SISTEM KEKERABATAN DALAM SUKU BUGIS-MAKASSAR

in , by nyakizza.blogspot.com, 22.04

SISTEM KEKERABATAN DALAM SUKU BUGIS-MAKASSAR


Suku bangsa Bugis-Makassar adalah suku bangsa yang mendiami bagian terbesar dari jazirah selatan dari pulau Sulawesi. Orang Bugis juga sering disebut orang Ugi. Sistem kekerabatan masyarakat Bugis disebut dengan assiajingeng  yang tergolong bilateral atau lebih tepat parental, yaitu sistem kekerabatan yang mengikuti lingkungan pergaulan hidup dari ayah maupun dari pihak ibu atau garis keturunan berdasarkan kedua orang tua. Hubungan kekerabatan ini menjadi sangat luas disebabkan karena, selain ia menjadi anggota keluarga ibu, ia juga menjadi anggota keluarga dari pihak ayah.
Hubungan kekerabatan dihitung melalui dua jalur, yaitu hubungan kerabat sedarah (consanguinity) yang disebut seajing (réppé maréppé) atau sampunglolo, dan hubungan kerabat karena perkawinan (affinal) yang disebut siteppa-teppa (siteppang maréppé ). Kerabat seajing amat besar peranannya dalam kehidupan sehari-hari, selain berkewajiban mengurus masalah perkawinan dan kekerabatan. Anggota keluarga dekat inilah yang menjadi to masiri’ (orang yang malu) bila anggota keluarga perempuan nilariang (dibawa lari oleh orang lain) dan mereka berkewajiban membela dan mempertahankan sirik atau siri, yaitu martabat atau harga diri keluarga luas tersebut. Sementara keluarga siteppa-teppa baru berperan banyak apabila keluarga luas tersebut mengadakan upacara-upacara seputar lingkaran hidup, seperti upacara perkawinan, kelahiran, kematian, mendirikan rumah baru, dan sebagainya.

Adapun anggota keluarga yang tergolong seajing (réppé maréppé) yaitu:
  1. Iyya, Saya (yang bersangkutan)
  2. Indo’ (ibu kandung iyya)
  3. Ambo’ (ayah kandung iyya)
  4. Nene’ (nenek kandung Iyya baik dari pihak ibu maupun dari ayah
  5. Lato’ (kakek kandung Iyya baik dari ibu maupun dari ayah)
  6. Silisureng makkunrai (saudara kandung perempuan Iyya )
  7. Silisureng woroané (saudara laki-laki iyya)
  8. Ana’ (anak kandung iyya)
  9. Anauré (keponakan kandung iyya)
  10. Amauré (paman kandung iyya)
  11. Eppo (cucu kandung iyya)
  12. Inauré / amauré makkunrai (bibi kandung iyya)
Sedangkan anggota keluarga yang termasuk siteppa-teppa (siteppang maréppé) yaitu :
  1. Baine atau indo’ ‘ana’na (istri iyya)
  2. Matua riale’ (ibu ayah/ kandung istri)
  3. Ipa woroané (saudara laki-laki istri iyya)
  4. Ipa makkunrai (saudara kandung perempuan istri iyya)
  5. Baiseng (ibu / ayah kandung dari isteri / suami)
  6. Manéttu riale’ (menantu, istri atau suami dari anak kandung iyya).
Konsep Siri’ dan Pesse itu sebenarnya pranata pertahanan diri (malu atau harga diri) dan kepedulian, dalam konteks hubungan sosial, antara dua orang, antar keluarga dan kerabat, dan dalam interaksi sosial dalam masyarakat. Dalam konteks sosial itulah, diatur siapa - siapa yang berada dalam posisi tomasiri’ atau nipakasiriki (Makassar) dalam keluarga dan kerabat. Dalam sistem kekerabatan (Bugis : Asseajingeng, Makassar : Bija Pammanakang) dikenal réppé maréppé (ada 12 bagian), harus ada siri pada keluarga dekat dan siteppang mareppe (ada 6 bagian). Hal ini juga menyangkut pada pengaturan siapa dan bagaimana seharusnya pantas atau tidak pantas orang yang dikawini dalam siklus kekerabatan.
Dalam hubungan siri’, semua orang yang masuk dalam lingkaran kekerabatan bisa saling ‘sipassiriki’ (saling memiliki rasa malu dan segan) terhadap satu sama lain, bisa terkait dengan sifat dan kelakukan, ketauladanan, etos kerja, dan lain sebagainya, baik yang bersifat masalah pribadi, keluarga maupun dalam lingkup sosial. Seseorang hanya dapat dipandang dalam lingkungan kerabat dan masyarakatnya jika ia menanamkan dan memegang nilai - nilai moral, prinsip adat serta keteguhan dalam memperjuangkan sesuatu. Semua itu bisa dicapai jika kita memiliki siri’ dan dipassiriki’, dalam konteks sosial, memiliki kepedulian (pace/pesse’) terhadap siapa saja yang berada di lingkungannya dimana semuanya dipandang kerabat dan diperlakukan layaknya kerabat.

Dalam hal mencari jodoh dalam kalangan masyarakat desanya sendiri, adat Bugis-Makassar menetapkan beberapa bentuk perkawinan yang ideal, sebagai berikut;
1.      Perkawinan yang disebut assialang marola (atau passialleang baji’na dalam bahasa Makassar) ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kesatu baik dari pihak ayah maupun ibu,
2.      Perkawinan antara ripaddeppe’ mabelae (atau nipakambani bellaya dalam bahasa Makassar) ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat ketiga juga dari kedua belah pihak.
Perkawinan antara saudara-saudara sepupu tersebut, walaupun dianggap ideal, bukan menjadi suatu hal yang diwajibkan, sehingga banyak pemuda dapat saja kawin dengan gadis-gadis yang bukan saudara-saudara sepupunya. Adapun perkawinan-perkawinan yang dilarang karena dianggap sumbang (salimara’) adalah:
1.      perkawinan antara anak dengan ibu atau ayah,
2.      antara saudara-saudara sekandung,
3.      antara mantu dan mertua,
4.      antara paman atau bibi dengan kemenakannya,
5.      antara kakek atau nenek dengan cucunya
Perkawinan yang dilangsungkan secara adat melalui deretan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1.      Mapucce-puce (akkuisissing dalam bahasa Makassar), ialah kunjungan dari keluarga si laki-laki kepada keluarga si gadis untuk memeriksa kemungkinan apakah peminangan dapat dilakukan. Kalau kemungkinan itu tampak ada, maka peminangan diadakan.
2.      Massuro (assuro dalam bahasa Makassar), yang merupakan kunjungan dari utusan pihak keluarga laki-laki kepada keluarga si gadis untuk membicarakan waktu pernikahan, jenis sunreng atau mas-kawinnya, balanja atau belanja perkawinan, penyelenggaraan pestanya, dan sebagainya. Setelah mencapai kesepakatan, maka masing-masing keluarga melakukan madduppa
3.      Madduppa (ammuntuli dalam bahasa Makassar), ialah pemberitahuan kepada semua kaum kerabat mengenai perkawinan yang akan datang.
Hari perkawinan dimulai dengan mappaenre’ balanja (appanai leko’ dalam bahasa Makassar), ialah prosesi dari mempelai laki-laki disertai rombongan dari kaum kerabatnya pria-wanita, tua-muda, dengan membawa macam-macam makanan, pakaian wanita, maskawin. Sesampainya di rumah mempelai wanita maka akan dilangsungkan upacara pernikahan, yang dilanjutkan dengan pesta perkawinan atau aggaukeng (pa’gaukang dalam bahasa Makassar). Pada pesta itu, para tamu yang di luar diundang memberi kado-kado atau uang sebagai sumbangan (soloreng)(1).
Beberapa hari sesudah hari pernikahan, pengantin baru mengunjungi keluarga dari pihak suami dan tinggal beberapa lama di sana. Dalam kunjungan itu, istri baru harus membawa pemberian-pemberian untuk semua anggota keluarga suami. Kemudian ada kunjungan ke keluarga istri, juga dengan pemberian-pemberian untuk semua anggota keluarga istri. Pengantin baru juga harus tinggal beberapa lama di rumah keluarga itu. Barulah setelahnya mereka dapat menempati rumah mereka sendiri sebagai nalaoanni alena (naentengammi kalenna dalam bahasa Makassar). Hal itu berarti bahwa mereka sudah membentuk rumah-tangga sendiri.
Perkawinan yang tidak dilakukan menurut adat yang terurai di atas disebut silariang. Dalam hal itu, si laki-laki membawa lari si gadis yang hendak dinikahinya. Kawin lari semacam ini biasanya terjadi karena pinangan dari pihak laki-laki ditolak, atau karena belanja perkawinan yang ditentukan oleh keluarga si gadis terlampaui tinggi. Hal yang terakhir ini sebenarnya juga suatu penolakan pinangan secara halus.
Para kerabat si gadis yang mengejar kedua pelarian itu disebut tomasiri’ dan kalau mereka berhasil menemukan para pelarian, maka ada kemungkinan bahwa si laki-laki akan dibunuh. Dalam keadaan bersembunyi, yang biasanya berlangsung berbulan-bulan lamanya, si laki-laki kemudian akan berusaha mencari perlindungan pada seorang terkemuka dalam masyarakat. Kalau pemuka masyarakat ini sudi, ia akan mempergunakan kewibawaannya untuk meredakan kemarahan dari kaum kerabat si gadis dan menyarankan mereka untuk menerima baik kembali kedua mempelai baru itu sebagai kerabat. Kalau memang ada tanda-tanda kerabat si gadis itu mau menerima mereka kembali, maka keluarga si laki-laki akan mengambil inisiatif untuk mengunjungi keluarga si gadis. Penerimaan pihak keluarga si gadis untuk berbaik kembali disebut dalam bahasa Bugis, maddeceng, atau abbadji dalam bahasa Makassar.
Penyebab kawin lari ini biasanya tidak terjadi karena sompa (Bugis) atau sunrang (Makassar) ialah maskawin yang tinggi, melainkan karena belanja perkawinan yang tinggi. Sompa atau sunrang itu besar kecilnya disesuaikan dengan derajat sosial dari gadis yang dipinang dan dihitung dalam nilai rella (= real) ialah nominal Rp 2,-. Mas kawin yang diberi nilai nominal menurut jumlah rella tertentu dapat saja terdiri atas sawah, kebun, keris pusaka, perahu dan sebagainya yang semuanya punya makna penting dalam adat perkawinan di suku Bugis-Makassar.











Keterangan lanjutan :
(1)       Soloreng.
Pada zaman dahulu, soloreng itu berbentuk sawah, kebun, tau ternak yang berasal dari pihak paman (keluarga dekat dari kedua mempelai). Upacara memberi soloreng itu bisa bersifat perlombaan beri-memberi antara kedua belah pihak. Apabila misalnya dalam upacara adat itu salah seorang paman memberi pengumuman, bahwa untuk kemenakan perempuannya yang kawin itu ia akan memberikan sepetak sawah, maka dari pihak kerabat mempelai laki-laki akan malu kalau tidak ada seorang di antara mereka yang mengumumkan pemberian kepada kemenakannya yang melebihi soloreng dari pihak kaum kerabat mempelai perempuan. Persaingan serupa itu bisa menjadi suatu hubungan tegang antara kedua belah pihak yang bisa berlangsung terus, lama sesudah upacara perkawinan tersebut.
SHARE 0 comments

Add your comment

© Alfizza Murdiyono · Designed by Sahabat Hosting