Hai, sudah cukup lama rasanya kita tidak bersua. Ya, mohon maaf, karena belakangan ini saya terlalu sibuk untuk hal-hal yang harus mendapat perhatian lebih dari saya. Saya harus memperhatikan materi perkuliahan saya, kemudian tugas yang datang seperti jerawat, hilang satu, eehhh tumbuhnya banyak yaa, sakit pula, hehehe dan saya harus melakukan observasi lapangan kesana-kemari.
Overall, saya harus harus wajib mencintai apa yang saya lakukan seperti wujud cinta dosen saya kepada mahasiswanya yang disimbolkan melalui tugas ;)
Pada kesempatan yang agak langka ini, saya ingin sekali berbagi cerita tentang pengalaman saya beberapa bulan yang lalu ketika saya harus masuk dan berbaur dalam suatu komunitas adat yang tak pernah saya ketahui sebelumnya.

Pengalaman ini benar-benar baru bagi saya dan mungkin juga sebagian teman saya lainnya.
Yap. Sebuah catatan etnografi yang saya tulis secara telaten selama berada di tempat nun jauh di pedalaman Kalimantan Barat.



Landau , merupakan yang tak pernah saya bayangkan bagaimana wujud tempatnya. Mendengar kata Landau saja baru saat saya dan teman-teman tim ekspedisi sungai Boyan duduk dalam satu ruangan pada salah satu ruang kelas jurusan antropologi budaya, UGM.
Dalam peta yang berskala 1 : 1.750.000 yang ayah belikan di Gramedia Bookstore sebagai hadiah karena saya akan mengikuti program ekspedisi tersebut, saya tidak menemukan tempat yang bernama Landau.
Namun, saya dapat menemukan nama Landau justru dari peta yang di buat oleh teman-teman antro budaya dari hasil foto satelit.
Landau merupakan sebuah nama kampung di kecamatan Melawi Makmur, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Lokasinya cukup jauh dari peradaban kota yang sibuk, berpolusi dan panas. Saya tidak tahu pasti berapa jarak antara kota kecamatan Meliau yang dilalui jalan trans Kalimantan Barat dengan pasarnya yang cukup ramai serta terletak tepat di pinggir sungai Kapuas. Jarak Landau menuju kota kecamatan Meliau kira-kira sekitar 3,5 sampai dengan 4 jam dengan menggunakan sepeda motor.

Nah, di Landau ini, saya punya serentetan cerita yang menarik bagi saya, mungkin juga bagi anda yang tertarik membaca.
Penasaran? Yuk mulai membaca. saya akan selalu menemani anda dalam setiap kalimat yang anda baca *hohoooow


PERJALAN PANJANG

Sabtu, 6 July 2013

            Saya bangun pagi pada hari sabtu tanggal enam Juli 2013 pukul empat dini hari. Saya bergegas mandi dan mempersiapkan packing terakhir hingga pukul lima pagi. Ketika saya sudah siap. Saya masih merasa mengantuk dan tertidur lagi di atas kasur empuk teman saya, Tessa. Pada pukul enam pagi, handphone saya bergetar heboh dan saya terbangun kemudian bergegas menjawab telepon.
“Assalammualaikum”, kataku
“Waalaikumsalam, izza. Za, mbak dan teman-teman on the way jemput kamu. Kamu dimana?” kata mbak niah dari seberang
“Oalah mbak, cepat ya… Izza di kos teman jalan Pringgodani 10, samping alfamart  dekat Universitas Sanatha Dharma”
“ok za, tunggu depan kos ya. Kami segera tiba.”
            Segera saya menutup telepon dan bersiap ke depan. Namun, belum ada lima menit, taxi yang menemput saya tiba. Kami menuju bandara.
            Sekitar pukul tujuh kurang dua puluh menit, kami telah sampai di bandara Adisutjipta, Yogyakarta. Sehari sebelumnya, kami dan tim dari UGM dan Jerman telah berjanji akan bertemu di depan KFC dalam bandara pada pukul tujuh. Namun, mereka datang terlambat. Saya dan Sembilan orang teman saya yang dari Unnes, yaitu ada Kak Tegar, Mbak Niah, Mas Marzuqo, Mbak Yurizka, Mas Zulfikar, Mbak Intan, Mas Imron, Mbak Dyah dan Kanita telah berkumpul sambil memakan roti yang kami bawa untuk sarapan pagi itu. Saya membeli beberapa barang, seperti buku ‘monyet’, bolpen, air mineral, dan roti-roti di minimarket bandara. Buku ‘monyet’ merupakan sebuah buku kecil atau buku note yang akan saya pergunakan untuk mencatat data-data lapangan yang saya dapat. Mas Pudjo sebenarnya menyarankan kepada saya dan kawan-kawan untuk menulis menggunakan pensil, tetapi saya memilih memakai bolpen saja agar tulisannya jelas di mata saya.
            Tidak lama kemudian, datanglah salah seorang teman kami, mahasiswa semester atas dari UGM yang bernama mas Azam. Saat itu, saya masih duduk di pinggi jalan untuk melanjutkan mengetik tugas teori antropologi saya yang belum selesai sambil makan roti. Namun, tak lama kemudian mas Azam mengajak saya dan teman-teman berpindah ke dekat pintu masuk ruang check in bandara. Tak jauh dari pintu masuk ruang check in itulah kami bertemu dengan sekelompok teman-teman dari UGM dan Jerman yang sudah ramai. Mereka membawa luggage atau carier bag yang tinggi-tinggi. Ada beberapa anak yang diantar oleh orang tuanya, ada juga yang diantar oleh kekasihnya, sementara yang lain diantar oleh teman-temannya. Sejenak sebelum check in saya menyempatkan diri untuk mengerjakan tugas teori antropologi saya yang harus segera saya selesaikan. Sekitar pukul tujuh lebih, saya dan teman-teman diajak masuk ke ruang check in. Di dalam ruang check in tersebut, saya dan teman-teman kembali berkumpul, kemudian saya melanjutkan mengetik tugas saya lagi. Untung saja saat itu pemikiran saya sedang bisa diandalkan meskipun dalam keadaan darurat. Di dalam ruang check in kami menunggu pendataan barang bagasi selama kurang lebih pukul setengah sembilan. Setelah mendapatkan airtax dan kartu nomor duduk dari bandara, kami dipersilahkan masuk ke dalam ruang tunggu keberangkatan. Saya duduk di salah satu kursi, kemudian kembali melanjutkan tugas sayayang belum selesai. Pukul setengah sebelas siang pesawat kami datang. Saya tetap menunggu di bangku ruang tunggu keberangkatan sambil mengerjakan tugas hingga datang panggilan untuk masuk ke pesawat. Pukul sebelas kurang, kami memasuki pesawat. Pesawat lepas landas pada pukul sebelas siang.
            Pesawat Express Air yang kami tumpangi terbang di langit atas Pulau Jawa, kemudian melintasi selat Jawa dan kemudian terbang di atas Pulau Kalimantan. Satu setengah jam kemudian sampailah kami di Bandara Supadio Pontianak. Begitu turun dari pesawat, saya bergegas jalan menuju bis yang mengangkut penumpang yang turun menuju terminal kedatangan bandara.
            Udara di luar pesawat sangatlah panas. Cahaya matahari yang silau di mata dan menyengat-nyengat kulit. Begitulah keadaan yang lumrah di daerah yang dilintasi oleh garis khayal khatulistiwa.
            Pukul setengah satu lebih lima menit, saya sudah berada di dalam bandara dan segera menuju tempat mengambil bagasi. Menunggu bagasi sangatlah lama. Oleh karena itu, saya memilih untuk pergi ke kamar kecil dan mencuci muka di wastafel. Toilet di bandara Supadio lumayan bersih dan terang. Ada lima pintu wc lengkap dengan wc duduknya yang bersih. Keramik toilet berwarna crème. Di ruang tersebut terdapat kaca besar yang menyatu dengan wastafel yang digunakan pengunjung untuk bercermin dan juga sangat bersih. Setelah buang air kecil, saya meninggalkan toilet menuju pengambilan bagasi dan mengantre disana. Tak lama, tas ransel saya yeng berisi pakaian sekitar lima potong, jilbab tiga lembar, celana bahan satu lembar, kopi Jawa empat bungkus, ada handuk juga, kemudian ada dalaman saya yang jumlahnya tidak banyak. Namun anehnya, tas ransel saya begitu berat sehingga saya memasukkan ransel tersebut ke bagasi.
            Setelah mendapati tas saya dan menggendongnya, saya keluar ruang kedatangan tersebut. Di luar, sudah ada satu truck berwarna biru milik TNI AU Bandara Supadio. Teman-teman saya yang laki-laki sibuk menaikkan luggage milik anggota yang lain. Saya pun meminta tolong teman saya untuk menaikkan tas r.ansel saya tadi yang sudah saya isikan laptop sehingga tas tersebut harus berada di atas agar tidak terhimpit tas lain. Setelah semua tas dinaikkan ke atas truck TNI tersebut, Mas Pudjo menawarkan kami untuk ikut naik truck dan sebagian lainnya jalan kaki menuju pelabuhan speedboat dan klotok. Saya lebih memilih ikut naik truck dari pada jalan kaki, karena kalau jalan kaki agak jauh dan capek, ditambah lagi panas yang melemahkan tubuh.
            Sepuluh menit kemudian kami yang menumpang truck sudah sampai di tepian sungai Kapuas. Di sana ada beberapa warung warga yang menjual makanan berat dan makanan ringan. Di warung yang paling pinggir (dekat sungai) menjual nasi lengkap dengan lauk-pauknya seperti gulai, semur, sayuran di oseng, di sop dan sebagainya. Turun dari truck, saya ikut membantu mas Zuqo, Mas Fikar, Ogir, Bang Ardan menurunkan barang-barang ke depan warung makan tadi. Setelah itu, saya duduk-duduk menunggu teman-teman yang lain di depan warung makan sambil menikmati sebotol air mineral. Tak lama kemudian, datanglah rombongan teman-teman saya yang berjalan kaki dari bandara tadi. Tak tampak raut lelah dari mereka, yang tampak adalah wajah-wajah ceria. Mas Pudjo sebagai pemimpin rombongan telah datang dan langsung menyuruh kami makan siang di warung atau menunggu nasi bungkus. Saya membeli sebotol air mineral lagi dan mengambil sebungkus nasi jatah makan siang saya. Saya makan di bawah terik matahari di tepi sungai Kapuas bersama partner saya, Vega, Asti, dan Gloria. Kami mengobrol dan bercanda sambil menyantap lahap suap demi suap nasi.
            Setelah makan siang, saya pergi ke masjid yang letaknya tak jauh dari tepi sungai. Masjid Desa Sungai Durian namanya. Masjid tersebut masih dalam tahap pembangunan. Dindingnya masih belum di cat, baru saja di plaster. Saat tiba disana, saya menjumpai dua orang bapak yang sedang duduk santai sambil merokok dan minum kopi di beranda masjid. Saya meminta izin untung men-charge laptop dan handphone. Kedua bapak tersebut mempersilahkan saya. Mereka sangat ramah. Saya dibantu untuk mencolokkan kabel laptop ke terminal atau stop kontak listrik disana. Di masjid itu saya kembali melanjutkan tugas teori antropologi saya yang belum selesai juga. Namun, karena kepala saya sudah pusing, saya mengerjakan tugas tidak terlalu konsentrasi dan hasilnya pekerjaan saya kurang baik. Akhirnya, saya membeli paket internet untuk handphone saya. Saya mengirimkan tugas teori antropologi dan kajian etnografi saya melalui email kepada Pak Bayu, dosen saya. Untung saja, Pak Bayu mau menerima tugas saya itu.
            Usai mengerjakan tugas, saya membawa sabun wajah ke kamar mandi di masjid. Disana saya mencuci muka dan kaki saya. Kemudian saya melakukan sholat dzuhur dan sholat ashar.
            Waktu itu pukul setengah tiga siang. Saya diajak teman saya kembali ke pinggir sungai dan bergabung dengan teman-teman. Saya pergi ke pinggir sungai bersama Mas Imron yang kebetulan saat itu baru selesai sholat.

            Sesampainya di sungai, teman-teman saya sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, seperti ada yang sibuk foto-foto, sibuk mengobrol, ada juga yang main kartu poker, makan jajanan, Kai (mahasiswa Jerman) menyempatkan diri tidur di bangunan kecil berdinding kayu bentuknya seperti pos ojek atau hanya tempat berbincang-bincang sekumpulan bapak-bapak saja. Keberangkatan kami menuju Kecamatan Meliau ditunda karena perahu yang akan kami tumpangi datang terlambat.
            Awalnya Mbak Dita bilang kalau kami akan berangkat jam tiga siang, kemudian jam setengah empat sore, kemudian di undur lagi sampai jam setengah enam sore. Pukulsetengah enam, perahu yang akan kami tumpangi bersandar di Pelabuhan Sungai Durian. Teman-teman saya yang lelaki menaikkan tas-tas dan barang-barang lainnya ke gladag kapal. Setelah barang-barang kami yang besar-besar dan banyak tersebut masuk ke perut kapal, barulah kami masuk ke dalam kapal. Saya dan teman-teman duduk di pinggiran jendela kapal, karena memang kursinya berada di pinggir jendela sepanjang badan kapal tersebut. Kapal kami bukanlah kapal baja, melainkan kapal klotok yang terbuat dari susunan kayu ulin yang terkenal sebagai “kayu besi”. Menurut orang Kalimantan, kayu ulin ini merupakan kayu yang jika terkena air akan semakin kuat. Kayu ulin menjadi bahan utama pada bangunan rumah ataupun kantor yang sangat digemari masyarakat Kalimantan. Lihat saja pada rumah tinggal suku Dayak, yaitu Rumah Betang. Rumah Betang terbuat dari kayu ulin dan atapnya terbuat dari sirap. Sekarang, harga kayu ulin sangatlah mahal, seiring dengan adanya larangan penebangan hutan secara liar yang dulu marak terjadi di seluruh hutan di Kalimantan atau illegal loging. Pada saat marak-maraknya penebangan hutan secara liar, banyak bermunculan orang kaya baru di Kalimantan. Seiring dengan penebangan liar itu, hutan-hutan di Kalimantan semakin gundul dan kritis. Oleh sebab itu, dibutuhkan adanya perlindungan hutan oleh pemerintah dan dibuat aturan-aturan hukum yang baku dan kuat agar orang-orang yang tidak bertanggung jawab tidak lagi melakukan perusakan hutan demi keuntungan pribadinya.

            Jarak antara orang satu dengan yang lainnya sangatlah dekat, sehingga sulit bagi kami untuk merebahkan badan apalagi ingin selonjorkan kaki. Ketika itu, matahari akan terbenam. Langit mulai temaram. Di ujung cakrawala, dari jendela kapal kami menyaksikan indahnya warna jingga langit sore menjelang maghrib. Saya dan teman-teman sibuk memotret dan menikmati keindahan tersebut. Ah… langit Kalimantan yang bersih tanpa polusi.
            Malam menjelang, rasa kantuk mulai menyerang saya dengan dahsyat. Meskipun ruang untuk tidur sangatlah terbatas, namun saya tetap saja bisa tidur dengan posisi kaki terlipat dan badan melengkung layaknya kucing yang sedang tidur. Setelah itu saya tidak tau apa-apa lagi.

            Pukul delapan malam, saya dibangunkan oleh teman-teman saya. Oh, ternyata kami sudah sandar pertama untuk makan malam dan sholat isya yang kemudian di jama’ takhir dengan sholat maghrib. Daerah pertama yang kami singgahi ini bernama Sungai Asem. Di daerah itu saya menemukan beberapa warung makan yang masih buka. Warung makan yang paling dekat dengan tempat kapal sandar adalah warung makan milik orang keturunan Cina. Karena di warung tersebut sudah sangat panjang antriannya, maka saya berjalan sedikit lebih jauh. Di tengah jalan, ada sekelompok anak-anak yang dari kejauhan sudah menyaksikan saya. Ketika jarak saya dengan mereka sudah sangat dekat, tiba-tiba saja terdengar bunyi seperti mercon lempar tepat di kaki saya. Sontak saja saya teriak dan loncat-loncat. Anak-anak tersebut tertawa puas sekali melihat keterkejutan saya tadi. Mungkin mereka merasa berhasil mengerjai saya. Tak jauh dari tempat saya dilempar mercon tadi, saya menjumpai warung milik orang Dayak Islam yang juga berjualan nasi dan lauk-pauknya. Di dalam warung sudah ada Mas Pudjo dan Miss Katarina yang sedang menyantap santap malam mereka. Langsung saja saya ikut berbaris menunggu giliran mengambil makanan. Pemilik warung memberikan saya box dari strofoam sebagai wadah makanan saya. Saya dipersilahkan mengambil nasi sebanyak yang saya mau, kemudian memilih lauk yang saya mau makan. Saya tidak banyak mengambil nasi karena nasinya agak keras dan bagi pemilik penyakit tifus, nasi yang seperti itu kurang baik dimakan kecuali dikunyah halus agar tidak melukai dinding lambung. Sebagai lauk makan, saya memilih mi goreng dan sepotong tahu bumbu merah dengan siraman kuah gulai diatasnya. Saya hanya membayar sejumlah delapan ribu rupiah untuk makan malam itu. Teman-teman saya membeli satu gelas air teh hangat seharga dua ribu rupiah. Selesai makan malam, kami menyempatkan diri untuk menunaikan shalat isya’ dua rakaat yang dilanjutkan dengan shalat maghrib sebanyak tiga raka’at. Hal ini sah dilakukan karena kami sedang berada dalam perjalanan jauh.

            Usai shalat, kami kembali menuju kapal dan kembali berlayar mengarungi sungai Kapuas yang lebar dan mengular jika dilihat dari udara. Saya kembali tertidur dengan posisi yang sangat darurat di dalam kapal. Kami semua tertidur dengan posisinya masing-masing dan terjepit. Namun karena kelelahan, saya dan teman-teman dapat tertidur pulas hingga keesokan pagi.

Minggu, 7 July 2013

            Saya dan teman-teman terbangun dari tidur nyenyak di atas perahu kurang lebih pada pukul setengah enam pagi. Saya dan teman-teman menyaksikan indahnya sunrise pertama kami di Kalimantan Barat dan masih berada di tengah-tengah sungai Kapuas. Kami melihat sunrise yang indah tersebut dari balik jendela kapal yang tak berkaca. Udara subuh yang sangat dingin dan bau amis yang tercium keluar dari sungai Kapuas. Pagi itu kabut masih tebal. Kabut yang tersibak di atas air sungai Kapuas akibat gelombang dari kapal kami membuat sungai Kapuas seolah-olah mengeluarkan asap. Sangat dramatis dan agak mencekam karena di kiri dan kanan kami yang tampak hanyalah hutan-hutan yang masih gelap.
            Saya dan teman-teman tak ingin meninggalkan satu moment pun, kami sibuk memotret sunrise tersebut seindah mungkin. Setelah matahari naik dan memanas, saya kembali merasakan kantuk. Saya tertidur sambil duduk bersandar di dinding kapal.

Pada pukul delapan pagi, kami merapat ke pelabuhan di daerah Pulau Tayan untuk distribusi barang dagangan pesanan warga Pulau Tayan. Kesempatan bongkar ini kami manfaatkan untuk makan pagi dan bersih-bersih. Di Pulau Tayan, saya, Kanita, Mbak Rizka, dan Mbak Dyah serta Mbak Niah berjalan-jalan di pasar jalan Dwikora untuk mencari warung makan. Ketika berkeliling, kami didatangi oleh seorang ibu yang merupakan orang tayan asli, namun orang tuanya campuran antara Cina dan Jawa. Ibu itu mengarahkan kami untuk makan di warung milik orang Islam. Di warung makan tersebut menyediakan beberapa menu makanan, seperti sate ayam, mie pakai bakso ayam dan berbagai bentuk masakan seperti yang terdapat di warteg (warung Tegal). Adapun makanan yang unik di sini adalah mie bakso ayam. Mengapa saya bilang unik? Ya, karena ketika saya mendengar kata “bakso”, maka ekspektasi saya langsung mengarah pada suatu bentuk daging giling berbahan dasar daging ayam atau daging sapi diadon dengan tepung terigu yang dibentuk menyerupai bola-bola kecil. Ternyata “bakso” yang masyarakat Pulau Tayan maksud adalah potongan-potongan daging ayam utuh yang berbentuk kecil-kecil, bukan daging giling.
Setelah makan mie bakso ayam tersebut, saya dan teman-teman bersih-bersih diri di kamar mandi pemilik warung tersebut. Setelah itu, kami kembali naik ke kapal dan melanjutkan perjalanan menuju kecamatan Meliau.

Pada pukul  perahu kami sandar di daerah Sungai Dekan. Ternyata sebagian besar dari kami akan diturunkan di Sungai Dekan untuk melanjutkan perjalanan menggunakan truck milik warga desa yang biasa digunakan untuk mengangkut buah sawit. Ada dua truk yang akan mengantarkan kami. Truk pertama mengantarkan teman-teman kami yang ditempatkan di desa Kuala Buayan (dusun Kuala Buayan, Sengkuang Daok, Sengkuang Daok Km 3 dan Kayu Ara), Kuala Rosan (dusun Kuala Rosan dan Lubuk Piling), dan Sei Kembayau (dusun Sei Kembayau, Balai Imbung, Kerawang, dan Tanjung Anti/Tolok Bui) serta tambahan dua dusun yang searah adalah Suak Pram dan Suak Pram blok H. Sementara truk dua yang saya dan rekan-rekan saya tumpangi merupakan truk khusus jurusan Dekan Putih, Trans Dua Bhakti Jaya, Pampang Dua, dan Desa Melawi Makmur (meliputi dusun Nek Sawak, Landau, Tanjung Iman, Landau dan Suak Mansi).

Di setiap desa akan ditempatkan dua sampai tiga orang mahasiswa untuk hidup di sana, menyatu dengan masyarakat, belajar dari masyarakat desa dan menulis apa saja sebagai data harian.
Sepanjang perjalanan menggunakan truk, tubuh kami terus terguncang-guncang. Jalan perkebunan hanyalah tanah merah yang keras, berlubang-lubang, tidak ada aspal sama sekali. Jika musim hujan, jalan akan berubah menjadi sangat liat dan berlumpur yang hampir tidak bisa dilewati oleh kendaraan apapun.  Di kiri dan kanan jalan yang tampak hanyalah deretan pohon sawit, sesekali melewati perkebunan karet dan hutan. Banyak hal-hal seru yang kami alami, misalnya seperti menganggap naik truk dan menghindari pelepah-pelepah sawit sebagai sebuah permainan atau game yang jika pelepah sawit yang menjuntai itu mengenai bagian tubuh kami, maka nyawa kami dianggap hilang satu, begitu seterusnya. Bang Joseph menganggap naik truk seperti sedang mengendarai skateboard. Ia berdiri di tengah-tengah truk tanpa berpegangan dan bertahan layaknya sedang berdiri di atas papan skate. Ketika ia terjatuh, kami tertawa terbahak-bahak. Dengan adanya pelepah sawit yang mengenai tubuh dan goncangan-goncangan dahsyat dalam truk menjadi penghiburan sendiri bagi kami.


Satu persatu teman-teman saya diturunkan di dusun-dusun yang telah ditentukan sebelumnya. Kami semua diarahkan untuk tinggal di rumah kepala dusun, kepala desa atau ketua rukun tetangga pada dusun tersebut. Kami berangkat naik truk di daerah BHD pukul setengah tiga siang dan sampai di dusun Landau pada pukul enam kurang beberapa menit. Kami diturunkan di depan jembatan di daerah Tanjung Iman, kemudian menyebrang ke kawasan dusun Landau.

Bang Ardan, seorang mahasiswa angkatan atas antropologi budaya UGM yang sudah paham seluk-beluk daerah-daerah permukiman masyarakat desa di Kabupaten Sanggau ini  mengantarkan saya, Ve dan Bang Joseph meniti jembatan gantung yang sudah reot. Setelah melewati jembatan, Bang Ardan mengajak saya dan Ve mendatangi rumah pak RT dusun Landau yang merupakan orang Jawa beragama Islam. Sementara Bang Joseph diarahkan ke rumah pak kepala dusun  yang merupakan orang Dayak yang beragama Kristen protestan. Saat mendatangi rumah pak RT,  yang kami temui hanyalah anak gadisnya yang bernama Jum. Sore itu pak RT sedang berada di kebun untuk memanen karet, kemungkinan beliau akan kembali ke rumah sekitar pukul sepuluh malam. Akhirnya, Bang Ardan membawa kami menuju ke rumah pak kepala dusun Landau yang bernama Bapak Sugimon. Sesampainya di rumah pak kepala dusun, saya dan Ve berjumpa dengan Joseph ( yang kemudian saya panggil Bang Jo). Kami langsung bertegur sapa dengan seluruh warga yang pada sore itu sedang berada di halaman rumah mereka. Anak-anak masih sibuk bermain di halaman rumah, para pemuda kampung sedang berkumpul di teras rumah dan ada yang sedang duduk di atas motor, sementara ibu-ibu dan bapak-bapak berkumpul pula di tersa rumah sambil mengobrol. Kami menyapa mereka dengan senyum mengembang. Mereka membalas sapaan kami dengan senyuman pula. Saya, Ve dan Bang Jo diajak bapak masuk ke dalam rumah dan menata barang-barang bawaan kami. Di dalam rumah, seorang ibu yang tampak masih muda menyambut kami dengan sangat ramah. Kemudian kami berkenalan satu sama lain. Ternyata ibu muda tersebut adalah istrinya pak Sugimon yang bernama Enes atau warga biasa memanggilnya Mamak Joni (karena anak pertama mereka bernama Joni). Keluarga pak Sugimon menjadi keluarga baru kami di tanah Kalimantan Barat. Pak Sugimon dan Bu Enes memiliki dua orang anak, yaitu Joni dan Pinsen. Joni baru berumur dua belas tahun, sementara Pinsen baru berumur kurang dari enam tahun. Bu Enes meminta kami memanggilnya dengan sebutan “mamak”. Sebutan atau panggilan itulah yang membuat kami lebih akrab. Baru saja sampai di rumah mereka, saya, Vega dan Bang Jo sudah diajak makan bersama. Kami pergi ke dapur yang berdinding dan berlantai kayu. Sore itu saya makan dengan lahap karena ada makanan kesukaan saya, ikan asin. Saya menyantap dua ekor ikan asin dan sambal yang langsung dicolek dari tumbukannya. Entah apa yang membuat saya sangat berselera menyantap makanan sederhana itu, mungkin saja karena saya menyantapnya bersama keluarga besar. Ya. Makan bersama keluarga besar memang hal yang sudah lama saya rindukan, sejak saya bersekolah di tanah Jawa.

Pukul setengah tujuh, saya, Vega dan Bang Jo disuruh Mamak mandi ditemani anak-anak kampung. Dengan berbekal satu lampu sorot kepala dan satu senter biru milik Ve, kami berjalan menuju sungai Melawi yang berada beberapa meter dari depan rumah Mamak. Keadaan kampung mulai menggelap karena lampu masih belum dinyalakan. Di tengah perjalanan, saya berkenalan dengan seorang anak perempuan bernama Putri Bungsu. Ia biasa dipanggil Bungsu, karena ia merupakan anak bungsu di keluarganya. Putri Bungsu berumur dua belas tahun. Tubuhnya hampir setinggi saya (sekitar 150 cm) dan sangat kurus. Bungsu memberitahukan saya bahwa ia pernah terkena penyakit kurang gizi dan rambutnya rontok terus-menerus. Oleh sebab itu ia tidak diizinkan makan mie instan lagi dan harus banyak makan sayuran.

            Sesampainya di tepi sungai, keadaan sangat gelap. Saya dan Ve langsung memakai kemben dari sarung yang diikatkan ke leher tau bisa juga menggulung sarung di atas dada. Sementara Bang Jo sangat menikmati mandi pertamanya setelah hampir dua hari tidak mandi ini dengan melepas bajunya dan mandi hanya menggunakan celana dalamnya. Hal tersebut sangat lumrah bagi masyarakat kampung.

            Ketika melihat saya dan Ve memakai basahan, anak-anak mentertawakan kami karena bagi mereka, cara memakai basahan kami lucu dan berbeda dengan yang biasa mereka lihat atau mereka pakai. Kemudian bungsu mengajarkan kami memakai basahan yang benar, namun saya tetap memakai basahan dengan cara saya sendiri agar dada saya tidak tampak. Saya menggunakan basahan dengan masuk ke dalam sarung, kemudian mengambil beberapa bagian kain untuk diikatkan ke leher saya. Dengan begitu dada saya tertutup sarung, meskipun sebagian bagian atas punggung saya tampak. Kami mandi selama tiga puluh menit.

            Awalnya saya memang merasa takut untuk mandi di sungai malam-malam dalam kondisi minim cahaya, namun apa daya, daripada tidak mandi sama sekali selama dua hari dan badan menjadi bau kecut. Akhirnya saya ikut menceburkan diri ke dalam sungai. Setelah badan saya basah semua, saya menggosok-gosok badan menggunakan sabun mandi ber-scrub agar daki-daki di badan saya luruh. Bang Jo dan Ve pun menceburkan diri setelah itu. Bang Jo dengan sangat berani menuju tengah-tengah sungai Melawi yang agak dangkal, tingginya ada yang hanya selutut atau setinggi betis kami, namun ada juga yang sepaha kami. Anak-anak kecil yang menemani kami sudah lebih dulu berloncatan menceburkan diri ke dalam sungai. Pakaian mereka basah kuyup dan mereka tampak sangat riang-gembira.

            Tiga puluh menit kemudian, sekitar pukul tujuh malam, kami bertiga dan anak-anak kampung telah selesai mandi. Lampu rumah telah dihidupkan. Ternyata, di kampung Landau ini listrik dihidupkan pada pukul enam sore hingga pukul sepuluh malam. Setiap rumah memiliki satu mesin pembangkit listrik berbahan bakar solar untuk mengalirkan listrik yang mampu menghidupkan sekurang-kurangnya tiga bohlam dan televise serta untuk men-­charge ­telepon genggam maupun laptop. Kata Mamak, setiap harinya masyarakat Landau menghabiskan uang sekitar dua puluh ribu setiap harinya untuk menghidupkan listrik tersebut.

            Sepulang mandi di sungai, kami mengganti pakaian. Saya mengusapkan minyak kayu putih ke sekujur tubuh agar tubuh saya tidak kedinginan. Ketika keluar dari kamar, kami menjumpai banyak anak-anak kecil berkumpul di ruang tamu yang berfungsi ganda yaitu sekaligus dijadikan ruang  keluarga. Anak-anak berkumpul di depan televisi untuk menonton tayangan televisi favorit mereka. Kalau saya perhatikan, mereka sangat menggemari sinetron di salah satu channel tv dan tayangan drama serial yang ceritanya banyak adegan perang-perangan antar kerajaan. Ketika melihat kami, anak-anak tersebut beralih pandangan ke arah kami. Mereka memperhatikan kami yang tersenyum pada mereka, kemudian mereka membalasnya. Saya menyapa mereka dengan bertanya, “hai adik-adik, lage’ ape ni?”, kemudian salah satu dari mereka yang berani dan menjawab, “lage’ nonton tipi kak”. Percakapan saya lanjutkan dengan bertanya berbagai hal kepada mereka.
            Saya menanyakan nama mereka satu per satu (meskipun saya agak kesulitan menghapal nama, tetapi ini cara yang paling jitu untuk melakukan pendekatan).
“(sambil mengelus kepala salah seorang anak lelaki berbaju putih) Hei dek, sape nama kau?” tanyaku
“Akuang, kak” jawabnya sambil malu-malu.
“kalo kau? (sambil mengelus kepala anak yang lainnya)”
“aku gun, kak. Gunawan” jawab seorang anak lelaki di sebelah kananku. Kemudian aku menunjuk yang lainnya.
“Aku Asiung”
“aku Bungsu, kak. Masa’ kakak dah lupa? Hahaha” katanya sambil tertawa.
“ah… iya lah, kau Bungsu, kau Gun, Akuang, Asiung, Pinsen, Joni, yang kecil ini Rangga” kataku sambil menunjuk mereka satu per satu.
Sebenarnya masih banyak anak-anak lain disitu, tetapi yang lain saya sulit mengingat namanya karena hanya mereka yang saya sebutkan di atas merupakan anak-anak yang sangat sering berkumpul dan bermain dengan saya dikemudian hari. Saya mengajak mereka ke teras rumah. Sebagian anak-anak yang tak tertarik dengan ajakan saya tetap menonton tv, tetapi beberapa anak tertarik dengan ajakan saya kemudian mengikuti saya ke teras. Di teras rumah kami bercerita tentang hantu-hantu yang ada di Landau. Bungsu, Akuang, Gun dan dua anak lainnya bercerita banyak tentang hantu. Beberapa hantu namanya sama dengan hantu-hantu Jawa, tetapi ada yang berbeda, seperti Nek Uban, Pengkorek, Cuncong dan Tenggiling. Ada pula ular naga yang sangat panjang, kepalanya berada di Sanggau sementara ekornya berada di Tayan.

Nek Uban merupakan sosok hantu yang bisa berubah menyerupai siapapun yang dia mau. Misalnya dia melihat saya, dia akan berubah menjadi saya meskipun padahal saya sudah tidak berada di kampung tersebut. Nek Uban ini memiliki rambut yang sangat panjang. Nek Uban suka menculik anak-anak, oleh sebab itu anak-anak tidak boleh main jauh-jauh tanpa ditemani orang tua dan tidak boleh main sampai larut malam, nanti bisa diculik Nek Uban. Nek Uban memiliki nama lain yaitu Benturun (dalam cerita masyarakat Suak Mansi).
Ada pula hantu yang orang kampung Landau menyebutnya “hantu pengkorek”. Hantu pengkorek ini sebenarnya merupakan seorang manusia penuntut ilmu hitam yang suka mengambil kepala anak-anak. Pengkorek mengambil kepala atas suruhan oleh hantu tanah untuk dijadikan cabuh gertak (penyangga jembatan agar kokoh, tidak mudah roboh). Pengkorek bisa berubah wujud menjadi seekor anjing. Hantu pengkorek bisa menipu orang dengan memberikan kue yang sudah ditambahkan racun agar orang yang telah diberikan kue tersebut mau mengikuti pengkorek. Bedanya jelmaan pengkorek dengan anjing biasa adalah ketika kita melihat mata anjing jelmaan pengkorek itu bermata merah. Kalau melihat hantu pengkorek langsung lari saja. Oleh sebab itu, orang tua selalu menyuruh anak-anak berhati-hati, tidak boleh bermain jauh-jauh tanpa orang tua. Kalau sudah malam apalagi malam jumat, anak-anak harus cepat pulang ke rumah agar kepalanya tidak diambil pengkorek.

Hantu lain yang menurut saya sangat unik bernama hantu tenggiling. Tenggiling merupakan makhluk jadi-jadian yang mempunyai sisik-sisik emas. Hantu tenggiling bersembunyi di hutan. Kalau bertemu hantu tenggiling ini dan bisa membunuhnya, sisik-sisik emas tenggiling boleh diambil. Sisik-sisik emas tenggiling bisa di jual. Akuang mengakui kalau ia pernah menemukan tenggiling. Kemudian Akuang membunuhnya menggunakan Mandau dan mengambil sisik emasnya dan menjual sisik emas tersebut. Orang tua anak-anak kampung mengingatkan anak-anaknya agar tidak merusak hutan dan membuat kehebohan di hutan, karena hantu tenggiling akan keluar dan marah. Hantu tenggiling kemudian menyembunyikan anak-anak di hutan sehingga tidak bisa kembali pulang.

Cuncong. Sosok manusia (tidak jelas sosok jadi-jadian atau bukan) yang menyembunyikan anak-anak di tanaman nanas hutan yang berukuran besar untuk memberikan rasa takut. Anak-anak tidak boleh main sembunyian atau petak umpet di malam hari.  Anak yang disimpan cuncong biasanya ditemukan oleh orang yang melewati hutan dan tidak sengaja bertemu dengan anak tersebut, kemudian di bawa pulang.
Selanjutnya, anak-anak bercerita kepada saya bahwa sekolah mereka angker. Dulunya  SD mereka itu bekas kuburan orang-orang zaman dulu, kemudian diratakan, dibangunlah rumah sakit di situ dan akhirnya rumah sakit tersebut dibongkar dan dibangunlah sekolah. Di sekolah ada hantu seperti kuntilanak dan genderuwo. Saya tidak benar-benar percaya pada cerita hantu-hantu di atas. Tetapi ada baiknya kita mengambil hikmahnya bahwa orang tua menyampaikan norma-norma atau aturan-aturan kepada anaknya melalui rasa takut akan adanya makhluk-makhluk lain disekitar kita. Misalnya saja dengan adanya cerita hantu Nek Uban, Pengkorek dan Cuncong ini, anak-anak kampung tidak berani lagi main terlalu jauh dari rumah apalagi saat malam hari.

Cerita mistis yang di buat dan berkembang dalam masyarakat seolah menjadi pengontrol pikiran dan tindakan anak-anak yang masih belum mampu berpikir secara dewasa (dalam artian belum mampu mempertimbangkan baik atau buruknya suatu hal yang mereka lakukan). Melalui cerita-cerita mistis ini pulalah orang tua diuntungkan karena orang tua dapat lebih mudah mengawasi anak-anak mereka ketika sedang bermain. Misalnya saja ketika ibu sedang memasak di dapur, ia hanya cukup mengawasi anaknya dari jendela dapur karena anaknya main di daerah yang masih terjangkau oleh penglihatan ibu dengan kata lain, anak-anak tidak bermain sampai ke hutan atau ke luar permukiman.

Pukul sembilan malam tiba dengan cepat tanpa terasa. Satu persatu anak-anak mulai pulang, tinggallah dua orang anak lagi yang masih bermain dengan saya. Tak berapa lama datang seorang ibu berambut pirang yang dikucir dan mengenakan baju tidur tanpa lengan duduk mendekati saya.
“kapan datang?” tanya ibu tersebut yang kemudian setelah berkenalan, saya ketahui biasa orang kampung memanggilnya Mamak Weni.
“tadi sore, Bu (senyum)” jawab saya ramah
“kau nih adik kelasnya Lintang keh?” tanyanya lagi
“Lintang siapa ya, Bu?” Tanya saya bingung karena tidak tahu siapa Lintang itu
“itu mahasiswa juga, anak angkat saya dia tuh. Dulu tinggal di Landau nih juga lah.”
Kemudian Vega datang dan masuk dalam percakapan kami,
“saya Bu yang adik kelasnya mas Lintang. Dia sedang ada kerjaan di semarang, Bu” kata Vega
Kemudian Mamak Weni bercerita panjang lebar mengenai Mas Lintang, Bang Ardan, Mas Oby dan Ko Rudy. Dari semua cerita Mamak Weni tentang mereka semua mengisyaratkan bahwa orang-orang yang saya sebutkan di atas sudah sangat akrab dengan warga kampung Landau. Bahkan sampai kebiasaan dari mereka masing-masing pun warga sudah hapal.

Mamak Weni juga bercerita tentang mitos-mitos yang ada di kampung tersebut, misalnya saja tentang keberadaan panglima perang Dayak yang bertapa di bukit, keberadaan tuyul di kampung Landau sehingga banyak warga yang sering kehilangan uang, praktek santet, dan sebagainya. Sebenarnya saya tidak bisa percaya seratus persen pada cerita tersebut, namun saya menganggap cerita-cerita itu sebagai peringatan agar saya tidak berbuat hal-hal yang salah di tempat mereka. Saya juga tidak boleh berucap yang dapat menyakiti hati warga kampung atau bertindak yang dilarang oleh mereka atau jalan-jalan tanpa ditemani salah satu warga kampung yang lebih paham seluk-beluk kampung tersebut.
Pukul sepuluh kurang beberapa detik, setelah mengobrol panjang lebar bersama Mamak, Mamak Weni dan Vega di teras rumah, akhirnya Mamak Weni pulang dengan membawa anak-anaknya pulang. Oh ternyata tujuan awal Mamak Weni ke rumah kami adalah untuk menjemput Akuang dan Asiung, tetapi malah mengobrol dengan kami sampai hampir satu jam lamanya.
Pukul sepuluh lewat lima menit, setelah saya dan Vega bersiap tidur, listrik dipadamkan. Kami tidur ditemani satu pelita kecil yang berbahan bakar minyak tanah.

AWAL PETUALANGAN

Senin, 8 July 2013 

Pagi ini pukul enam lebih lima belas menit saya  dan Vega (kemudian saya sebut Ve), baru saja bangun tidur. Saya sedikit kaget ketika melihat Bang Jo sudah tidur tengkurap tak jauh dari pembaringan kami.
Semalam kami tidur di ruang tengah yang berlantaikan keramik. Saya dan Ve tidur di dalam “kantong tidur kepompong” atau sleeping bag kami masing-masing, sementara Bang Jo  tidur tengkurap tak beralas. Ruang tengah keluarga Pak Sugimon berisikan seperangkat peralatan penghibur ruangan. Di sudut depan-kiri ruangan terdapat meja agak tinggi yang diatasnya terdapat satu televisi merk Sharp berukuran 16 inc, dua buah speaker berukuran sedang yang sepertinya sudah tidak dipergunakan lagi karena rusak. Di bagian samping meja tv terdapat satu speaker berukuran cukup besar berwarna hitam yang digunakan untuk memperjelas suara televisi karena audio dari tv tidak terdengar jelas. Pada bagian bawah rak meja tv terdapat dua set VCD yang masih tampak baru. Tepat disebelah meja tv itu terdapat sebuah fentilasi. Di fentilasi tersebut ada satu stop kontak  dengan lima lubang colokan. Di salah satu pojok ruang ditempatkan satu meja  kayu yang agak kusam disertai dua buah kursi plastik berwarna merah keabu-abuan karena sudah lama. Kami tidur di tengah-tengah ruangan tersebut, di antara meja  televisi dan meja kayu tadi menggunakan dua lembar matras berwarna orange dan abu-abu muda dan sleeping bag yang kami bawa dari Jogja. Pukul enam lewat sepuluh menit, saya dan Vega terbangun, kemudian kami merapihkan perlengkapan tidur kami. Setelah rapi, kami beranjak menuju ruang makan yang bersebelahan langsung dengan dapur.

Di rumah yang kami tempati ini memiliki dua ruang dapur, satu dapur milik Mamak dan satu dapur lagi milik ibu mertua mamak (ibunya bapak). Saat itu, mamak yang sedang memasak nasi menyediakan kami teh manis. Vega yang ternyata membawa satu kotak coklat serbuk dari Jogja meracik coklat tersebut menjadi beberapa gelas coklat hangat yang lezat di pagi hari. Vega membagikan coklat hangat tersebut kepada Mamak, saya, Bang Jo dan adik-adik. saya membaginya kepada anak-anak mamak dan keluarga. Kami menikmati pagi dengan secangkir teh dan cokelat hangat sambil berbincang dengan Mamak, Bungsu dan Nenek (mertua Mamak).

Setelah santai sejenak di pagi hari, kami pergi ke sungai Melawi untuk menyegarkan tubuh. Kami mandi dan mencuci di Sungai Melawi. Beberapa warga terlihat melakukan hal yang sama dengan kami pagi itu. Sebenarnya di dalam benak saya, saya merasa sedih karena sungai yang jernih ini dijadikan tempat mandi dan mencuci warga. Saya khawatir dengan keadaan tersebut. Jika manusia terus-menerus menggunakan detergen (pasta gigi, sabun mandi, sabun cuci) dan buang air besar di sungai, maka bukan tidak mungkin suatu saat nanti sungai Melawi akan tercemar dan manusia akan kehilangan sumber air bersih.

Setelah mandi dan mencuci, kami kembali ke rumah dan menjemur pakaian di tiang jemuran yang berada di sebelah kiri rumah. Begitu selesai menjemur dan mengganti pakaian, saya mengajak Bungsu dan Vega pergi beli celana pendek untuk dipakai di rumah. Bungsu sebagai guide kami di Landau selalu mau menemani kami pergi kemana saja. Ia mengarahkan saya beli celana pendek ke Tanjung Iman. Di Tanjung Iman terdapat satu toko kelontong milik warga keturunan Cina Pontianak (biasa disebut Cina Ponti) yang menjual bermacam dagangan, seperti bahan-bahan makanan hingga pakaian . Pemilik toko tersebut biasa dipanggil Mamak Mey. Di toko tersebut saya membeli satu celana kain agak tipis seharga Rp 45.000,- setelah ditawar dari harga awal Rp 55.000,-. Mamak Mey menyuruh saya untuk maklum dengan harga barang yang lumayan mahal di daerah itu karena pedagang mengambil barang dari tempat yang jauh, yaitu dari Meliau, Sanggau atau juga dari Pontianak. Menurut Bungsu, warung Mamak Mey akan ramai pada tanggal-tanggal muda ketika orang kampung sedang gajian. Selain itu, barang yang dijual di toko Mamak Mey bagus-bagus.

Setelah beli celana di toko Mamak Mey, saya mengajak Bungsu dan Ve mencari sinyal handphone karena saya ingin mengabari keadaan saya kepada orang tua. Bungsu membawa kami menuju bukit yang letaknya tak jauh dari jalan besar di Tanjung Iman. Sekitar pukul delapan lewat lima puluh satu menit, hp saya menangkap sinyal dari salah satu operator, kemudian saya langsung menelepon ayah. Ternyata ayah saya sedang di rawat di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta. Pada tanggal tujuh kemarin kaki ayah sudah dibedah karena sewaktu masuk hutan di Putussibau beberapa waktu lalu, kaki ayah digigit lintah. Barangkali lintah yang menggigit kaki ayah adalah lintah beracun sehingga menyebabkan bagian kaki yang digigit lintah tersebut melepuh dan bengkak. Pada waktu menelepon ayah itu, Mama sedang menghadiri pertemuan orang tua siswa baru di Sekolah Menengah Musik (SMM) di Bantul. Puji syukur, adik saya lolos seleksi masuk SMM bidang seni suara (vocal).
Usai menelepon ayah, saya, Bungsu dan Ve kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Mamak sudah memasakkan kami ikan asin, ikan sungai goreng, oseng-oseng sayur daun cangkok, dan sambal cabe ulek ditambah lagi ada kering tempe dan kentang masakan Mama Ve yang dibawa dari Jogja. Makan pagi kami lakukan pada pukul setengah sepuluh pagi menjelang siang.

Sehabis makan, datang bapak-bapak dan pemuda kampung untuk mengajak Bang Jo minum lotub atau me-lotub. Lotub merupakan sebutan untuk kegiatan minum-minuman beralkohol sejenis arak, tuak dan tajuk. Seorang bapak berperawakan sangat kurus dan tidak memakai baju bernama Pak Alui, seorang bapak lagi bertubuh gemuk dan berperut agak buncit saya tidak tahu namanya dan seorang pemuda yang bertubuh kurus bernama Alex (Bang Alex) duduk berkumpul di tepi pintu ruang makan. Bang Jo mendatangi mereka dan mengobrol entah apa. Saya memilih pergi ke depan dan bermain dengan anak-anak, begitupun Ve dan Mamak. Kami bermain di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga.
Tiba-tiba Ve ingin ke belakang dan ingin mencoba melotub (meminum minuman beralkohol seperti arak, tuak atau taju’). Ia pergi ke belakang. Saya masih tetap di ruang tamu bersama anak-anak, Mamak, Mamak Rangga yang sedang mengandung usia sembilan bulan dan Mamak Weni. Tak lama kemudian (sekitar sepuluh menit kemudian) Ve datang menemui kami. Ia mengaku sudah mencicipi arak. Berselang lima belas menit kedatangan Ve, Nenek (mertua Mamak) datang ke ruang tamu bergabung dengan kami. Nenek selalu memabawa rokok racikannya sendiri. Rokok nenek dibuat hanya dengan menggunakan serbuk kasar daun tembakau yang dilinting menggunakan kertas putih. Setelah dilinting, kemudian ujung lintingan yang agak lebar di bakar menggunakan korek mancis, sementara ujung lintingan yang lebih kecil diselipkan di bibir untuk menghisap rokok tersebut.
Banyak hal yang kami bicarakan, diselingi dengan canda dan tawa. Nenek terus mentertawakan Ve karena ia telah berani mencicipi arak. Tanpa sengaja saya bertanya pada Ve,
“Ve, arak tadi gimana rasanya? (sambil tertawa-tawa)”
“penasaran ya? Enak kok, lu cobain aja” jawab Ve sambil tertawa juga.
Mendengar itu Nenek langsung menawarkan saya mencicipi arak juga.
“Mau coba? Sikit jak gakpapa” kata Nenek
Kemudian Mamak Weni menyambung, “arak tuh kalo’ kau minum sedikit gakpapa, malah jadi obat. Bikin badan pegal-pegal tuh jadi ringan. Khasiatnya macam obat tuh bah. Nah kalau kau minum tuak tuh bikin pusing, kalo’ di bawa mandi makinnya kerasa pusing bah”.
Tanpa ba-bi-bu Nenek langsung pergi ke belakang mengambil secawan (segelas kecil) penuh air arak. Warnanya seperti teh, aromanya seperti aroma tape, namun lebih tajam lagi. Arak terbuat dari tape ketan yang difermentasikan dalam waktu lama sehingga mengeluarkan cairan beralkohol. Saya meminum seteguk arak dari cawan tersebut dan langsung menelannya. Saat itu saya ingin muntah. Bibir terasa panas dan kering, tenggorokan hangat, perut saya juga terasa hangat. Mulut saya tidak karuan baunya. Kemudian saya minum dua gelas air putih dan kumur-kumur. Nenek tertawa melihat wajah saya yang sedang kesusahan menahan rasa ingin muntah.
Jam dua belas, tengah hari. Bungsu mengajak saya dan Ve pergi ke Sungai Melawi untuk mandi. Ve mengiyakan, namun saya berpikir ulang untuk mandi siang bolong, khawatir badan saya meriang dan kepala jadi pusing. Ibu-ibu juga sebenarnya melarang mandi siang bolong, tetapi mereka tetap pergi mandi. Sementara mereka pergi, saya mengobrol macam hal dengan ibu-ibu sambil tiduran di lantai hingga Ve dan Bungsu selesai mandi.
Pukul satu kurang lima belas menit, Ve dan Bungsu baru pulang mandi. Tiba-tiba datang abang tetangga di sebelah kanan rumah Mamak mengabarkan kondisi Bang Jo yang sedang teler dan tertidur di rumahnya. Kami pergi ke sebelah rumah untuk melihat Bang Jo. Sesampainya di rumah tetangga tersebut, saya dan Ve tertawa melihat Bang Jo yang sedang pulas, kemudian kami kembali ke rumah.

Siang hari sekitar pukul setengah dua, anak-anak kampung mengajak kami mencari ikan di sungai. Kami pergi mencari ikan di sepanjang sungai Melawi. Saya tidak mampu menangkap ikan atau udang, begitupun dengan Ve. Bungsu dan anak-anak kampung Landau sangat pandai menangkap udang dan ikan. Hasil tangkapan kami lumayan banyak. Dapat setengah kantong plastik bening ikan dan udang sungai yang entah apa jenisnya. Ikannya bermacam-macam. Ada ikan yang tubuhnya mirip ular, ada juga ikan yang mirip ikan sidat, dan sebagainya lah.
Pukul tiga sore kami kembali ke rumah dan menyerahkan hasil berburu kami tadi kepada Mamak. Ve dan Bungsu menyiangi sisik ikan. Saya cukup menontonnya saja karena tidak mau ikan itu rusak karena saya yang tidak benar menyiangi sisiknya. Setelah selesai disiangi sisiknya dan dibersihkan isi perutnya, ikan-ikan tadi di cuci, kemudian Mamak membuat bumbu masaknya. Mamak mengiris bawang merah, bawang putih, batang serei, daun salam kering, dan yang terakhir adalah sambal tempoyak. Sambal tempoyak Mamak sudah lama tersimpan dan baru sekarang di olah. Mamak ingin menunjukkan kepada kami cara mengolah sambal tempoyak menjadi makanan yang lezat bagi Mamak dan keluarga.
Saya tidak mau makan tempoyak karena aromanya sangat tajam. Saya suka durian, tetapi tidak yang sudah di fermentasi sekian lama, apalagi dicampur dengan ikan. Mamak menyajikan semua masakannya kepada kami di atas meja makan kayu. Saya makan oseng-oseng sayur cangkok dan ikan asin serta sambal cabe tumbuk. Saya, Mamak, Pinsen, Joni dan Bungsu makan bersama-sama dengan lahap. Kami tak ubahnya seperti keluarga yang bahagia dan harmonis.
Setelah makan, saya, Ve dan Bungsu mencuci piring di belakang rumah bersama-sama, kemudian kami mandi sore. Anak-anak di kampung ini sudah biasa mandi hingga tiga kali sehari, atau mandi kapanpun mereka mau.
Saya mencari-cari anak gadis di kampung ini. Hampir tak satu pun anak gadis yang melintas di depan mataku selain Jum, anak Pak RT. Lalu saya bertanya kepada Bang Alex,
“Bang, anak-anak gadis kok gak keliatan ya disini, pada kemana ya?” tanya saya penasaran
“ahh… sudah habis” jawab bang Alex
“maksudnya kek mana, Bang?”
“ya sudah habis. Sudah di bawa lakinya masing-masing lah” jawab Bang Alex lagi dengan wajah yang seperti menyayangkan keadaan.
“ehhh, udah pada nikah ya Bang… jadi gadis-gadisnya sudah pada keluar kampung”
“iya tuh. Masih kecil-kecil udah pada nikah. Biasa disini”
Oh, ternyata para remaja perempuan di Landau sudah pada pindah ke daerah lain mengikuti suaminya masing-masing. Adapun beberapa dari mereka yang belum menikah, cenderung pemalu dan kurang mau bergaul dengan pendatang baru seperti kami.
            Usai mandi, saya dan Ve kembali ke rumah. Kami berkumpul bersama para tetangga di ruang tamu keluarga Pak Gimon hingga maghrib menjelang. Selesai sholat maghrib, saya keluar kamar dan menemui anak-anak yang sedang menonton televisi di ruang tamu. Tetangga yang ingin menonton televisi atau sekedar mengobrol dengan tetangga-tetangga lainnya acapkali berkumpul di rumah yang kami tempati ini. Saya pikir lokasi rumah keluarha Pak Gimon ini berada pada posisi yang strategis dan rumahnya pun nyaman, oleh sebab itu, tetangga senang bertandang di rumah ini.
            Saya bercengkrama dengan anak-anak kecil dan mencoba mengakrabkan diri dengan mereka. Saya membuka laptop saya, anak-anak mendekat kepada saya. Mereka meminta saya menyalakan film anak-anak. Mereka menonton film Thailand yang berjudul “Cool Gel Attack” di laptop saya. Ve dan Bang Jo menghilang.
“Mak, Vega dan Bang Jo kemana ya?” tanya saya kepada mamak yang sedang menonton televisi
“Mereka pergi ke rumah sebelah tuh, diajak minum sama sida’ tu ” jawab Mamak sambil menonton tayangan televisi
            Saya pergi menyusul Vega dan Bang Jo ke rumah tetangga sebelah kanan rumah. Di rumah tersebut saya bertemu dengan seorang ibu muda yang sedang mengipas-ngipas anak balitanya dengan kain untuk menghalau nyamuk. Di lorong dalam rumah, saya melihat sekelompok bapak-bapak dan pemuda yang berjumlah enam orang ditambah Bang Jo dan Vega tengah duduk bersama sambil berbincang-bincang. Mereka duduk membentuk lingkar oval, ditengah-tengah mereka terdapat jerigen-jerigen (ken sebut orang kampung) dan botol-botol seukuran botol cola besar yang berisi air arak.
Kedatangan saya disambut dengan sangat ramah oleh bapak-bapak dan pemuda yang sedang duduk di sana. Mereka berbicara banyak tentang hal-hal konyol yang menggelitik perut saya, kemudian kami tertawa bersamaan. Ada seorang bapak yang berperawakan sangat kurus, jika ia sedang dalam keadaan setengah sadar, ia akan sangat lancar bicaranya. Beliau bernama Pak Alui “Orang Baik”. Setiap kali ia bercerita, ia selalu bercerita hal yang sama, berulang-ulang.
“Seluruh desa sudah tahu, saya ini Pak Alui orang baik. Tanya saja, mereka pasti bilang, Oh… Pak Alui orang baik” ujarnya dalam setiap mengawali cerita.
            Pak Alui sebenarnya bukan penduduk dusun Landau, melainkan orang dari Kualan. Ia selalu mengajari kami bahasa Kualan yang katanya terdengan seperti bahasa Jepang karena banyak menggunakan huruf “o”. Tidak banyak yang kami perbincangkan malam ini.

Pukul sembilan kurang sepuluh menit, Joni datang menemui kami dan mengajak kami pulang karena lampu akan segera dipadamkan.
“Kakak, Mamak nyuruh pulang, lampu nak padam jam sembilan” ujar Joni.
Saya dan Vega segera pamit pulang, tetapi Bang Jo tetap tinggal di rumah tersebut untuk ikut minum-minum bersama dan mengambil informasi dari percakapan dalam setengah sadar tentunya.
Tak lama setelah kami pulang, cuci muka, buang air kecil dan meringkuk dalam sleeping bag, lampu dipadamkan. Mamak menyalakan pelita yang terbuat dari botol M150 (salah satu produk minuman penambah energi) yang pada tutup botolnya dibolongi kemudian disumbatkan sumbu dan kemudian diisi minyak tanah. Tak lama setelah itu, saya dan Vega terlelap dalam tidur yang nyenyak.

Selasa, 9 July 2013

Hari ini saya bangun pagi pada pukul setengah enam dan langsung menuju dapur untuk membasuh wajah saya yang kucel. Setelah membasuh wajah, saya membersihkan tempat saya tidur dan melipat sleeping bag. Vega masih tampak lelap, saya membiarkan ia tidur karena tidak berani mengganggunya, mungkin dia capek. Saya pergi ke dapur, mengambil sapu dan menyapu seluruh ruangan yang ada di rumah, kecuali tempat kami tidur karena Vega masih tidur. Setelah menyapu, saya mengepel ruang tamu dan teras rumah yang basah akibat hujan deras tadi malam.
            Pukul setengah tujuh Vega bangun dari tidurnya, sementara Bang Jo masih terlelap di atas tempat tidur kapuk yang dulu ditempati Ko Rudy. Saya dan Vega bersama-sama mendatangi Mamak yang sedang masak. Pagi itu Mamak memasak daging celeng yang dibeli bapak kemarin seharga Rp 60.000,- per satu kilogram. Mamak menawari daging celeng tersebut kepada kami dengan rasa sungkan. Saya pikir itu hanya basa-basi yang jelas saya menolaknya (dengan halus).
            Kami duduk-duduk dan mengobrol di dapur sambil menemani Mamak masak gulai celeng. Pinsen meminta kami untuk segera memasak spaghetti yang di bawa Vega dari Jogja. Akhirnya Vega memasak spaghetti tersebut untuk kami semua. Bang Jo baru bangun tidur langsung mendatangi kami di dapur.
            Saya memperhatikan Joni yang sedari tadi merakit alat tombakan ikan tradisional di teras samping rumah dan saya membuat video aktivitasnya tersebut. Tak berapa lama setelah Joni selesai merakit tembakannya, spaghetti telah masak dan dihidangkan ke dalam piring-piring plastik. Mamak sangat senang melihat kami rajin ke dapur dan ikut memasak. Pinsen suka makan spaghetti, ia tampak sangat bersemangat. Pinsen belum tahu cara yang benar ketika menyantap spaghetti, ia mengambil satu persatu spaghetti dengan tangan, namun Bang Jo segera mengajarinya cara yang benar dan Pinsen tertantang untuk melakukanhal tersebut dengan benar.
            Setelah makan spaghetti, Mamak pergi ke dapur dan mengeluarkan pisang satu kipas lebih sedikit. Saya menawarkan diri untuk mengolah pisang tersebut menjadi pisang goreng. Bang Jo dengan inisiatif membeli satu kaleng susu coklat kental manis untuk dimakan bersamaan pisang goreng yang akan saya masak. Saya mengupasi kulit pisang dan memotong-motong pisang menjadi dua sampai tiga bagian. Saya membuat adonan dari tepung terigu yang dicampur air dan ditambahkan garam secukupnya sembari menunggu minyak goreng menjadi panas. Setelah minyak goreng dirasa cukup panas, saya mencemplungkan pisang-pisang yang sudah dibalur adonan tepung. Saya sibuk memasak pisang goreng, sementara itu Vega dan Bang Jo diajak anak-anak kampung menonton film “Cool Gel Attack” lagi dari laptop saya.
            Saat sedang asik memasak pisang goreng, Pak Alui, Bapak dan rombongannya (Bang Alex, Pak Gendut, Abang tetangga) datang ke ruang makan kami dan melihat saya masak. Saya menyuguhkan mereka sepiring pisang goreng hangat yang sudah saya tiriskan. Awalnya mereka mengata-ngatai masakan saya, tetapi ketika saya melihat piring yang tadi saya berikan, ternyata sudah kosong. Rombongan bapak-bapak tadi duduk di ruang makan kami sambil berbagi cerita, minum-minum dan merokok.
            Sekitar pukul sebelas siang, saya pergi ke sungai untuk mandi dengan ditemani Bungsu. Bungsu mengajakku untuk ikut pergi menyebrang ke kampung tetangga, Suak Mansi. Awalnya saya menolak karena saya pikir itu merupakan perjalanan jauh yang melelahkan, namun dengan sedikit pakasaan Bungsu terus mengajak saya dan saya iyakan saja.

            Vega baru saja pulang dari hutan menemani Mamak Rangga mencari rebung. Mamak Rangga yang tengah mengandung Sembilan bulan kurang masih sangat kuat berjalan jauh, mencari bahan makanan di hutan. Belum sempat Vega mandi, datanglah Mamak Weny dan Bungsu mengajak kami segera berangkat ke kampung Suak Mansi. Saat itu kami berangkat pukul satu siang kurang beberapa menit. Saya, Vega, Bang Jo, Mamak Weny, Bungsu, Akuang, Asiung, berjalan beriringan menembus hutan dan ladang, juga menyebrangi sungai Melawi  dan masuk-keluar semak belukar hingga beberapa kali. Saat mendekati desa Suak mansi, di dalam hutan kami berpas-pasan dengan rombongan dari desa lain. Rombongan tersebut berada di dalam hutan di seberang sungai. Saya tak mampu melihat mereka. Tiba tiba saja anak-anak yang berjalan bersama rombongan saya tadi membunyikan suara seperti suara orang utan atau burung, ah entahlah, “Uuuuukkkkk…...Uuuuuukkkk….”, “Ooooooiiiiiikkkkk…..Ooooooiiiiikkkk…..” bersahutan berkali-kali. Ternyata bunyi-bunyian ini merupakan sebuah tanda bahwa kami sedang menyapa mereka dan kemudian mereka akan membalas sapaan kami tersebut dengan cara yang sama. Cara komunikasi dan bersosialisasi di dalam hutan meski dalam jarak yang jauh. Satu setengah jam kemudian sampailah kami di tepi desa Suak Mansi. Kami bertemu dengan serombongan ibu-ibu yang kami sapa di dalam hutan tadi. Rombongan ibu-ibu tersebut datang ke kampung Suak Mansi dengan tujuan yang sama, yaitu melihat keramaian dan menonton pertandingan bola.
            Selama perjalanan ke Suak Mansi, saya sangat kehausan, jadi ketika melihat ada warung yang menjual aneka minuman bungkus, saya langsung menyerbunya dan memesan satu bungkus es. Setelah lepas dari dahaga, saya melanjutkan perjalanan menuju lapangan sepak bola yang berada di seberang sungai Melawi. Dari kejauhan saya melihat Mbak Niah sedang duduk-duduk di teras sebuah rumah bertingkat. Saya bergegas mendatangi mbak Niah dengan sumringah. Di teras rumah yang membuka warung kecil-kecilan tersebut saya duduk dan bercerita banyak tentang pengalaman baru saya di Landau. Mbak Niah mengenalkan saya kepada seorang bapak dan ibu berwajah Jaawa yang ternyata benar orang keturunan Jawa bernama Pak Sutarmin (atau biasa dipanggil Pak Tulo) dan Bu Sugiharti.

Mbak Niah menceritakan keluh kesah saya kepada kedua orang tua barunya ini. Mbak Niah mendadak mengajak saya untuk pindah ke kampung Suak Mansi dan tiggal bersamanya. Setali tiga uang, hal yang sama pun diutarakan Pak Tulo. Beliau meminta saya untuk tinggal di rumahnya saja sambil menemani Mbak Niah dan berpuasa bersama-sama. Saat itu saya tidak langsung mengiyakan penawaran Bapak. Saya masih berpikir ulang, bagaimana cara saya pindah dari kampung Landau, bagaimana perizinan dengan Pak Gimon dan keluarga, bagaimana dengan tema riset yang saya ambil. Saya sangat kebingungan. Akhirnya saya  memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan Mbak Niah dan mas Ardan terlebih dahulu.

Saya pergi ke seberang untuk menonton pertandingan bola. Ternyata di lapangan seberang tidak hanya ada pertandingan bola, tetapi sudah seperti pasar pindah atau pasar dadakan. Ada sederetan warung-warung tenda biru yang menjual aneka makanan dan jajanan serta berbagai jenis minum-minuman, mulai dari yang soft hingga yang keras (minuman keras).
Di seberang, saya memasuki suatu tempat yang letaknya terpisah dari deretan warung-warung, ia tepat berada di dekat gawang lapangan sepak bola. Tempat itu dinaungi oleh tenda terpal berwarna biru. Rangka bangunan dibuat menggunakan kayu yang masih bulat-bulat. Sebagai tempat duduk dan mejanya, dibuat dari bilah-bilah papan kayu dan disusun rapi. Ketika saya memasuki tempat itu, saya langsung tertarik duduk di atas meja di belakang seorang pria berambut gondrong yang awalnya saya kira seorang wanita.  Saya duduk di sebelah sederetan gambar-gambar yang menarik perhatian saya. Saya hanya diam mengamati. Ketika mengeluarkan kamera, orang-orang memelototi saya. Ada seorang pemuda ber-singlet dan menggenggam uang sepuluh ribuan di tangannya yang menegur saya dengan suara agak besar, “jangan poto kame’! Nanti datang polisi”. Lantas saya langsung membalas pernyataan dari abang tadi, “saya cuma pengen poto buat kenang-kenangan kok Bang, gak akan saya laporkan ke polisi”. Abang ber-singlet tadi terus ngotot sambil melihat tajam ke arah saya dan berkata, “nanti kau poto, kau bawa ke Jawa keh? Nak liatin orang Jawa kalo kame’ neh main kolok-kolok. Macam-macam jak hei”. Pengunjung tempat it uterus memperhatikan gerak-gerik saya.
“Abang percaya jak, saya gak akan melaporkan abang-abang ini main. Foto-foto Cuma jadi kenang-kenangan saya di kampung sini bang. Gakpapa ya saya foto?” ujarku meyakinkan dan meminta izin mengambil gambar. Kemudian seorang pria yang kerjanya hanya menggulingkan dadu-dadu yang berada dalam ember menyahut saya,  “iya poto jak, gakpapa mah”. Saya berterima kasih kepada bapak tadi, yang kemudian saya ketahui bernama Waluyo, seorang bandar kolok-kolok dari kampung Melawi. Saya langsung mengambil beberapa foto secara cepat dan membuat rekaman video tanpa mereka ketahui. Saya memfokuskan arah rekaman video yang saya buat kepada anak-anak yang tengah asik bermain.

Di lingkungan sekitar meja kolok-kolok memang sangat mudah ditemukan anak-anak, mulai dari anak balita, anak usia sekolah SD hingga anak remaja. Saya menaksir umur mereka mulai dari 4 hingga 16 tahun. Saya tertarik dengan seorang anak perempuan yang berada di arah 45 derajat dari arah saya duduk. Ia sedang memegang uang seribuan sebanyak tujuh lembar. Setiap kali dadu dalam ember selesai digoncang, ia melipat uang seribuannya melintang di beberapa gambar. Kali itu ia memasang tiga ribu rupiah di atas kombinasi enam gambar. Saat ember dibuka, semua uang yang diletakkan pada beberapa gambar yang meleset atau tidak keluar, ditarik dan di letakkan ke samping bandar. Sementara anak perempuan yang saya amati tadi, hanya satu saja tebakannya yang meleset. Dari uang dua ribu rupiah, ia mendapatkan kelipatan sebanyak sepuluh ribu rupiah. Itu artinya, dalam permainan judi ini, jika memasang kombinasi dua gambar akan mendapatkan keuntungan 500 persen dari nilai uang yang ia taruhkan. Ketika anak perempuan tersebut mendapatkan uangnya, seorang ibu yang saya pastikan adalah ibu dari anak tersebut meminta sebagian uang si anak. Sang ibu telah kehabisan uangnya karena ia kalah terus. Anak perempuan cantik tersebut bernama Anjela. Ia bermain kolok-kolok didampingi ayah dan ibunya. Anjela dapat bermain dengan baik, karena uangnya terus bertambah meskipun tak jarang, bandar mengambil uangnya karena salah menebak. Sementara itu, kedua orang Anjela selalu kehabisan uang mereka karena salah terus dalam menebak gambar apa yang keluar.


Sekumpulan orang yang sedang bermain kolok-kolok


Saya melihat permainan judi kolok-kolok ini merupakan permainan judi yang lumayan sederhana, oleh sebab itu, tidak dipungkiri bahwa anak-anak pun sangat memungkinkan ikut berpartisipasi. Saat itu saya belum berpikir banyak tentang permainan judi ini. Saya melihat-lihat ke sekeliling lapangan bola, ah… banyak sekali anak-anak babi, ada babi besar juga dan anjing-anjing besar dan tinggi seperti seekor serigala. Agak menyeramkan bagi mereka yang takut pada hewan-hewan tersebut, untungnya saya berani. Saya melihat salah satu rekan saya yang bernama Afro. Ia sedang berdiri di dekat panggung hiburan. Saya mendatanginya dan berbincang dengannya. Tiba-tiba saja, tak berapa lama berbincang dengan Afro, tiga orang anak perempuan mendatangi saya dan mengajak saya berkenalan,
“hai kakak” kata salah satu anak yang memakai baju pink menyapa saya
“hai adek (nyengir kuda)” balasku ramah
“kakak, nama kakak siape keh? Kame’ nih dari tadi tengok kakak nak kenalan bah kak” katanya lagi dengan wajah polos
“oalah, iya boleh-boleh. Nama kakak, Izza. Nama kamu siapa dek?”
“aku memey” kata anak berbaju pink tadi
“kalau kamu siapa dek?” tanyaku sambil membelai kepala anak perempuan berbaju merah
“aku Susan, kak” jawabnya sambil senyum-senyum sendiri
“kalo kamu siapa dek?” tanyaku pada seorang anak perempuan berbaju kuning
“aku Devi” jawabnya malu-malu
“Kak, kalo abang yang rambutnya besar itu siape keh namanya?” Tanya Memey penasaran
“ahh… itu teman kakak, namanya Bang Afro. Kenape? Kau suka keh sama rambutnya?” tanyaku menggoda adik-adik tadi
“rambutnya aneh kak, lucu. Asli keh?” Tanya Memey lagi
“mau kau pegangnye?” tanyaku iseng
“mau .. mau… mau” jawab mereka bertiga serempak
“sebentar ya, kakak bilang ke Bang Afro dulu”
Aku mendatangi Afro, meminta izin supaya anak-anak bisa memegang rambutnya. Wajah Afro langsung berubah, sepertinya ia tidak mau. Tetapi, anak-anak tidak kehabisan akal. Saat itu Afro sedang jongkonk, anak-anak langsung saja memegang-megang rambutnya dan berkata “kame’ dah megang rambutnya abang, kak”. Tampak suatu keceriaan dari wajah mereka setelah memegang rambut Afro. Ah… dasar anak-anak, ada-ada saja tingkahnya yang mengundang tawa.
            Memey menggelayuti tangan kiriku. Ia seperti manja kepadaku, padahal kami baru saja bertemu dan berkenalan. Saya melihat ada seorang penjual sosis bakar di dekat tempat kolok-kolok. Saya berinisiatif membelikan anak-anak itu sosis bakar. Satu tusuk sosis bakar dihargai dua ribu rupiah. Mereka sangat senang dan menyantap sosis tersebut dengan lahapnya.

            Pukul lima sore, saya mengajak anak-anak mengantarkan saya menyebrangi sungai untuk pulang. Mereka menemani saya menyebrang sungai dan mengantar saya ke rumah Pak Tulo, bapaknya Mbak Niah. Sesampainya di depan rumah, saya melihat Pak Tulo dan Pak Gimon sedang berbincang. Ternyata mereka saling kenal dan akrab. Tiba-tiba saja, Pak Tulo menawarkan saya kembali untuk menginap di rumahnya saja. Pak Tulo bilang ia telah meminta saya kepada Pak Gimon. Saya masih berpikir ulang. Anak-anak kecil tadi mendorong saya untuk pindah saja ke Suak Mansi. Namun, ada rasa takut dan tidak enak yang melanda hati dan pikiran saya. Saya takut tema riset saya melenceng. Saya takut apa yang saya cari tidak saya temukan. Saya tidak enak hati juga dengan keluarga Pak Gimon atas kepindahan saya yang begitu mendadak. Disisi lain, saya juga sudah merasa sayang dan menganggap mamak di Landau itu seperti mamak saya sendiri. Saya sayang dengan mamak Enes. Besok sudah memasuki hari puasa pertama. Saya bingung siapa yang akan memasakkan saya makanan untuk sahur. Saya juga tidak enak hati dengan masyarakat Landau atas kepindahan saya yang mendadak ini, nantinya.

            Pak Tulo terus meyakinkan saya bahwa tidak akan terjadi apa-apa kalau saya pindah. Bapak Tulo juga meyakinkan saya bahwa ia yang menginginkan saya berada disana, masuk dan tinggal bersama keluarganya. Mbak Niah pun mengajak saya untuk pindah. Akhirnya, setelah berkutat dengan pertempuran batin selama kurang lebih setengah jam, saya memutuskan untuk pindah ke Suak Mansi sore itu. Dengan perasaan yang senang sekaligus sedih, saya dibonceng Pak Tulo menembus hutan sawit dan karet menuju Landau.
Sesampainya di rumah, saya bertemu Mamak Enes, saya meminta izin kepada mamak untuk merelakan saya pindah kampung. Mamak bingung dengan kepindahan saya yang mendadak. Ya, saya mengerti itu. Saya pun merasa tak enak hati. Namun, keputusan sudah saya ambil dan jalani.

Saya membenahi seluruh barang bawaan saya. Saya meninggalkan tiga bungkus kopi dan satu kalender cetakan Jurusan Antroplog Budaya UGM kepada mamak untuk dibagikan ke siapa saja yang mau. Sebelum berangkat, mamak menyuruh saya makan terlebih dahulu. Saya menyantap sayur cangkok, ikan asin dan sambal mamak dengan lahap bersama Pinsen. Setelah itu, saya membawa barang-barang keluar rumah. Di depan rumah, ibu-ibu dan anak-anak sudah berkumpul untuk melihat saya. Saya memeluk dan mencium mamak berkali-kali. Saya dan mamak menangis. Entah mengapa saat itu ada rasa tidak rela berpisah dengan keluarga Dayak yang sangat baik hati dan penuh kasih sayang. Mamak Enes merupakan sosok yang membuat saya nyaman tinggal di rumah mereka. Sorot mata mamak menyiratkan keikhlasan. Namun aku pergi ke kampung lain dengan segudang harapan. Harapan akan menjalankan ibadah puasa dengan baik. Harapan agar bisa sahur dan berbuka bersama-sama. Harapan agar saya dapat menyelesaikan tugas saya dengan sangat baik.

Pak Tulo masuk ke rumah Pak Gimon. Di atas meja sudut ruang tamu, serah-terima dilakukan. Bapak meminta saya tinggal di rumahnya, kemudian pak Gimon menyerahkan saya tinggal di rumah Pak Tulo. Pada akhirnya Bapak menerima tanggung jawab untuk menjaga saya dan menampung saya di rumahnya. Selesai serah terima, saya mencium tangan Pak Gimon. Saya memeluk dan mencium pipi mamak untuk terakhir kalinya. Saya mencium nenek, Pinsen dan Joni sebagai salam perpisahan.

Malam pertama di Suak Mansi, saya langsung ikut shalat tarawih berjamaah di mushola. Setelah shalat tarawih, tiba-tiba saja ibu-ibu jemaah shalat berhamburan keluar menuju rumah yang ada di samping kiri mushola. Tak lama kemudian, rombongan ibu-ibu yang keluar tadi kembali masuk mushola dengan membawa nampan yang terbuat dari aluminium tebal dan lebar berisi makanan. Ada ayam utuh yang sudah direbus atau di-ungkep, kue apem, nasi dalam bakul yang terbuat dari anyaman rotan, iwak peyek, tempe goreng, opor, kerupuk, bihun goreng dan kue-kue basah. Semua bekerja sangat cepat, saya secara reflek ikut berlari menuju rumah yang kemudian saya ketahui merupakan milik keluarga pak imam mushola. Saya pun turut mengangkut nampan berisi nasi dan kedua kalinya saya membawa termos air putih berukuran sedang dan lumayan berat.


Ketika semua jemaah telah berkumpul dan duduk dengan manis (mungkin juga duduk dengan perut keroncongan), Pak imam mushola memimpin shalawat dan doa-doa yang cukup panjang. Diantara doa-doa yang menggunakan bahasa Arab, juga diseligi doa-doa yang berbahasa Jawa. Saya merekam acara tersebut pada telepin genggam saya sebagai kenang-kenangan.
Setelah memanjatkan doa-doa yag cukup panjang, pak imam mempersilakan kami menyantap makanan yang mereka sebut "berkat".
Semua jemaah menyantap makanan dengan penuh sukacita, begitu pun saya yang merasa sedang mendapat rezeki nomplok :D






**bersambuuuuuung yaaa........
SHARE 2 comments

Add your comment

  1. mantapp. salam kenal.. saya dulu sekolah dui sdn 26 suak mansi. sering jalan kakai dengan almahrum mamak waktu kecil jualan cabe ke landau, skrg saya menetap di pontianak, sejak kuliah hingga sekarang,, semoga sukses ya

    BalasHapus

© Alfizza Murdiyono · Designed by Sahabat Hosting