"Dukun Jawa"

in , by nyakizza.blogspot.com, 11.08
Sugeng Siang,
Kulo ajeng carios sekedhik dumateng panjenengan sedoyo,

Kemarin siang, saat saya berkunjung di perpustakaan jurusan saya yaitu Sosiologi dan Antropologi, saya duduk di pojok ruangan dekat air conditioner. Ketika saya melihat-lihat kesekeliling tempat saya duduk, saya menemukan sebuah buku dengan sampul berwarna kuning dan bergambar abstrak yang berjudul "Dukun Jawa". Buku tersebut ditulis oleh seorang Doktor yang menggeluti bidang sastra Jawa dan telah banyak berkarya dalam bidang yang sastra, sejarah, buku-buku pelajaran sekolah, fisafat, dan cerita-cerita yang bersangkutan dengan epik yang berkembang luas dalam kehidupan masyarakat Jawa, yang bernama Dr. Purwadi, M. Hum.
Saya amat tertarik dengan isi buku tersebut yang memuat banyak hal mengenai praktik perdukunan di Jawa dan mantra-mantra berbahasa Jawa, juga wejangan-wejangan dukun yang senantiasa menjadi pertimbangan utama orang Jawa di dalam memutuskan suatu perkara yang sangat penting.

Kita sadari maupun tidak, kepercayaan orang Jawa kepada dukun begitu tinggi, karena kualitas kepribadiannya yang sudah putus ing reh saniskara. Dukun biasanya suka laku prihatin, cegah dhahar lawan guling, mengurangi makan dan tidur, sehingga bisa menguasai kasar alusing rasa, unggah ungguhing basa, jugar genturing tapa. Sedapat mungkin dukun akanmenghindari keramaian duniawi. Dukun lantas sedhakep saluku juga, hamepes babahan hawa sanga yang berarti mengheningkan diri demi mencapai kebenaran sejati.

Mistik perdukunan Jawa sudah mengakar di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Baik mereka yang tinggal di perkotaan, pedesaan, atau pegunungan akrab sekali dengan dunia mistik.
Timbulnya ilmu perdukunan disebabkan karena sebagian besar orang Jawa butuh mencari hakikat alam semesta, intisari kehidupan dan hakikat Tuhan.
Sosiolog Selo Soemardjan (1974), berpendapat bahwa orang Jawa pada umumnya cenderung untuk mencari keselarasan dengan lingkungan dan hati nuraninya, yang sering dilakukan dengan cara-cara metafisik. Orang Jawa sering melakukan tapa brata dan tapa lelaku untuk mencapai kesempurnaan hidupnya.
Tapa brata dan tapa lelaku ini sering dilakukan oleh para penganut kebatinan kejawen. Gerakan-gerakan kebatinan yang jumlahnya demikian besar, merupakan suatu kesadaran akan budaya kejawen, dan bahwa "...at least part of the Abangan cultural awekaning has been brough about by the vehement pursuit of organized Islam to push its views and ways of life upon the syncretism nojority of the Javanese population." (Niels Mulder, 1975).



Bertambah cepatnya perubahan-perubahan sosial budaya yang telah terjadi selama jangka waktu masa peralihan, penderitaan yang luar biasa, kemiskinan dan keresahan yang diderita oleh penduduk selama Perang Pasifik selama zaman Jepang dan selama zaman revolusi, demikian pula keadaan yang tidak menentu selama dasawarsa pertama setelah kemerdekaan menjadi sebab makin banyaknya timbul berbagai gerakan kebatinan di Jawa. Gerakan mistik dianggapnya merupakan tema pokok dalam kebanyakan derakan kebatinan di Jawa. Hal itu tentu saja tidak benar, M. M. Djojodigoeno, misalnya telah menyatakan adanya paling sedikit empat macam gerakan kebatinan di Jawa, yaitu :
1). Yang berpokok pada mistik
2). Yang berpokok pada teosofi
3). Gerakan-gerakan moralistik dan etik yang berpokok pada pemurnian jiwa, dan
4). Gerakan-gerakan yang berpokok pada praktik-praktik ilmu gaib dan ilmu dukun (Subgya, 1970)
Penulis buku "Dukun Jawa" ini pun menambahkan satu macam gerakan kebatinan lain, yaitu gerakan-gerakan Ratu Adil. Semua itu, kecuali jenis gerakan kebatinan yang berpokok pada teosofi. (Purwadi, 2004)

Sartono Kartodirdjo (1973) di dalam bukunya Protest Movements in Rural Java telah membuat suatu iktisar singkat tetapi sangat baik dan komprehensif mengenai gerakan-gerakan Ratu Adil di daerah pedesaan Jawa.
Menurut Sartono, gerakan mesianik muncul tidak untuk melarikan diri dari kenyataan hidup akan tetapi sifatnya yang sinkretis menyebabkan bahwa sukar untuk membedakan dengan jelas antara gerakan seperti itu dengan gerakan-gerakan keagamaan lainnya. Banyak dari gerakan mesianik timbul dalam suatu suasana sosial budaya, dimana penduduk pedesaan tidak puas dengan eksploitsi ekonomi yang dilakukan terhadap mereka, serta tekanan-tekanan administratif yang dikenakan kepada mereka oleh pemerintah kolonial setempat, dan dimana rusaknya tradisi sebagai akibat dari perubahan kebudayaan yang berlangsung terlalu cepat itu telah menyebabkan tidak puasnya mereka (Koentjaraningrat, 1986).

Dalam kebanyakan kasus gerakan mesianik, seorang pemimpin kharismatik yang telah memiliki kekuatan ghaib untuk dapat menyembuhkan dan yang dianggap telah menerima panggilan untuk melakukan gerakan mesianik, mampu menghimpun suatu jumlah penganut yang lumayan banyaknya.
Sifat dari hampir semua gerakan mesianik Jawa pada umumnya adalah untuk berusaha kembali ke kebudayaan dan tradisi nenek moyang itu. Karena tradisi seperti itu sering dianggap telah dilanggar oleh orang-orang yang berpikiran menurut zaman masa kini, yang terpengaruh oleh pendidikan Belanda dan kebudayaan masing-masing dan juga oleh para pegawai pemerintah setempat yang mendapat tekanan dari pemerintah kolonial, maka keinginan utama, atau harapan yang tetap dikobarkan dengan ritus-ritus dalam gerakan-gerakan mesianik Jawa itu adalah kebangkitan kembali dari kebudayaan tradisional nenek moyang dan didirikannya kembali suatu kerajaan yang dipimpin oleh seorang Ratu Adil.

Kebanyakan gerakan kebatinan di Jawa merupakan gerakan lokal saja, dengan anggota yang terbatas jumlahnya, yakni tidak lebih dari 200 orang. Gerakan seperti itu secara resmi disebut "aliran kecil" seperti Ilmu Kebatinan Kasunyatan di Yogya, Ilmu Sejati dari Madiun, dan Trimurti Naluri Majapahit dari Mojokerto.

Lelaku dukun Kejawen berorientasi pada kehidupan spiritual yang berlandaskan pada nilai-nilai agama Islam yang sudah disesuaikan dengan mistik Jawa. Perapaduan antara mistik Jawa dengan agama Islam seringkali dapat ditemukan di kawasan pesantren. Ada gerakan-gerakan yang berorientasi pada kerohanian, yang beranggotakan orang-orang santri.
Menurut pandangan ilmu mistik kebatinan orang Jawa, kehidupan manusia merupakan bagian dari alam semesta yang abadi, di mana manusiaitu seakan-akan "hanya berhenti sebentar untuk minum" (gesang punika namung mampir ngombe) dalam menjalani suatu perjalanan yang tiada henti-hentinya, untuk mencari tujuan akhirnya, yaitu bersatu dengan Sang Pencipta.
Kemampuan untuk membebaskan diri dari dunia kebendaan dan kehidupan duniawi juga melibatkan sikap narima, yaitu sikap menerima nasib, dan sikap sabar, yang berarti sikap menerima nasib dengan rela. Kemampuan untuk memiliki sikap-sikap semacam itu dapat diperoleh dengan hidup sederhana dalam arti yang sesungguhnya, hidup bersih, tetapi juga dengan jalan melakukan berbagai kegiatan uapcara yang dapat meningkatkan kemampuan untuk berkonsentrasi dengan jalan pengendalian diri, dan melakukan berbagai latihan samadi. Melalui latihan bersamadi diharapkan agar orang dapat membebaskan dirinya dari keadaan di sekitarnya, yaitu menghentikan segala fungsi tubuh dan keinginan serta nafsu jasmaniahnya. Hal ini dapat memberikan keheningan pikiran, dan membuatnya mengerti dan menghayati hakikat hidup serta keselarasan antara kehidupan rohaniah dan jasmaniah.
Apabila orang sudah melalui beberapa tahun berikutnya, pada suatu saat akan dapat bersatu dengan Tuhan (jambuhing kawulo Gusti, atau manunggaling kawula Gusti).


sebenarnya masih banyak  hal yang ingin saya bagi dari hasil bacaan saya,
tetapi akan saya kuak lebih banyak lagi pada pertemuan mendatang . . .
terimakasih banyak  telah meluangkan waktu membaca tulisan pada blog saya
sesungguhnya tulisan ini murni kutipan dari buku "Dukun Jawa" Dr . Purwadi, M. Hum
jika ingin mengeluarkan tanggapan, silahkan meninggalkan komentar ..
sampai jumpa..
matur suwun :)
SHARE 0 comments

Add your comment

© Alfizza Murdiyono · Designed by Sahabat Hosting