BERFOYA-FOYA MENJELANG HARI RAYA

in , , by nyakizza.blogspot.com, 11.52

Konsumsi yang boros pada hari-hari menjelang hari raya Idul Fitri ...

Pendahuluan

Hari-hari dalam bulan Ramadhan menjadi hari-hari yang paling istimewa bagi umat Islam seantero dunia.  Selama bulan Ramadhan, umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Ibadah puasa merupakan simbol dari laku prihatin seorang manusia, dimana seseorang dilatih untuk mampu menahan segala hawa nafsu keduniawiannya dan lebih banyak mendekatkan diri pada Sang Khalik. Sehingga, pada akhirnya, Idul Fitri menjadi puncak perayaan kemenangan seorang muslim dalam memerangi hawa nafsunya sendiri dan menjadi pribadi yang fitrah atau suci kembali.
Hari raya Idul Fitri dirayakan umat Islam dalam satu tahun sekali setelah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Untuk menyambut hari raya Idul Fitri, umat Islam berusaha menyediakan dana khusus yang tak jarang jumlahnya sangat banyak. Umat Islam pada kenyataannya sering alpa akan tujuan utamanya di bulan Ramadhan ini. Hari-hari istimewa yang penuh berkah yang seharusnya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk beribadah, justru digunakan untuk memenuhi berbagai tuntutan diri, menuruti hawa nafsu. Kegiatan mengkonsumsi merupakan hal yang wajar dalam kehidupan ini, bahkan bisa saya katakana suatu kebutuhan untuk mempertahankan hidup. Namun, masyarakat sudah tidak lagi mengkonsumsi kebutuhan hidup, melainkan terjebak dalam perilaku konsumsi yang boros. Konsumsi lebih mencirikan adanya usaha manusia menemukan konsepsi dirinya atau identitas diri. Tak jarang, masyarakat mengkonsumsi merek dagang, gaya hidup dan prestise ketimbang nilai guna.
Orang-orang akan mengumpulkan uang sebanyak mungkin dan uang yang terkumpul sebagian besar akan dialokasikan sebagai dana hari raya. Dana hari raya tersebut akan  dialokasikan sebagian besar untuk membeli pakaian yang baru dan bagus, sajian hari raya berupa makanan ringan (kue-kue kering dan basah, softdrink atau sirup) hingga makanan berat (nasi dan lauk-pauk). Belum lagi orang tua harus menyisihkan sebagian uangnya untuk dimasukkan ke dalam amplop sebagai salam tempel bagi anak-anak saudaranya.
Kebutuhan akan pakaian bagus dan sajian lebaran ini dilihat oleh para kapitalis sebagai kesempatan yang sangat tepat untuk meraup keuntungan besar. Pada pasar-pasar tradisional, menjelang hari raya pasti akan penuh sesak oleh ibu-ibu yang berbelanja berbagai kebutuhan konsumsi di hari raya. Permintaan akan daging sapi dan ayam akan meningkat tajam. Kebiasaan para ibu menyajikan rendang sapi atau opor ayam sudah dipahami semua pedagang daging dan bumbu dapur. Para pedagang daging dan bumbu dapur (tomat, cabe, kunyit, dst) memanfaatkan keadaan ini untuk memperoleh laba yang banyak. Mereka akan menaikkan harga jual hingga mencapai 50%. Bahkan parahnya lagi, untuk daerah-daerah di luar Jawa, pedagang berani menaikkan harga jual sebanyak 100% dari harga jual pada hari biasa. Umumnya mereka beralasan harga barang kebutuhan naik dan ongkos kirim menggunakan kapal laut juga naik, jadi mau tidak mau mereka ikut menaikkan harga penjualan. Peningkatan harga yang signifikan ini, memang menuai banyak keluhan dari para ibu, namun kebutuhan tetap saja kebutuhan, mereka tetap membeli barang tersebut. Kenaikan harga barang justru sudah dianggap wajar.
            Pada pusat-pusat perbelanjaan seperti mall atau plaza, sudah menjadi kebiasaan di setiap mendekati hari raya Idul Fitri mengadakan bazar atau diskon atau disebut juga great sale. Hampir semua produk yang ditawarkan mendapatkan potongan harga (diskon) 10% hingga 70%, ada pula penawaran diskon bertingkat, yaitu misalnya 20%+20% hingga diskon tertinggi mencapai 50%+50% off. Penawaran potongan harga begitu gencar dilaksanakan. Spanduk-spanduk informasi diskon dipajang dimana-mana, membuat orang tertarik untuk datang ke pusat perbelanjaan, berbondong-bondong.

            Melihat berbagai fenomena ekonomi, sosial dan budaya yang terjadi pada hari-hari menjelang hari raya Idul Fitri, ada hal yang sebenarnya sangat penting untuk dipahami masyarakat sebagai sebuah masalah yang harus segera dicarikan solusinya. Bagaimana bentuk-bentuk tradisi konsumsi pada hari-hari menjelang perayaan hari raya Idul Fitri?  Mengapa setiap menjelang Ramadhan dan hari raya Idul Fitri harga barang meroket? Mengapa pula masyarakat ‘dibuai’ dengan berbagai penawaran diskon yang menyebabkan masyarakat ‘jor-joran’ mengeluaran uangnya sehingga menciptakan suatu perilaku konsumsi yang boros?

Produksi dan konsumsi merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam sosiologi sudah banyak yang mengkaji masalah produksi, namun baru sedikit yang mempunyai ketertarikan pada masalah konsumsi. Baru-baru ini masalah konsumsi semakin banyak dilirik oleh para sosiolog. Pada teori sosial posmodern, masyarakat era posmodernis digambarkan sebagai masyarakat konsumen. Intinya, teori posmodern memiliki penekanan bahwa konsumsi memainkan suatu peran penting (sentral) pada teori tersebut.
Perilaku konsumsi dipandang bukan lagi sekadar untuk memenuhi berbagai kebutuhan primer yang bersifat fisik dan biologi seseorang tetapi berkaitan erat dengan berbagai aspek sosial budaya. Pada setiap perilaku konsumsi selalu terdapat unsur selera, simbol identitas dan gaya hidup. Ketiga unsur tersebut dapat berubah sesuai dengan persepsi orang terhadap suatu barang dan dipengaruhi oleh persepsi orang lain disekitarnya. Selera menjadi hal yang sangat labil karena begitu mudah berubah ketika seseorang mendapat pengaruh dari orang lain. Barang yang dikonsumsi pun menjadi suatu simbol identitas yang menunjukkan dimana posisi seseorang berada. Pada akhirnya, konsumsi menjadi sebuah gaya hidup yang tak terelakkan bahkan selalu dibutuhkan.
Sosiolog yang pemikirannya tentang konsumsi selalu dipakai sebagai referensi adalah Thorstein Veblen dan B. F Skinner dengan teori behavioristik untuk mengkaji fenomena diskon.
Veblen (1899/1994) mengenalkan konsep “konsumsi yang boros” dan memandang selera sebagai senjata dalam berkompetisi. Kompetisi yang dimaksud disini adalah pertunjukan keperkasaan seseorang yang sangat dihargai dalam wujud keperkasaan fisik (pada masyarakat tradisional) dan keperkasaan atas simbol-simbol pemilikan kesejahteraan (pada masyarakat industi/modern).
Sementara itu, B. F. Skinner dalam teori behavioristiknya , menyebutkan bahwa semakin meningkatnya keuntungan perusahaan menjadikan suatu penguatan (reinforcement) bagi perusahaan sehingga mempengaruhi perilaku perusahaan (respon). Respon dari perusahaan tersebut adalah dengan diberikannya hadiah dan diskon kepada konsumen sehingga konsumen tetap mengkonsumsi barang-barang yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut. Logikanya, semakin banyak diskon (misalnya dengan promosi “buy two pieces, get one, free”) dapat meningkatkan permintaan dari konsumen dan perusahaan memperoleh keuntungan.
-

Seluruh umat Islam di dunia merayakan hari raya Idul Fitri sebagai wujud kemenangan mereka atas perlawanan terhadap berbagai hawa nafsu keduniawian. Pada hari raya Idul Fitri ini, umat Islam akan merayakannya dengan meriah. Semua orang bersenang-senang. Perayaan hari raya Idul Fitri tak dapat dipisahkan dari unsur sosial, budaya dan tentunya ekonomi. Perilaku-perilaku ekonomi yang mengarah pada perilaku konsumsi yang boros tampak jelas, terutama pada hari-hari menjelang perayaan hari raya Idul Fitri.

“Dan diceritakan dari Ibnu Umar r.a. bahwa dia memakai pakaiannya yang paling indah pada dua hari raya (Sunan Al-Baihaqi: 3/281) Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Dan Nabi saw memakai pakaian yang paling indah pada dua hari raya, maka beliau memiliki pakaian khusus yang dipakainya pada dua hari raya dan hari Jum’at” (Zadul Ma’ad: 1/441)”
Hadist yang menganjurkan umat Islam untuk mengenakan pakaian yang terbaik pada hari raya Idul Fitri telah dipahami secara keliru oleh umat Islam itu sendiri. Pakaian yang terbaik dipahami secara polos sebagai pakaian baru yang menjadi keharusan dan menimbulkan sikap konsumtif dalam masyarakat. Terkadang, orang tua merasa gagal ketika tak mampu memberikan anak-anaknya pakaian baru di hari raya. Demi mendapatkan barang-barang yang mereka inginkan, orang berkerja keras dan rela jor-joran mengeluarkan uang yang telah mereka kumpulkan. Padahal dalam hadist lain disebutkan bahwa berlebih-lebihan adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah SWT.

Untuk memenuhi kebutuhan primer maupun sekundernya menjelang hari raya, masyarakat umumnya akan pergi berbelanja ke pasar tradisional dan pasar modern. Namun, belakangan ini, terdapat modifikasi bentuk pasar yang menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi yaitu ditandai dengan munculnya pasar-pasar maya atau pasar online. Di pasar online, calon pembeli tidak dapat melihat dan meraba barang yang akan ia beli secara langsung. Pada setiap jenis pasar akan menunjukkan perilaku-perilaku konsumsi yang sama yaitu konsumsi yang boros. Bahkan demi memilki sesuatu yang baru di hari ‘kemenangan’ ini, tak jarang mereka menahan malu untuk meminjam sejumlah uang pada kerabat maupun melakukan pembelian dengan sistem pembayaran kredit.

Konsumsi yang Boros

Jauh-jauh hari sebelum perayaan hari raya Idul Fitri berlangsung, sekitar sebulan sebelumnya, baik pasar tradisional maupun pasar modern sudah dibanjiri pengunjung. Pengunjung datang dengan motif dan tujuannya masing-masing. Di pasar tradisional, kebanyakan pengunjung yang datang membeli sembako yang jumlahnya banyak atau grosir. Sebagian besar pembeli barang dalam jumlah banyak (grosir) ini bertujuan untuk menyetok bahan makanan pokok sebelum harganya lebih tinggi lagi, ada yang berencana menjual makanan, dan adapula yang akan menjualnya lagi secara eceran.
Memanfaatkan  momentum hari raya Idul Fitri, pusat-pusat perbelanjaan atau mall mulai menggelar pesta diskon. Pusat-pusat perbelanjaan itu menawarkan potongan harga yang sangat menggiurkan, mulai dari potongan terendah 10% hingga 70%, bahkan ada pula potongan harga bertingkat misalnya 20%+20% hingga 50%+50% dari harga normal. Penawaran yang sangat menarik bagi masyarakat untuk memiliki barang yang lebih murah dari harga normal di hari biasa. Oleh sebab itu, pusat-pusat perbelanjaan yang penuh sesak oleh pengunjung pada bulan Ramadhan maupun di hari-hari menjelang hari raya sudah menjadi pemandangan yang lumrah. Mereka datang dengan berbagai motif. Ada yang memang datang untuk berbelanja karena riil demi memenuhi kebutuhan hari raya, ada yang sekadar ingin memenuhi hasrat untuk memiliki suatu barang yang diidam-idamkan sejak lama, ada pula yang sekadar ingin memuaskan imajinasi semata. Mall memfasilitasi imajinasi konsumsi manusia. Semua orang bisa datang ke mall dengan berbagai tujuan, tidak hanya untuk berbelanja. Mall menjadi sarana rekreasi pribadi hingga keluarga. Tidak harus membeli apapun, kita bisa mencoba-coba barang yang dijajakan di mall. Mall terlihat layaknya rimba, rimba produk kapital yang jika tersesat di dalamnya, maka seseorang bisa menjadi lupa diri. Lupa diri disini dalam hal membelanjakan uang sehingga menimbulkan perilaku konsumsi yang boros.
Penawaran diskon dan hadiah pada sebagian besar barang di mall menjadi daya tarik yang begitu dahsyat bagi para konsumen. Diskon dan hadiah bagi B. F. Skinner merupakan wujud respon dari perusahaan kapital kepada para konsumen setianya. Berkat kesetiaan konsumen produk mereka, perusahaan yang memproduksi barang tersebut meraup untung besar. Tentu perusahaan tak ingin kehilangan konsumen mereka, alih-alih dibuatkanlah diskon-diskon dan hadia menarik. Dengan alih-alih diskon dan hadiah ini, konsumen terus berbelanja, terus mengkonsumsi. Konsumen kadang merasa perusahaan kapital ini tampak sangat berbaik hati, padahal pada kenyataannya justru mereka semakin untung.
Harga diskon dan hadiah (buy one, get one free misalnya) memiliki keterkaitan yang membentuk perilaku konsumsi yang boros dalam masyarakat. Perusahaan kapital telah mempermainkan emosional konsumen dengan strategi dagangnya ini. Sehingga harga diskon dan hadiah menjadi salah satu faktor yang dapat memotivasi konsumen untuk melakukan belanja hedonic. Didukung pula oleh suasana mall yang menyenangkan karena diiringi musik yang membangun mood serta suara pramuniaga di microphone yang sedang memberikan informasi terkait harga barang begitu menggairahkan. Fenomena yang paling mencolok adalah dimana rata-rata penawaran diskon ditujukan bagi kaum perempuan. Kebanyakan penawaran diskon diberlakukan pada pakaian-pakaian maupun aksesoris perempuan. Kapitalis cerdas menilai bahwa pengunjung pusat perbelanjaan kebanyakan dari kaum hawa dan secara psikologis, perempuan lebih mudah terhanyut dalam penawaran. Pusat perbelanjaan dianggap sebagai area kekuasaan para kaum perempuan. Konsepsi dalam masyarakat memposisikan perempuan sebagai manajer keuangan rumah tangga dan berbelanja menjadi keahlian seorang perempuan. Bagi sebagian konsumen dengan penghasilan dan daya beli tinggi, membeli produk atau barang dengan harga mahal tanpa diskon sekalipun dapat memberikan suatu pengalaman belanja yang menyenangkan. Namun, bagi sebagian orang lagi yang berdaya beli menengah ke bawah, mendapatkan barang yang banyak dengan harga yang relatif murah menjadi suatu prestasi yang membanggakan.
Tak mau kalah dari pusat-pusat perbelanjaan modern, pedagang di pasar tradisional pun akan menawarkan kebahagiaan tersendiri bagi konsumennya. Pedagang di pasar tradisional biasanya akan membuat penawaran cuci gudang atau obral barang dengan harga murah. Tujuan utama adanya cuci gudang ini adalah  untuk menghabiskan stok-stok barang lama di gudang dengan menjual barang-barang tersebut dengan harga yang cukup murah. Mereka tidak mengambil untung terlalu banyak seperti pada hari-hari biasanya. Yang utama adalah barang mereka cepat laku dan pedagang dapat keuntungan dan dapat mengisi toko dengan barang-barang baru dengan gaya yang lebih up to date.
Kesenangan yang dirasakan oleh konsumen pada saat mencari-cari produk dengan harga obral, melalui prosesi tawar-menawar harga dengan penjual, memilih-milih barang sesuai selera dan akhirnya berhasil menemukan produk sesuai dengan keinginan serta mendapatkan harga termurah tampaknya menjadi suatu tantangan dan sumber kebahagiaan tersendiri bagi konsumen di pasar tradisional. Barang yang sebenarnya tidak perlu, menjadi perlu karena konsumen diliputi perasaan ‘lapar mata’. Tanpa berpikir panjang, konsumen mengeluarkan sejumlah uang dan segera ia memiliki barang yang menarik di mata, namun belum tentu berguna di kemudian hari.
Masyarakat sangat difasilitasi untuk berbelanja, yang berarti mengonsumsi terus menerus. Munculnya tuntutan baru dari pegawai kepada pimpinannya karena gaji bulanan dianggap hanya memenuhi kebutuhan harian, sementara ada kebutuhan lain yang lebih besar di hari raya memunculkan adanya dana Tunjangan Hari Raya (THR). THR dalam hal ini menjadi suatu tanggung jawab sosial yang harus ditunaikan oleh para pemimpin kepada para karyawannya. THR ini pulalah yang dimanfaatkan sebagian besar masyarakat yang bekerja sebagai karyawan baik negeri maupun swasta untuk berbelanja.
Selain dukungan dana THR, adanya kesempatan yang begitu luas di waktu libur membuat konsumsi terus berlanjut. Leissure class sebagaimana yang dikemukakan Veblen dalam bukunya yang tersohor, The Theory of the Leissure Class (1899/1994) dipahami sebagaimana para pemimpin bisnis yang mendiami struktur kelas tertinggi yang memiliki waktu luang dan melakukan konsumsi yang boros. Pada era ini, waktu luang tak hanya dimiliki oleh para pemimpin bisnis. Waktu luang adalah milik semua orang dari semua kalangan. Waktu liburan atau cuti menjelang hari raya (bagi pegawai negeri sipil) menunjukkan adanya waktu luang dimana seseorang sedang tidak produktif.  Waktu libur menjelang hari raya Idul Fitri  ini kebanyakan digunakan untuk mempersiapkan hari raya yaitu dengan berbelanja berbagai keperluan perayaan. Keperluan  perayaan Idul Fitri yang paling mencolok berupa  jamuan hari raya seperti aneka kue kering, sirup, dan lauk-pauk khas hari raya Idul Fitri. Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah pakaian baru yang digunakan pada saat hari raya dan dikenakan pada saat bersilaturahmi ke tempat sanak saudara juga tetangga-tetangga sekitar.

Konsumsi meningkat, Harga melambung tinggi

Fenomena melambungnya harga barang kebutuhan pokok di bulan Ramadhan dan hari-hari menjelang perayaan hari raya Idul Fitri rutin terjadi di setiap tahun. Inflasi pun tak terelakkan lagi. Namun, masyarakat seolah tak ambil pusing dan terus berbelanja. Mereka membeli barang-barang baru, mulai dari pakaian berstel-stel, alas kaki (sandal, sepatu), telepon seluler atau gadget teranyar hingga kendaraan baru.
Kenaikan harga barang terutama sembako di pasar tradisional karena adanya permintaan yang tinggi dari konsumen. Terkadang pedagang mengkondisikan keadaan serba langka yang dibuat-buat agar konsumen panik dan menjadi ‘latah’ untuk berbelanja banyak barang menjelang hari raya. Lagi-lagi, pedagang mempermainkan emosional konsumen. Mengetahui permainan pasar yang tak sehat ini, pemerintah di beberapa daerah terutama daerah-daerah kota besar kerap mengadakan operasi pasar demi meminimalisir permainan harga pasar yang dibuat-buat.
Pemerintah terutama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) di tiap daerah (terutama daerah yang berpenduduk muslim banyak) ‘kocar-kacir’ berusaha menenangkan masyarakat agar tidak belanja berlebihan. Bank Indonesia sampai-sampai menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jawa Barat, untuk mengajak masyarakatnya agar tidak berbelanja secara berlebihan selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri 1435 Hijriah1. Ajakan itu disampaikan untuk mengurangi tingginya laju inflasi yang biasa terjadi di bulan Ramadhan. Inflasi sudah menjadi tradisi tambahan setiap bulan Ramadhan akibat adanya persepsi masyarakat yang takut kehabisan kebutuhan pokok, terutama kebutuhan daging, minyak dan gas (migas). Hal ini memicu masyarakat untuk melakukan aksi borong dan menumpuk sumber daya (men-stock).
Ketika itu, bulan Ramadhan kurang sebulan lagi, berarti hari raya Idul Fitri masih kurang dua bulan lagi. Rentang waktu yang masih begitu lama seolah kurang diperdulikan orang. Orang-orang terus berdatangan ke pasar tradisional untuk membeli berbagai kebutuhan puasa dan hari raya nanti. Toko tirai jendela, toko toples dan barang pecah belah, toko sembako dan bahan roti, ramai sekali dikunjungi calon pembeli. Menurut mereka, datang pada hari-hari jauh sebelum puasa dan hari raya menjedi strategi tersendiri demi menghindari lonjakan harga barang, terutama daging, sembako, minyak dan gas, serta bumbu dapur. Fenomena ke‘latah’an pedagang yang menaikkan harga barang-barang sudah terjadi berulang-ulang, sehingga menjadi kebiasaan dan masyarakat sudah lumrah. Oleh sebab itu, masyarakat juga ikut-ikutan latah dengan berbelanja kebutuhan dapur jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadhan atau hari raya.
Perdagangan di pasar tradisional yang masih menganut sistem tawar-menawar sehingga terjadilah interaksi antara pedagang dengan pengunjung atau calon pembeli. Tawar-menawar ini yang nantinya akan membangun hubungan kedekatan antara pembeli dengan penjual. Pada akhirnya, jika pembeli atau konsumen sudah merasa nyaman atau cocok dengan seorang pedagang, maka pembeli pasti akan kembali lagi kepada pedagang tersebut dan membentuk pola berlanggan. Pola berlangganan ini memiliki manfaaat yang cukup besar. Bagi pedagang, jika ia sudah memiliki pelanggan tetap, maka ia akan semakin percaya diri dengan kelangsungan usahanya. Setidaknya pedagang sudah mempunyai pengunjung tetap yang secara rutin akan membeli barang dagangannya. Pedagang pun sudah mengetahui pangsa pasar bagi dagangannya dan mengetahui dengan baik selera konsumsi konsumennya. Bagi pembeli, memiliki toko atau pedagang langganan juga memiliki manfaat, diantaranya yaitu pembeli dapat memesan barang yang ia inginkan kepada pedagang. Dalam tawar-menawar, pembeli sudah paham berapa perkiraan keuntungan yang akan diperoleh pedagang dan pembeli akan mengandalkan hubungan langganan tersebut untuk mendapatkan harga yang cocok. Manfaat lain yang dirasakan pelanggan adalah diberikannya tawaran-tawaran kredit barang dari pedagang karena pedagang sudah percaya kepada langganannya. Jika langganannya belum memiliki uang yang cukup untuk membeli barang dagangannya, maka pedagang akan menawarkan kredit atau hutang pada langganannya tersebut. Kredit yang mereka lakukan berasaskan rasa saling percaya. Dengan adanya sistem pembayaran kredit, konsumsi akan terus berlangsung.
Tradisi turut mendukung pola-pola perilaku konsumsi yang boros menjelang hari raya. Di Kota Semarang, ada sebuah tradisi tahunan yang diselenggarakan selama kurang lebih dua minggu sebelum puasa (hari terakhir bulan Sya’ban), yaitu tradisi Dugder. Tradisi Dugder ini dilaksanakan di kawasan Pasar tradisional Johar dan Yaik Semarang dan dan pusat perayaan tradisi ada di Masjid Agung Kauman Semarang. Perayaan tradisi Dugder diisi oleh pasar yang buka dari pagi hingga tengah malam. Pasar Dugder ini menjual berbagai perlengkapan menjelang Ramadhan dan hari raya serta menyajikan beragam hiburan rakyat. Barang-barang yang di jual di pasar Dugder sebenarnya sama saja dengan barang dagangan yang ada di pasar Johar. Namun, bedanya pasar Johar tutup lebih cepat yaitu pukul empat sore dan belum mulai membuka penawaran diskon atau obral barang. Pasar Dugder tidak pernah sepi pengunjung, terlebih bertepatan dengan masa liburan semester anak sekolah. Di pasar Dugder juga menghadirkan deretan warung tenda yang menjual makanan khas bulan Ramadhan dan hari raya, seperti kurma, lontong sayur, opor ayam, rendang dan warung es teler hingga warung susu instan.
Pada puncak perayaan tradisi Dugder (sehari sebelum puasa pertama di bulan Ramadhan) akan diadakan karnaval Dugder dengan arak-arakan anak-anak sekolah berpakaian adat maupun pakaian-pakaian tertentu dan menggotong ikon khas Dugder. Ikon khas Dugder disebut warak ngendog. Warak ngendog berwujud binatang yang berkepala naga, berbadan menyerupai kambing, bulunya terbuat dari bulu ayam yang arahnya terbalik. Bulu warak ngendog yang terbalik ini merupakan simbol dari titik walik atau titik balik yang bermakna melawan hawa nafsu. Secara inplisit, warak ngendog ini merupakan perwujudan harapan-harapan masyarakat pada bulan Ramadhan agar mereka bisa menahan ganasnya pengaruh hawa nafsu manusiawi.
Namun, pada praktiknya, dalam ritual Dugder yang didalamnya menawarkan berbagai arena konsumsi mulai dari entertainment (hiburan), wisata kuliner, dan tentunya pasar yang didominasi oleh pedagang pakaian. Pasar ini tentu menjadi sarana pemuasan hawa nafsu duniawi manusia melalui konsumsi. Misalnya saja, jika ingin mengkonsumsi hiburan (ada Tong Setan, Kora-kora, Bianglala, Kicir-kicir dst…) maka seseorang harus membeli (tiket atau karcis) dengan uang untuk mendapatkannya.  Sehingga harapan yang disimbolisasikan melalui Warak ngendog ini agaknya menjadi sesuatu yang berlawanan dengan keadaan riilnya di lapangan. Entah tradisi ritual ini sekarang sekadar menjadi tontonan ritual tradisi demi menarik wisatawan, namun nilai-nilai yang terkandung didalamnya tidak lagi dipraktikkan dalam kehidupan manusia itu sendiri.


Spirit Manusia Baru

Perayaan Idul Fitri menjadi symbol kemenangan umat Islam dalam memerangi hawa nafsunya sendiri melalui berpuasa selama satu bulan lamanya. Idul Fitri bukan diidentikkan dengan baju baru, perhiasan baru, kendaraan baru, fisik dan wajah yang baru, melainkan spirit dan jiwa-jiwa yang baru. Idul Fitri merupakan momentum dimana jiwa kita kembali ke fitrah, jiwa-jiwa yang suci yang menghasilkan manusia baru dengan kualitas jauh lebih baik dari sebelumnya.
Tidak ada yang salah dari aktivitas berbelanja, mengkonsumsi, dan menghadirkan suasana baru dalam menyambut hari raya Idul Fitri.  Kalau memang sanggup dan dana memadai silakan saja, namun jangan sampai hasrat ingin sesuatu yang baru justru membelit diri pada hutang-piutang yang menyulitkan dalam proses pengembaliannya.
“Baju baru… Alhamdulillah
Tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun… tak apa-apa
Masih ada baju yang lama…
Sepatu baru… Alhamdulillah
Tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun… tak apa-apa
Masih ada sepatu yang lama …”
Masih ingatkah dengan lagu anak-anak tahun 90’an yang dinyanyikan penyanyi cilik Dhea Ananda? Lagu ini setidaknya telah menyebarkan nilai-nilai sikap untuk selalu bersyukur dalam keadaan apapun, terutama saat hari raya. Tidak harus memaksakan diri membeli baju dan sepatu baru pada hari raya, jika baju dan sepatu yang lama masih bagus dan bisa dipakai.






DAFTAR BACAAN

Damsar. 2002. Sosiologi Ekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Duncan, Hugh Dalziel. 1997. Sosiologi Uang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi: Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern Edisi Kedelapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

*tulisan ini dikerjakan dalam waktu sekejap mata, mohon dikoreksi kalau ada yang tidak sesuai... makasiiihhh :)) *
SHARE 2 comments

Add your comment

  1. banyak orang yang terjebak dengan pemborosan saat menjelang lebaran,
    kalo saya sekarang lagi fokus ke Gamis Baru untuk berhijab, semoga bisa dikuatkan terus, salam

    BalasHapus
  2. Aa udh 5th trakhir ini jg bgtu mom.. tidak mmntingkan baju baru.. krna mau fokus utk ibadaah, jd d hati yg fitri kta bner2 fitri..

    BalasHapus

© Alfizza Murdiyono · Designed by Sahabat Hosting