekolah) dalam suasana yang bisa dikatakan belum 100% bebas dari virus. Berikut tips yang bisa Moms upayakan agar anak kembali sekolah tatap muka dengan aman dan nyaman;

Persiapkan Fisik dan Mental Anak Untuk Menghadapi Sekolah PTM New Normal

Belajar di sekolah, bertemu teman-teman dan guru merupakan hal yang menyenangkan. Namun, tidak dapat dipungkiri mungkin ada anak-anak yang memiliki respon berbeda terhadap Sekolah PTM dan merasa asing dengan aktivitas di sekolah. Anak-anak tersebut berpotensi mengalami kecemasan bahkan ketakutan menjelang masuk sekolah tatap muka.

Menghadapi masa peralihan pasti membutuhkan kesiapan fisik, pikiran dan mentalitas yang kuat. Misalnya saja, setiap pagi anak harus terbiasa bangun lebih cepat, bersiap-siap dan berangkat menuju ke sekolah menggunakan kendaraan pribadi maupun umum. Belum lagi kalau sekolahnya cukup jauh dan jalanan sedang ramai atau bahkan macet. Oleh sebab itu, orang tua diharapkan mampu mengkondisikan anak-anak agar memiliki kesiapan tersebut.

Sebagai orang tua kita bisa melakukan upaya sounding kepada anak sebulan atau dua minggu sebelum masuk sekolah. Caranya bisa dengan menceritakan tentang bagaimana perjalanan yang akan dilakukan sang buah hati menuju ke sekolah, apa saja tantangan yang mungkin terjadi dan cara menangani tantangan tersebut. Kita juga bisa mengajarkan atau melatih anak untuk mengelola stress sejak dini, lho, Moms. Anak dapat dilatih pernapasan dan juga sugesti pikiran ke arah positif, agar anak tetap fresh saat sampai di sekolah.

Nah, sepulang sekolah, Moms, juga bisa mengajak anak untuk bercerita tentang kegiatannya di sekolah pada hari itu saat makan malam bersama keluarga.

Libatkan Anak dalam Mempersiapkan Semua Kebutuhan Sekolah

Mempersiapkan printilan kebutuhan sekolah bersama-sama pasti terasa menyenangkan. Anak dapat memilih sendiri alat tulisnya, ikut menyampul buku, dan memilih tas sesuai selera.  Dengan demikian, anak akan merasa lebih bersemangat menyambut momen pertamanya berangkat sekolah. Si Kecil milih tas model apa nih mom? Pasti lucu deh! He-he-he

Biasakan Anak untuk Menjaga Kebersihan Diri dan Lingkungan

Sejak pemerintah menerapkan aturan baru sekolah PTM, mulai dari kapasitas peserta maksimal 25%, 50% hingga saat ini sudah 100%, berita tentang varian baru Omicron pun semakin santer terdengar.

Makanya nih, Moms, aku selalu siapkan hand sanitizer di tas sekolah anak. Sebelumnya, aku membiasakan anak selalu mencuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah makan maupun beraktivitas lainnya yang memakai benda bersama-sama teman. Anak yang terbiasa melaksanakan pola hidup bersih dan sehat di rumah, insyaa Allah akan terbawa sampai ke sekolah pun dimanapun ia berada. Oh iya, Moms, Dads, jangan lupa sisipkan masker cadangan di dalam tas anak, kalau-kalau masker yang dipakainya jatuh atau kotor.

Bawa Bekal Makanan Ke Sekolah

Awalnya aku tak suka masak, namun sejak anak mulai aktif bersekolah, aku jadi suka sekali memasak makanan sederhana untuk dijadikan bekal makan siangnya di sekolah. Membawa bekal ke sekolah ternyata memiliki banyak manfaat, lho, Moms. Dikutip dari laman KlikDokter.com, manfaat membawa bekal ke sekolah, antara lain; kebutuhan nutrisi harian anak terpenuhi (anak membutuhkan bekal yang kaya zat gizi makro dan mikro, seperti karbohidrat protein, vitamin dan mineral), makanan lebih bersih, murah dan hemat karena makanan dibuat sendiri oleh ibunya, dan anak terhindar dari resiko alergi makanan juga diare.

Menurutku, bekal untuk di bawa anak ke sekolah tidak perlu yang rumit-rumit. Makanan sederhana seperti roti lapis, lauk telur (dadar/mata sapi), semur, ayam/ikan goreng, orak-arik tempe, tumis sayur-mayur, nasi dan mie goreng, dan lain-lain juga sudah cukup. Tak lupa beri snack berupa buah-buahan yang kaya serat. Aku sih biasanya nyontek menu di kantin sekolah saja, jadi lauk makan anakku dan temannya yang jajan di warung tidak jauh berbeda. Malah aku buat semenarik mungkin agar ia tidak tertarik jajan di warung.

bekal sekolah interlac vitamin d3
Bekal persiapan sekolah

Jaga Daya Tahan Tubuh Anak dengan Suplementasi Vitamin 

Dalam kondisi serba tak pasti seperti sekarang, sebagai orang tua kita memang tidak boleh lengah, Moms. Makanya, selain memberikan nutrisi seimbang, air minum yang cukup, olahraga dan berjemur setiap pagi serta istirahat teratur, aku juga dukung daya tahan tubuh anakku dengan suplementasi vitamin.

Vitamin yang aku berikan ini awalnya direkomendasikan oleh dokter spesialis anak untuk anakku, Azura. Setelahnya aku selalu stok vitamin ini di rumah karena khasiatnya bagus, Moms. Abisnya kalau cuma mengandalkan dari asupan makanan yang masuk ke tubuhnya, aku merasa kurang yakin apakah semua nutrisinya terserap optimal atau tidak. Penasaran kan Vitamin apa itu? He-he-he… Yaudah sekalian aku review saja ya, Moms.

saluran cerna sehat, daya tahan tubuh kuat
saluran cerna sehat, daya tahan tubuh kuat

Interlac Vitamin + D3 Bantu Jaga Daya Tubuh Anak Di Momen #BackToSchool

Moms, Dads, tahukah kamu bahwa kondisi pencernaan mempengaruhi daya tahan tubuh dan tumbuh kembang anak?

Menurut penelitian, disebutkan bahwa sistem saluran cerna merupakan organ kekebalan tubuh utama. Perkembangan sel imun dipengaruhi oleh keseimbangan mikrobiota dalam saluran cerna. Jadi, semakin sehat saluran pencernaannya, maka daya tahan tubuh semakin baik. Suplementasi probiotik dapat membantu mempertahankan fungsi imunitas usus. Sementara itu, suplementasi L. reuteri dapat membantu mencegah dan mengurangi beberapa gangguan saluran cerna seperti kolik, konstipasi, dan diare yang sering ditemukan pada bayi dan anak*).

Demi menjaga kesehatan saluran cerna dan imunitas tubuhnya, aku memberikan Azura Interlac + Vitamin D3 Tablet Kunyah Rasa Jeruk sebagai asupan tambahan. Interlac + Vitamin D3 merupakan suplemen praktis produksi BioGaia berupa tablet kunyah probiotik yang mengandung bakteri baik Lactobacillus reuteri DSM 17938 sebanyak 105 CFU dilengkapi dengan Vitamin D3 sebanyak 400 IU. Rasa jeruknya disukai anak-anak.

komposisi interlac vitamin d3

Manfaat dari kandungan Interlac + Vitamin D3, yaitu:

  • L. reuteri DSM 17938: membantu jaga kesehatan saluran cerna, serta mencegah dan mengatasi diare, sembelit serta kembung

  • Vitamin D3: bermanfaat untuk mempengaruhi imunitas bawaan (innate) dan imunitas di dapat (adaptive), bantu atur kadar insulin dan gula darah serta menjaga kesehatan tulang, jantung dan pembuluh darah.

  • Kombinasi Probiotik dan Vitamin D3 dapat meningkatkan penyerapan Vit. D pada tubuh, sehingga mengkonsumsi Interlac + Vitamin D3 akan jauh lebih baik dibandingkan hanya mengonsumsi vitamin D tunggal.

  • Dapat meningkatkan daya tahan tubuh

  • Membantu kurangi kambuhnya alergi seperti asma, dermatitis atopic, mencegah infeksi bakteri di usus

  • Bagi ibu hamil, sebagai nutrisi pendukung untuk pertumbuhan bayi dalam 1000 HPK

Aturan konsumsinya cukup 1 Tablet Kunyah 1x Sehari atau sesuai anjuran dokter. Interlac + Vitamin D3 cocok dikonsumsi oleh anak-anak mulai dari usia 2 tahun, orang dewasa dan ibu hamil.

rasa jeruk interlac vitamin d3 disukai anak-anak
Rasa Jeruk Interlac + Vitamin D3 sangat disukai anak-anak

Momen masuk sekolah pada pertengahan tahun 2022 ini sangat berkesan bagi anak-anak dan kita, sebagai orang tua. Seperti halnya orang dewasa, anak-anak kita juga telah berjuang melewati berbagai masa-masa sulit dan berdamai dengan keadaan. Perhatian dan dukungan kita terhadap tumbuh kembang dan kesehatan anak sangatlah penting. Oleh sebab itu, sekecil apapun usaha, dukungan dan perhatian yang Moms dan Daddy berikan pada anak sangatlah berarti.

Lima cara yang bisa diupayakan orang tua untuk menjaga daya tahan tubuh sang buah hati, yakni dengan menjaga fisik dan mental anak tetap stabil, melibatkan anak dalam persiapan #BackToSchool, jaga kebersihan diri dan lingkungan, bawa bekal ke sekolah, dan jaga kesehatan saluran pencernaan anak. Insyaa Allah, jika pencernaan si Kecil sehat, ia dapat menjalankan aktivitas dengan optimal dan penuh suka cita. Ingat ya Moms, Dads, perut adalah “otak kedua” manusia, makanya perlu dirawat dengan seksama. Yuk, jaga Kesehatan saluran pencernaan anak dengan Interlac Vitamin + D3 agar daya tahan tubuh anak tetap kuat.

Moms dan Daddy bisa mendapatkan produk Interlac + Vitamin D3 di apotek langganan, toko perlengkapan bayi (babyshop) terpercaya maupun e-commerce berikut:

Shopee: https://shopee.co.id/interbathealth

Tokopedia: https://www.tokopedia/interbatstore

karena hanya di online store tersebut yang terjamin keaslian produknya. Info lebih lanjut, Moms & Dads bisa langsung meluncur dan follow Instagram @interlacprobiotics

Semoga bermanfaat, ciao!



Sumber:

*) Sudarmo, Subijanto & Basrowi, Ray & Chairunita, Chairunita. (2018). Saluran Cerna, Mikrobiota Usus dan Daya Tahan Tubuh.


Anak membaca buku bersama
Anak saya dan teman sebayanya sedang bercengkrama membaca buku bersama (dok. Pribadi) 
Pada awal masa transisi, masa-masa di mana pemerintah berangsur melonggarkan mobilitas masyarakat pasca pandemi, aku membawa anakku bermain di playground (taman bermain anak). Sesampainya di playground, anakku diam saja, memeluk kakiku dan seperti bersembunyi dari anak-anak lain yang sedang bermain di sana.

Sejak awal tahun 2020, pandemi Covid-19 merebak di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia. Pembatasan fisik dan sosial diterapkan demi mengurangi laju penularan virus tersebut. Kehidupan mendadak berubah 180* baik secara fisik, mental, sosial dan emosional. Perubahan drastis ini menyebabkan masalah kesehatan, memengaruhi mental, emosional dan tubuh kembang anak-anak.  Anak-anak usia dini telah banyak kehilangan momen interaksi dengan lingkungan sosialnya akibat “terkurung” di rumah saja dalam kurun waktu yang lama. Oleh sebab itu, sebagai orang tua, aku dan suami merasa punya PR besar agar bisa menjalankan peran pengasuhan dengan baik dan menjadi jembatan bagi anak untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan yang dihadapi dalam masa transisi.

Berbagai upaya aku dan suami lakukan demi menjaga kestabilan emosional agar dapat mendampingi tumbuh kembang Azura, anak kami yang kini berusia 4 tahun. Salah satunya, kami tak pernah lelah untuk mengedukasi diri dengan mengikuti webinar-webinar parenting.

Para Narasumber Bincang Gizi 2022 Danone Indoensia
Para Narasumber Bincang Gizi 2022 (zoom: Nutrisi Bangsa, Danone SN Indoensia)
Aku beruntung sekali dapat mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh Danone Indonesia dalam menyambut Hari Keluarga Nasional 29 Juni, dengan tema Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi. Pembicara pada webinar tersebut antara lain; dr. Irma Ardiana, MAPS (Direktur Bina Keluarga, Balita dan Anak, BKKBN); DR. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp. A (K), MPH. (Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak); dan Ibu Inspiratif Founder Joyful Parenting 101, Cici Desri.

Acara webinar yang berlangsung pada hari Rabu, 28 Juni 2022 tersebut berlangsung melalui Zoom dan disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Nutrisi Bangsa. Bapak Arif Mujahidin, Corporate Communications Danone Indonesia, membuka webinar dan memberi kata sambutan. Beliau  menyampaikan bahwa momen transisi ini menjadi kesempatan baik untuk mengasah dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak, utamanya dalam perkembangan sosial emosionalnya. Pak Arif juga berpesan agar orang dewasa (dalam hal ini orang tua) agar membantu anak-anak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sebab anak-anak usia masih rentan dan bergantung pada orang dewasa. Anak membutuhkan lingkungan terdekatnya untuk merangsang dan memberikan kesempatan tumbuh kembang yang optimal.

“Sebagai perusahaan yang ramah keluarga, kami (Danone Indonesia) juga memberikan dukungan kepada para orang tua agar si Kecil dapat tumbuh optimal melalui pemberian cuti melahirkan bagi karyawan kami yakni cuti 6 bulan bagi ibu dan 10 hari bagi ayah. Kami juga secara aktif memberikan edukasi seputar kesehatan dan nutrisi untuk publik seperti halnya dalam Bicara Gizi hari ini. Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kolaborasi orang tua untuk dapat memberikan stimulus yang tepat agar mencapai keberhasilan dalam mengembangkan aspek sosial emosional anak.” imbuhnya.

Aku pernah mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi kantor baru Danone Indonesia. Videonya sudah aku unggah di Youtube, silakan mampir. Jadi, di kantor danone yang hi-tech tersebut dilengkapi dengan ruang menyusui yang nyaman dan fasilitas memadai untuk mendukung ibu-ibu pekerja agar tetap dapat memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan hingga 2 tahun. Fasilitas yang disediakan antara lain, bilik-bilik menyusui dengan sofa empuk dan meja, alat sterilisasi botol, kulkas, dispenser air mineral AQUA dan wastafel.

Selanjutnya, narasumber yang dihadirkan mewakili BKKBN, dr. Irma Ardiana, MAPS, Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak BKKBN, mengingatkan kepada kita mengenai keluarga dan fungsinya. BKKBN merupakan inisiator Hari Keluarga Nasional (Harganas) sejak tahun 1949 melalui Prof. Dr. Haryono Suyono sebagai penggagasnya.

dr. Irma saat menyampaikan pemaparannya via Zoom
dr. Irma menekankan agar orang tua perlu memahami 8 fungsi keluarga  menurut BKKBN, yakni antara lain;

  1. Fungsi Keagamaan; orang tua jadi panutan dalam ibadah maupun perilaku
  2. Fungsi Sosial Budaya; orang tua menjadi contoh dalam bertutur kata, bersikap dan bertindak
  3. Fungsi Cinta Kasih; orang tua wajib memberi kasih sayang agar cinta kasih bersemi dalam keluarga
  4. Fungsi Perlindungan; orang tua menumbuhkan rasa aman, nyaman dan kehangatan
  5. Fungsi Reproduksi; bersepakat mengatur jumlah anak dan jarak kelahiran serta kesehatan reproduksi
  6. Fungsi Sosial dan Pendidikan; orang tua mendorong agar anaknya bersosialisasi dengan lingkungan sekitar serta mengenyam pendidikan
  7. Fungsi Ekonomi; orang tua harus bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga
  8. Fungsi Pembinaan Lingkungan; keluarga berperan dalam memelihara lingkungan sekitarnya, baik lingkungan fisik (alam) maupun sosial (interaksi dengan masyarakat)

Berdasarkan survei BKKBN, selama pandemi COVID-19 sebanyak 71,5% pasangan suami istri telah melakukan pola pengasuhan kolaboratif, 21,7% menyebutkan istri dominan, dan 5,8% hanya istri saja. Di sisi lain, data UNICEF menyebutkan bahwa selama pandemi orang tua mengalami tingkat stress dan depresi yang lebih tinggi, serta menilai pengasuhan anak di rumah saja memiliki risiko tersendiri. Kondisi ini sangat mungkin menghambat kemampuan orang tua untuk mengatasi emosi dan kebutuhan psikologis anak.

Pada webinar Bicara Gizi 2022, dr. Irma juga menjelaskan bahwa gaya pengasuhan memengaruhi perkembangan kognitif, emosional dan sosial anak. Pengasuhan bersama menekankan komunikasi, negosiasi, kompromi, dan pendekatan inklusif untuk pengambilan keputusan dan pembagian peran keluarga, bukan otoriter.

“Pengasuhan bersama antara ayah dan ibu menawarkan cinta, penerimaan, penghargaan, dorongan, dan bimbingan kepada anak-anak mereka. Peran orang tua yang tepat dalam memberikan dorongan, dukungan, nutrisi, dan akses ke aktivitas untuk membantu anak memenuhi milestone aspek perkembangan merupakan hal yang penting. Dalam konteks percepatan penurunan stunting, pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi sangat penting untuk memastikan kebutuhan nutrisi dan psiko-sosial sejak janin sampai dengan anak usia 23 bulan. Peran Tim Pendamping Keluarga menjadi krusial untuk mendampingi keluarga berisiko stunting dalam pemberian informasi pengasuhan di Bina Keluarga Balita. Pola asuh yang tepat dari orangtua dinilai mampu membentuk anak yang hebat dan berkualitas di masa depan.” Terang dr. Irma

Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak, Dr. dr. Bernie Endyarnie Medise, Sp. A(K), MPH, menjelaskan bahwa aspek sosial emosional sangat pentihg bagi anak untuk mencapai semua aspek kehidupannya dan bersaing di fase kehidupan selanjutnya, sejak remaja hingga lanjut usia. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk memiliki pemahaman yang baik mengenai perkembangan sosial emosional anak khususnya di masa transisi pasca pandemi saat ini.

Seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga mengalami kebingungan dan tuntutan untuk beradaptasi menghadapi perubahan ruang dan rutinitas baru dari masa pandemi (masa dimana semua kontak dan interaksi dibatasi) menuju masa normal baru (new normal; berangsur-angsur kembali bebas walau masih terbatasi oleh protokol kesehatan). Kembali menjalani kehidupan dan interaksi sosial dapat meningkatkan masalah sosial-emosional yang dampaknya bisa berbeda tergantung pada usia anak dan dukungan dari lingkungannya. Gangguan perkembangan emosi dan  sosial dapat memengaruhi terjadinya masalah kesehatan di masa dewasa, seperti ganguan kognitif, depresi dan potensi penyakit tidak menular.

Hubungan pencernaan sehat dengan otak
Dokter Bernie menyebutkan fakta bahwa perkembangan emosi dan sosial berkaitan erat dengan kecerdasan otak dan sistem pencernaan yang sehat. Ketiganya saling terkait dan berpengaruh signifikan terhadap tumbuh kembang anak agar anak dapat tumbuh menjadi anak hebat.

“Agar anak-anak dapat beradaptasi kembali dengan normal, memiliki keterampilan sosial-emosional yang memadai, serta memiliki kemampuan berpikir yang baik, maka orang tua perlu memantau perkembangan sosial emosional anak secara berkala serta memberikan stimulasi dan nutrisi yang tepat.” ungkap dr. Bernie.

Slide pemaran dr. Bernie
Sampai di sini aku paham, bahwa perut (sistem pencernaan) adalah otak kedua manusia sebab kalau sistem pencernaan terganggu pasti kinerja tubuh juga terganggu. Moms pernah nggak sih mengalami kalau lagi lapar atau lupa sarapan, emosi jadi terganggu, bawaannya crancky aja? Nah, anak juga begitu, Moms. Kalau nutrisinya tidak terpenuhi dengan baik pasti mereka sulit menerima stimulasi, lebih emosional dan tidak semangat menjalani kegiatan sehari-hari.

Nutrisi Bangsa juga menghadirkan seorang ibu inspiratif, Founder Joyful Parenting 101, Cici Desri, berbagi cerita tentang pengalamannya saat membersamai si Kecil menghadapi transisi untuk kembali berinteraksi dengan lingkungan sosial. Ibu Cici menceritakan bahwa selama hampir dua tahun, ia melihat banyak tantanghan yang dihadapi anaknya untuk kembali bersosialisasi dengan dunia luar. Proses adaptasi tidak selalu berjalan mudah. Terkadang anaknya merasa frustasi saat harus bertemu dengan orang baru atau saat beraktivitas dan berinteraksi dengan banyak orang. Menghadapi hal tersebut, Ibu Cici dan suami kemudian mengambil bagian dalam pengasuhan dan memperkuat keterlibatan dengan si Kecil terlebih pada fase transisi ini.

Ibu Cici Desri
Ibu Cici dan suami mendorong anaknya untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan secara verbal sehingga mereka dapat mengetahui apa yang dirasakan anaknya secara emosional. Mereka juga menjalin komunikasi yang baik dan intensif dengan guru dan staf di sekolah untuk memantau perkembangan anaknya dalam kegiatan di sekolah. Ia juga berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang untuk mengetahui lebih jauh upaya yang dapat dilakukan demi mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

“Kami memahami bahwa fase membangun hubungan baru merupakan sebuah keterampilan. Si Kecil dapat menguasainya dengan dukungan yang tepat, terutama dari keluarga. Melalui interaksi sosial secara tatap muka langsung, si Kecil mampu menumbuhkan rasa kepercayaan baru dan merasakan kenyamanan berada di lingkungan barunya. Dengan begitu, saya yakin si Kecil bisa tumbuh menjadi anak hebat yang pintar, berani, dan memiliki empati tinggi,” tutup Cici.

Penjelasan para narasumber membuatku belajar agar menjadi orang tua yang lebih peduli terhadap kebutuhan anak. aku ingin bersama-sama dengan suami menjalankan pola pengasuhan kolaboratif agar anakku tumbuh menjadi anak yang stabil secara sosial emosional dan cerdas. Terlebih kedepannya tantangan untuk generasi muda bangsa Indonesia pasti besar dan berat. Oleh sebab itu, ilmu dari dr. Irma, dr. Bernie dan pengalaman dari ibu-ibu yang lebih senior bisa diambil hikmahnya untuk  diterapkan dalam kehidupan pengasuhan agar anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang tak hanya pintar akademik tapi juga tangguh mentalitasnya, adaptif, berani, memiliki empati tinggi dan sehat fisiknya.

Danone SN Indonesia sebagai perusahaan ramah keluarga juga selalu mendukung perkembangan kesehatan ibu dan anak dengan menghadirkan berbagai produk bergizi melalui kegiatan riset dan pengembangan produk yang inovatif seperti SGM Eksplor, SGM Bunda, Lactamil, Bebelac, Nutrilon Royal, dan nutrisi medis khusus. Selain dengan produk bernutrisi, Danone SN Indonesia juga melakukan upaya mengatasi masalah kesehatan melalui berbagai kegiatan edukasi tentang pentingnya gizi dan kolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah melalui Program Bicara Gizi, Program Pencegahan Stunting, Isi Piringku, Bunda Mengajar, dan Rumah Bunda Sehat.

Semoga bermanfaat, terima kasih.

#BicaraGizi2022 #HariKeluargaNasional2022

© Alfizza Murdiyono · Designed by Sahabat Hosting