Bagian Satu : Penjurusan

Di bawah terik matahari pagi yang menghangatkan tubuh,tepat pukul Sembilan pagi itu, semua siswa kelas sepuluh yang baru saja dinyatakan naik tingkat-jadi kelas sebelas – berkumpul di lapangan basket depan kantor kepala sekolah.
Mereka tidak bisa diam barang sejenakpun. Menunggu Ibu kapala sekolah menyampaikan pidato itu rasanya mendadak jadi seperti ikan asin yang sedang dijemur di bawah terik yang mulai menyengat-nyengat kulit. Beruntung bagi mereka yang berjilbab dan mengenakan seragam serba panjang, juga bagi mereka yang memiliki badan agak lebih rendah dari teman-teman disekelilingnya karena mereka bisa bernaung di bawah lindungan ka’bah (upss…kok kayak judul novel Hamka yaa?) maksudnya di balik badan temannya …
Setelah sekitar lima belasan menit menanti, keluarlah Sang Ibu kepala sekolah dari kantor . Berpidato blablabla panjang kali lebar kali tinggi sehingga dapatlah volumenya yang inti dari volume itu menyatakan bahwa pembagian jurusan akan diumumkan pukul sepuluh hari itu juga.
Mendengar hal itu, sontak siswa-siswi bersorak dan ada juga yang memasang wajah H2C (harap-harap cemas), karena ia takut masuk jurusan yang tidak sesuai dengan harapannya dan juga harapan kedua orang tuanya.

Karena siswa-siswi mulai tampak gelisah seperti anak cacing kepanasan di tengah lapangan basket, maka datanglah Mr. Dee yang turun tangan mengambil alih microphone lalu bercanda-canda ria gaje –gak jelas- lalu membubarkan barisan.

Finally, waktu yang paling menentukan masa depan kami sebagai siswa-siswi SMA ini tiba juga. Pukul sepuluh pas.
“tess…tess…teesss… Bagi siswa kelas sebelas silahkan datang ke ruang guru untuk melihat daftar pembagian kelas yang ditempelkan di kaca ruang guru sebelah timur” kata suara yang keluar dari sound di depan kelas sementara kami.
Bergegas seluruh siswa menyerbu kantor guru dengan agak brutal alias tidak sabaran. Aku pun begitu, penasaran !
Mencari kertas tempelan dengan judul “KELAS XI BAHASA” tidaklah sulit karena letaknya paling pojok dan juga siswa-siswi lain gak ada yang minat melihat ke kertas itu. Mereka mengerubungi kertas dengan judul “KELAS XI IPA 1 dan 2” maupun “KELAS XI IPS 1, 2, 3”.  Daaaannnn… Waaaaaaw aku masuk kelas Bahasa ! bagiku itu sangat menyenangkan sekaligus membanggakan.
Kemudian aku menyentuhkan jari telunjukku ke kaca yang berdebu tipis itu, menunjuk namaku di absen nomor dua, menelusur terus ke bawah, melihat-lihat siapa saja yang akan jadi teman sekelasku selama dua tahun mendatang. Waw ! agak kaget bercampur keheranan waktu melihat di daftar itu ternyata yang masuk kelas bahasa ada tiga puluh siswa. Kok bisa ? setahuku, peminat kelas Bahasa itu gak akan pernah banyak. Mentok-mentok cuma ada dua puluh siswa. Ehh, tapi, aku gak mau buruk sangka juga sih, bisa jadi mereka memang bener-bener minat masuk jurusan Bahasa itu. Whatever  I don’t care lahsetelah puas melihat-lihat, aku mundur dan menjauh dari kerumunan. Kebanyakan dari mereka sih kecewa karena gagal masuk IPA. Disisi lain juga ada segerombolan anak yang bersorak girang karena masuk IPS, dan tidak sedikit siswa-siswi dari kerumunan itu yang tercengang lalu berkata “haaahhhhh, kok aku masuk Bahasa sih ?” atau “haaahhhh, kok dia masuk jurusan Bahasa ya ?”
Apa yang salah dari jurusan Bahasa ?
kalau aku yang menjawab : “Jelas, TIDAK ADA yang salah”
Tapi aku cukup mengerti, beda kepala maka beda pula isinya, maksudku, beda pula cara berpikirnya, sudut pandang pemikirannya, beda persepsi, yaaah seperti itu lah.

Aku kembali ke depan kelas dengan rona wajah bahagia. Kudapati ketiga sohibku tampak sedang bergembira. Ohh… ternyata mereka bertiga masuk kelas yang sama, Kelas IPS 3. Tentunya kami akan terpisah jarak agak jauh (walaupun gak jauh-jauh amat sih). Baiklah, bukan masalah. Kalau aku mau berkembang, aku harus terpisah dari mereka. Kalau aku mau punya pergaulan yang tambah luas, aku harus mau berdiri sendiri dan survive di tempat lain dalam kondisi dan suasana yang jelas sudah berbeda dengan teman baru yang mungkin ada yang cocok dengan karakter aku dan tentu ada yang bersebrangan dengan karakterku,  hal lumrah, manusiawi.

Aku mendekati mereka bertiga, “Eyyy sayang, congrats yah udah masuk IPS, sekelas pula kalian nih. Senang nian” kataku sambil menggandeng tangan salah satu dari mereka.
“Senang banget, Jah. Tapi ikam kok jauh bujur lah Jah di Bahasa sana. Susah am mun handak main-main kayak orang oon lagi” (mereka selalu memanggil namaku dengan keliru, “Ijah”)
“Iya nah, Ijah jauh am sekarang. Sering-sering main ke kelas kami kena lah Jah” sambung temanku yang lain
dengan santai aku menjawab, “ahhh, bukann masalah berarti. Cuma beda kelas aja kok, bukan berarti kita gak bisa main bareng, jalan bareng, atau bersahabat kek gini lagi to ?! walaupun nanti pasti ada perbedaan yang bakal kita rasakan, yahh begitulah perkembangan. Santai jo…”
setelah bercakap-cakap singkat, kami berjalan ke kantin bersamaan, kemudian memesan soto. Aku dan teman-temanku tadi duduk di pojokan kantin menunggu soto hangat kesukaan kami.
“Eh, si Anu tuh masuk jurusan bahasa loh”
“waiiii, bujur bah kam nih ?”
“he.eh bujuran… kuuyyy, dipamai umaknya am dia tuh kena”
“iya lah, kenapa umaknya bepamai ?
“itu bah, umaknya tuh handak si Anu  masuk IPA brooo, kada tau am lagi si Anu tuhmau kah kadak”
“nilainya kada cukup masuk IPA lok lah, makanya dia masuk Bahasa. Kada mampu apan lok dia tuh di IPA”
Aku menyimak percakapan mereka dengan cukup baik. Dari percakapan tadi aku menyimpulkan bahwa Kelas Bahasa adalah “KELAS BUANGAN” yang nilainya belum mencapai standar masuk IPA ditaruh ke Bahasa. Bahkan ada juga yang mengatakan jurusan Bahasa itu adalah jurusan untuk orang-orang yang ingin jadi guru bahasa.
Sudah cukup banyak suara-suara sumbang yang aku dengar, dan tidak sedikit juga yang memuji kualitas kelas Bahasa, seperti : “kelas Bahasa tuh bagus ya, anak-anaknya gak nakal”, “kelas Bahasa tuh enak kalo belajar, orangnya sedikit , paling sepuluh orang aja satu kelas, jadi proses KBMnya berjalan lancar” yah seperti itu lah kurang lebihnya.
Up to you lah mau berpendapat seperti apa, aku sih sudah yakin masuk Bahasa dan orang tuaku juga sangat mendukung.

Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan berprestasi di kelas Bahasa. Minimal harus masuk lima besar kelas.
Intinya, aku ingin menjalani hidupku dengan caraku sendiri dan direstui orang tuaku. Aku yakin kalau kita menjalankan sesuatu dengan niat dibarengi usaha dan juga restu dari kedua orang tua, pasti enjoy menjalaninya. Tidak mudah digoyahkan hanya karena spekulasi negatif orang-orang yang tidak mengerti !
SHARE 0 comments

Add your comment

© Alfizza Murdiyono · Designed by Sahabat Hosting