Bagian Dua : Suka Duka di Kelas Sebelas

Sehari setelah pembagian kelas, kami semua mulai menempati kelas baru. Kelas XI Bahasa menempati ruang Laboratorium Biologi yang bangunannya sudah tua, namun tampak lebih bergairah karena telah di cat ulang dan lantai kayu ulinnya tampak lebih kinclong karena telah di pel  oleh Pak Umar, penjaga sekolah kami, juga sarang laba-laba yang dulu menumpuk di setiap sudut ruangan kini telah tiada.
Memulai hari dengan senyum tulus dan membuat orang lain nyaman berada di dekatku merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku. Datang ke sekolah sebelum jam enam pas, melangkah menuju kelas penuh semangat, masuk kelas pakai kaki kanan dan salam, duduk paling depan, deret tengah, depan papan tulis. Yaaa.. aku cukup tau diri. Berhubung badanku kecil alias kurang tinggi jadi aku harus duduk di kursi paling depan supaya bisa mendengar penjelasan guru dan membaca catatan di papan tulis dengan jelas.
Ternyata di dalam kelas sudah ada Ria Mahmudah (seorang Qori’ah kebanggan kelas kami di setiap event keagamaan), dia  selalu datang lebih awal meskipun rumahnya jauh sekali di daerah Batu Belaman. Faktanya , kata Ria, aku adalah teman baru pertama  Ria di SMANSA waktu kami sama-sama jadi murid baru. Dia tipikal anak yang pemalu, tidak banyak bicara alias pendiam, juga cerdas.
Semakin mendekati jam enam, siswa-siswi semakin banyak berdatangan.
Satu persatu anggota kelas XI Bahasa masuk kelas dan menaruh tas di bangku masing-masing.
Satu… dua… tiga… sepuluh… lima belas…delapan belas… hemm… delapan belas orang ? bukannya kemarin ada tiga puluh ya di daftar ?!


Bel berbunyi memekakkan telinga. Pelajaran pertama di kelas hari pertama belajar pada semester  tiga ini adalah bahasa Prancis. Monsieur Rikam masuk lalu menyapa hangat kami semua. Tak lama berselang, datanglah dua orang anak laki-laki berbadan tinggi kurus, ohh… jadi total anggota kelas ini ada dua puluh orang. Dengar-dengar dari teman, yang lain pada pindah ke kelas IPA dan IPS.
Dalam hati aku bersyukur. Kenapa ? karena dengan jumlah siswa kelas yang sedikit itu, kegiatan belajar-mengajar akan berjalan lebih efektif…
Jam belajar-mengajar keempat telah selesai, itu artinya kami diberikan waktu istirahat lima belas menit. Karena tidak punya uang jajan, aku di kelas saja sambil minta bagi jatah makan yang dibawa temanku dari rumah(pemintaan, hehehe).  Untunglah teman-temanku di kelas baik hati dan tidak sombong, jadi kami makan bersama. Bel tanda istirahat telah usai berbunyi, salah seorang temanku masuk kelas dengan mata merah seperti orang habis nangis. “ Ehh, ehh, kenapa lah dia?” tanya temanku kepadaku
“manalah awak tau” jawabku cuek
“ehhmmm”
Aku juga penasaran apa yang jadi  penyebab dia menangis. Tumben saja ada cowok nangis.
Usai jam belajar, aku mendekati teman dekatnya, “Bang, kenapa dia tu nangis ?” selidikku
“ooh, dia tuh handak masuk IPS ding, tapi jar Bu Jum nah dia tuh di Bahasa aja, kadak usah pindah am. Nangis dia. Hehehe”
“hemmm… jadi gitu ya bang…”
Sekarang aku tau, dia terpaksa masuk Bahasa demi menyelamatkan jurusan ini agar jurusan ini tidak dihapuskan. Menyedihkan … !!!
Kami menjalani hari-hari belajar di semester pertama penuh suka duka.
Di kelas ini, persaingan terasa sangat ketat, akibatnya banyak terjadi perselisihan, saling sindir, dan kelas terpecah menjadi tiga kubu yaitu, kubu “orang berduit dan pintar”, “bokek dan agak lumayan pintar”, dan “golput”. Aku tergolong kubu yang kedua, “bokek dan alhamdulillah agak pintar” (heehehe…).  Kami hidup dalam su’udzon. Marah-marahan, gondok-gondokan, kalau ada tugas kami pilih-pilih teman dari kelompok/kubu kami sendiri seperti tidak mau saling berbaur . Yang pasti kami punya ambisi tinggi untuk saling mengalahkan. Sebenarnya, berusaha untk selalu jadi yang terbaik itu tidak ada salahnya, yang salah dari kami adalah menciptakan permusuhan dan ketidaknyamanan di dalam kelas.
Akhirnya,  Bu Jum yang jadi wali kelas kami pun turun tangan. Beliau menceramahi kami semua dan menyuruh kami untuk segera berbaikan. Maka hari itu juga kami berbaikan dan saling memaafkan.
Setelah peristiwa itu, suasana kelas mendadak berubah menjadi jauh lebih nyaman dan bersahabat, sudah cukup empat bulan lebih kami hidup dalam ketidaknyamanan antara satu sama lain.
Singkat cerita , semester satu berakhir dengan sangat baik, dan aku pun mampu menduduki peringkat kedua dari dua puluh orang siswa. Hahaha … Cuma dari dua puluh siswa . Diremehkan orang ? pastinya. Tapi aku selalu membawa diriku dalam keadaan santai dan tenang, karena aku yakin belum tentu orang yang meremehkan orang lain itu bisa lebih baik dari orang yang diremehkannya.
Saat pembagian rapot merupakan sat yang paling mendebarkan, membahagiakan sekaligus menyedihkan. Kenapa kok sedih ? bukan karena nilaiku jelek, tapi aku harus kehilangan dua orang teman sekelasku yang akan pindah sekolah karena ada suatu hal. Jadi semester depan kami  tinggal berdelapan belas.
Berdelapan belas menghadapi rintangan semester empat dan rintangan-rintangan lain yang sudah menanti kami di depan sana.
Memang di kelas sebelas ini kami belum merasakan persatuan dan persahabatan karena adanya persaingan gila-gilaan itu, tapi aku yakin, suatu hari nanti ketika kami berpisah, kami akan saling merindukan.
Kelas sebelas mampu kami lewati dengan baik. Semua belajar keras karena sadar kalau nilai rapor semester tiga dan empat akan sangat membantu nilai ujian nasional nanti.
Maka, kami berdelapan belas dinyatakan “NAIK KELAS” ke kelas XII Bahasa. Untuk semester dua ini, aku
tetap berada di peringkat dua. Alhamdulillah J


Hal yang paling tak dapat dilupakan adalah waktu penyitaan (razia handphone dadakan) di sekolah pada semester satu kelas sebelas. Pagi sebelum aku berangkat ke sekolah aku sudah punya firasat kurang baik bahwa akan terjadi sesuatu hari ini, tapi aku menghiraukan perasaan itu. Kumasukkan handphone bututku itu ke dalam tas. Kemudian berangkatlah aku ke sekolah tanpa beban.
Ternyata aku terlambat lima menit. Semua siswa dari kelas X sampai kelas XII telah berbaris di lapangan. Aku yang takut tertangkap guru piket karena terlambat berlari sekencang yang aku bisa. Masuk kelas, kemudian melempar tas ke sembarang meja dan berlari-lari menuju lapangan untuk bergabung dalam barisan. “Hufftt… selamat” gumamku.
“Begadang kah Jul ?”tanya salah seorang temanku
“Biasaaalah yaa... hehehe” jawabku nyengir-nyengir seperti biasa
“alaah, Ijul mah kalong” ejek temanku
“huuu” sorakku kesal
Matahari pagi mulai terasa semakin terik.
Hampir setengah jam kami dijemur di lapangan untuk mendengarkan wejangan-wejangan dari Ibu Kepala Sekolah. Ditengah-tengah pidato panjang itu, suara siswa-siswa di bagian belakang barisan terdegar riuh rendah. Kemudian menjalar ke bagian tengah barisan.
“eh eh,, mati am aku nah, hapeku di tas.” Kata salah seorang siswa di sampingku dengan mimik wajah panik
“kenapa mbak ?” tanyaku penasaran
“Tuh lihat, guru-guru mulai nyebar masuk kelas. Ada razia dadakan hari ini”
Deg !
Aku kaget mendengarnya. Sial ! handphoneku di tas ! Jantungku berdebar cepat sekali. Aku menyurukkan badanku ke barisan belakang untuk memantau apa yang terjadi.
Tanganku mendadak dingin dan berkeringat. Oh Tuhan ... tamatlah riwayatku.
Pak Hari masuk kelasku dan mulai memeriksa tas siswa satu persatu.
Aku melihat dengan jelas tasku di bongkar, dikorek-korek sampai ke bagian paling dasar. Yap ! dapatlah handphoneku satu-satunya itu...
Tak kupungkiri, air mataku meleleh saat itu. Dengan segenap rasa nekat, aku berlari keluar dari barisan dan mendatangi Pak Hari yang sedang berdiri di depan kelas.
“pak, mohon pak... itu hp saya satu-satunya”
“maaf... diambil waktu pembagian rapor saja” tukasnya sambil berjalan cepat menuju kantor guru.
“huhuhuhu...” isakku
“Sabar Za, sabaarrr” kata temanku menguatkan.
“kalo mamaku tau, aku bisa dimarahin eehhhh” jawabku sesenggukan.
“ya mau gimana lagi. Kamu gak usah bilang aja gin lah” saran temanku
“huhuhuu... hapeku satu-satunya tuu”
***
Setelah pembagian rapor kenaikan kelas, guru BP dan wali kelasku bertanya, “Za, hpmu mau diambil gak?”
“harus orang tua kah Bu yang ngambil ?”
“iya lah”
“gak usah aja bu, disimpan di sekolah aja... hehehe”
“yasudah”
Setiap pembagian rapor, guruku menanyakan hal yang sama dan aku menjawab dengan kata-kata yang sama karena mamaku tidak pernah tahu hal ini.
Hingga aku kelas XII dan hampir tamat, handphone itu tak pernah aku ambil. Namun, saat pembagian ijazah, guru Bpku manawarkan padaku, “hpmu mau diambil gak Za?”
“mau Bu, tapiiii”
“yasudah, ambil sana di kantor BP”
waaaahhh... betapa girangnya aku ... Kuciumi tangan Ibu Novi yang telah berbaik hati padaku.
*bersambung*
SHARE 0 comments

Add your comment

© Alfizza Murdiyono · Designed by Sahabat Hosting