Penduduk asli Aceh adalah suku Bante. Dalam buku Aceh Sepanjang Abad yang ditulis oleh Mohammad Said disebutkan bahwa suku ini serumpun dengan penduduk asli semenanjung Malaysia yaitu Orang Asli. Bahasa Orang Asli termasuk dalam kelompok bahasa Mon-Khmer yaitu salah satu cabang dari rumpun bahasa Austro-Asia. Termasuk juga dalam bahasa Mon-Khmer adalah bahasa penduduk Kepulauan Nikobar di utara Pulau Weh yang kini bagian dari negara India. Namun demikian bahasa Aceh tidak termasuk dalam kelompok bahasa Mon-Khmer, tetapi termasuk dalam kelompok bahasa Aceh-Cam yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Austronesia.
Ada hal yang menarik dari hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti asing yaitu Paul Sidwell. Ia menemukan bahwa ada banyak kata-kata dalam bahasa Aceh yang seakar dengan kata-kata bahasa Mon-Khmer tetapi kata-kata ini tidak dijumpai dalam kelompok bahasa Cam. Nah, yang menjadi pertanyaan, dari manakah kata-kata ini berasal???


Menurut saya kata-kata ini berasal dari bahasa Bante yang merupakan penduduk asli Aceh. Seiring dengan pengaruh bahasa Aceh yang kuat, orang-orang Bante mulai meninggalkan bahasanya dan beralih menjadi penutur bahasa Aceh. Dalam proses peralihan inilah bahasa Bante meninggalkan jejaknya dalam bahasa Aceh. Masih bisakah jejak-jejak ini kita telusuri kembali. Saya yakin sangat bisa.
Dalam sebuah kesempatan, saya bertanya mengenai suku Bante pada salah seorang tokoh masyarakat dari Seulimeum yaitu Bapak H. Zainal Abidin atau sering dipanggil Yah Cek. Beliau mengatakan bahwa beliau mengetahui ada 8 buah kata yang berasal dari bahasa Bante. Namun sayangnya karena usia beliau yang sudah tua (hampir 80 tahun), beliau hanya bisa mengingat 3 kata saja yaitu:


• rhak = naik (bandingkan dengan kata “├ęk” yang seakar dengan kata bahasa Melayu yaitu “naik”)
• lok-lok = ?. Sukar dicari padanannya dalam bahasa Melayu, tetapi lebih kurang artinya adalah menerobos.
• khop-khop = makan (untuk anjing)

Dari penemuan yang sangat berharga ini, saya sangat yakin bahwa kita masih sangat bisa menelusuri kata-kata lainnya.
Majalah Aceh Point dalam edisi perdananya (Februari 2008) telah membahas mengenai suku Bante ini. Salah seorang narasumbernya adalah Abdul Syafi’i yang dikenal dengan panggilan Cik Alu dari kampung Jalin yang telah berusia hampir 100 tahun. Beliau merupakan salah seorang penduduk yang pernah mendiami wilayah Seumileuek di pedalaman Jantho yang merupakan kampung terakhir suku Bante. Penduduk wilayah Seumileuek pada akhirnya dipindahkan oleh Belanda ke Jalin pada tahun 1942. Dari pengakuan beliau sendiri, beliau mengatakan bahwa di desa Jalin ini masih ada keturunan suku Bante tapi mereka tidak menyadarinya lagi.
Tetapi sayangnya Majalah Aceh Point tidak sampai pada tahap meneliti bahasa Bante ini. Nah, siapa yang tertarik untuk meneliti???
Lihat pula tulisan saya: Suku Bante/Mante Penduduk Asli Aceh.
Catatan:
* Saya tidak memakai kata Mante, karena ketika saya menanyakannya pada salah seorang orang tua di kampung Seulimeum yaitu Ibrahim yang sudah berusia 80 tahun lebih, beliau bingung. Setelah saya menjelaskan maksud pertanyaan saya, barulah beliau paham. Beliau lalu menyebutkan bahwa kata yang benar adalah BANTE. Informasi yang saya peroleh dari beliau bahwa tahun 1940-an orang Bante ini semuanya sudah menjadi orang kota. Mungkin hal ini dikaitkan dengan tindakan Belanda yang memindahkan penduduk Seumileuek ke Jalin pada tahun 1942.
* Tulisan Paul Sidwell yang saya maksud adalah “Acehnese and the Aceh-Chamic Language Family” dan “Dating the separation of Acehnese and Chamic by etymological analysis of the Aceh-Chamic lexicon”

SHARE 0 comments

Add your comment

© Alfizza Murdiyono · Designed by Sahabat Hosting