Air merupakan kebutuhan esensial dalam keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Untuk menjaga ketersediaan dan melestarikan sumberdaya air agar tetap layak digunakan tentu dibutuhkan kolaborasi multipihak dalam pengelolaannya. Oleh sebab itu, aku ingin sekali membagikan informasi penting yang aku dapatkan saat mengikuti kegiatan Lokakarya Pengelolaan Terpadu DAS Rejoso melalui Investasi Bersama Sumberdaya Air pada tanggal 25 agustus 2022 di J.S. Luwansa, Jakarta.

Ada baiknya jika kita mengenal lokasi DAS Rejoso itu berada, yakni di Kabupaten Pasuruan. Kabupaten Pasuruan terletak di Provinsi Jawa Timur yang sebelah utara berbatasan dengan Kota Pasuruan, Selat Madura dan Kabupaten Sidoarjo, sebelah selatan dibatasi oleh Kab. Malang, sebelah Barat berbatasan dengan Kab. Mojokerto dan Kota Batu, serta sebelah Timur berbatasan dengan Kab. Probolinggo. 

Kabupaten Pasuruan memiliki potensi air yang melimpah. Air yang berasal dari mata air dan tampungan air hujan di punggung-punggung gunung mengalir melalui sungai-sungai kecil hingga bermuara ke sungai besar hingga membentuk Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS terdiri dari subsistem hulu, tengah dan hilir.

Citra satelit DAS Rejoso bagian hulu
Citra satelit DAS Rejoso bagian hulu (doc. Tim ICRAF)

Pemanfaatan dan Permasalahan DAS Rejoso

DAS Rejoso yang berhulu di kaki gunung Bromo melintasi 16 kecamatan di Kabupaten Pasuruan. Mata air Umbulan yang letaknya di tengah DAS Rejoso merupakan salah satu mata air dengan debit terbesar di Pulau Jawa. DAS Rejoso memiliki fungsi yang sangat strategis, yakni sebagai pemasok air bersih bagi wilayah Kabupaten Pasuruan dan sekitarnya, seperti Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Gresik. DAS Rejoso juga menyediakan berbagai sumber daya alam (SDA) untuk mendukung penghidupan masyarakat di sana. 

Mata pencaharian utama masyarakat di sekitar DAS Rejoso bagian hilir bersumber dari sektor pertanian (sawah dan/atau kebun), juga sektor peternakan dan kehutanan. Pertambangan batu dan pasir (galian C) juga mulai marak dilakukan belakangan ini sebagai alternatif sumber pendapatan. Sementara, masyarakat hulu yang bermukim di Kecamatan Tosari juga mengandalkan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan di samping pertanian.

Citra satelit DAS Rejoso bagian hilir
Citra satelit DAS Rejoso bagian hilir (doc. Tim ICRAF)

Meningkatnya aktivitas ekonomi di wilayah DAS Rejoso ternyata berdampak pada debit air yang kini terindikasi menyusut. Hal ini dapat terlihat dari turunnya debit Mata Air Umbulan dari 6.000 liter/detik (1980) menjadi sekitar 4.000 liter/detik (2018). Tekanan ekologi terhadap DAS Rejoso semakin meningkat, mulai dari perubahan tutupan lahan, dari hutan menjadi pertanian dan pemukiman, hingga penambangan galian C yang mempercepat laju erosi.

Pengeboran untuk pembuatan sumur artesis warga dan penggunaan air untuk industri juga di kawasan hilir kian meningkat. Lebih lanjut, pada tahun 2020, terdapat sekitar 600 titik sumur bor yang dibuat masyarakat untuk keperluan domestik dan pertanian dengan debit antara 2-20 liter per detik. Sumur bor tidak dilengkapi keran pengatur sehingga air terbuang percuma saat sedang tidak digunakan. 

Akibatnya, bila cekungan air tanah di DAS Rejoso kering, petani dan peternak pemakai air akan kesulitan. Sumur di rumah ibadah, sekolah, dan rumah tangga akan kering. Pelanggan air bersih dari SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) Umbulan yang mencapai jumlah 1,6 juta jiwa tentu juga akan kesulitan.

Danone-AQUA Penanaman phon dalam skema pembayaran jasa lingkungan
Penanaman phon dalam skema pembayaran jasa lingkungan (doc. Ronny-Danone)

Forum DAS Rejoso dan Program Rejoso Kita 

Saat ini ada sekitar 14 perusahaan multinasional serta ratusan perusahaan lokal yang beroperasi dan mengandalkan operasional bisnisnya dari ketersediaan air dari daerah aliran sungai yang ada di Pasuruan. Untuk menghindari degradasi lebih lanjut di masa depan, perlu dilakukan upaya pengelolaan DAS Rejoso secara terpadu dan berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi/komitmen multipihak, dalam hal ini pemerintah daerah, organisasi non-pemerintah, swasta, masyarakat/petani. 

Program Rejoso Kita merupakan kolaborasi multi pihak yang berupaya melestarikan DAS Rejoso melalui kegiatan percontohan berbasis penelitian seperti konversi lahan, penanaman pohon dengan sistem agroforestri, dan pertanian berkelanjutan. Danone-AQUA, selaku perusahaan yang aktif terlibat dalam pembentukan forum DAS Rejoso dan Program Rejoso Kita. Adapun kegiatan yang telah dilakukan, sebagai berikut:

AQUA Persebaran potensi sumber air di kawasan DAS Rejoso
Persebaran potensi sumber air di kawasan DAS Rejoso (doc. Danone)

Percontohan Pembayaran Jasa Lingkungan untuk Konversi Lahan (Penanaman Pohon)

Pada tahun 2016 sampai 2018, Rejoso Kita melaksanakan program percontohan skema pembayaran jasa lingkungan (PJL) untuk konservasi hulu dan tengah DAS Rejoso. Sebanyak 174 petani dari 12 kelompok tani pengelola lahan seluas 106,6 hektar di tujuh desa di Kecamatan Tosari dan Pasrepan mendapatkan pembayaran jasa lingkungan (Rp 1,5 juta/ha/tahun - Rp 3,2 juta/ha/tahun) atas upaya konservasi yang mereka lakukan.

Adapun upaya pemeliharaan yang dilakukan diantaranya menjaga dan mempertahankan 300-500 pohon per hektar, membuat strip rumput penahan erosi, dan membuat rorak untuk meningkatkan infiltrasi air hujan. Inisiasi ini didukung oleh Danone-AQUA, khususnya Pabrik Kebon candi yang memasok kebutuhan air minum dalam kemasan di wilayah Pasuruan, Jawa Timur.

Budi daya padi ramah lingkungan danone-aqua
Budi daya padi ramah lingkungan (doc. Ronny-Danone)

Budidaya Padi Ramah Lingkungan (BPRL) dan Pengelolaan Sumur Bor yang Aman dan Efisien

Selain melaksanakan program pilot pembayaran jasa lingkungan hidup, program Rejoso Kita yang dilaksanakan oleh ICRAF dengan dukungan Danone Ecosysteme Fund juga melaksanakan kegiatan pengenalan teknologi budidaya padi ramah lingkungan dan percontohan konstruksi dan manajemen pengelolaan sumur bor yang aman dan efisien di wilayah hilir DAS Rejoso. Program-program tersebut dirancang untuk menjawab berbagai persoalan DAS yang disebabkan oleh eksploitasi berlebihan, alih guna lahan, hilangnya vegetasi yang mengakibatkan terjadinya banjir, erosi tanah, longsor, bahkan kekeringan.

Praktik budidaya padi ramah lingkungan melalui perbaikan tata air, pola tanam, pengendalian hama dan penyakit (menggunakan biopestisida dan pupuk organik) dan aplikasi pemupukan berpotensi untuk meningkatkan produktivitas dan keuntungan, menurunkan emisi gas rumah kaca, serta efisiensi penggunaan air. Budidaya padi ramah lingkungan (BPRL) memiliki potensi menghasilkan gabah 32% lebih tinggi, dengan keuntungan bersih 123% lebih tinggi, mengemisikan gas rumah kaca 36% lebih rendah, dan menggunakan air 15% lebih efisien dibandingkan dengan praktik konvensional.

Proses pembuatan sumur percontohan dengan teknik konstruksi yang benar dan aman (doc. Ronny)

Pada tahun 2019, terdapat ±600 sumur bor yang tersebar di wilayah hilir DAS Rejoso. Hampir semuanya menggunakan konstruksi yang tidak sesuai, dari sisi efisiensi air dan keamanan. Air mengalir 24 jam walaupun tidak dibutuhkan sehingga cadangan air tanah terus menerus berkurang. Jika tidak bijak menggunakan air tanah dalam dan sumur bor tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan bencana lingkungan seperti kekeringan. Berikut konstruksi sumur bor yang benar dan aman, meliputi;

  1. Pemasangan pipa hingga dasar sumur (sesuai kedalaman pengeboran) untuk mencegah penyumbatan dan longsor

  2. Pengecoran semen dan sekeliling pipa untuk memperkuat dinding sumur

  3. Pemasangan kran pengatur air, sehingga dapat ditutup saat tidak digunakan.


Pengelolaan dan Perawatan sumur bor oleh 4 kelompok tani binaan (doc. Ronny)

Kolaborasi Multipihak Kunci Keberhasilan Pengelolaan Terpadu DAS Rejoso di Kabupaten Pasuruan

“Pengelolaan sumber daya alam tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah, tapi memerlukan keterlibatan aktif dan investasi seluruh pemangku kepentingan, utamanya masyarakat dan pengusaha yang memanfaatkan sumber daya alam tersebut. Dengan bekerja bersama dari hulu ke hilir, kami yakin DAS Rejoso akan terjaga dan dapat dimanfaatkan hingga bertahun-tahun yang akan datang. Kami juga mendorong DAS Rejoso untuk menjadi contoh baik pengelolaan DAS terpadu di dalam World Water Forum 2024 nanti,” papar Mochamad Saleh Nugrahadi, Ph. D (Asisten Deputi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Konservasi Sumber Daya Alam, Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi RI, mewakili Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi RI, Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan, M.P.A.)

Lokakarya Pengelolaan DAS Terpadu MElalui Investasi Bersama Sumber Daya Air (doc. pribadi)

Lokakarya yang diadakan oleh Forum Koordinasi Pengelolaan DAS Kabupaten Pasuruan (FDP) ini dihadiri kalangan pemerintah pusat dan perwakilan perusahaan yang beroperasi di wilayah Kabupaten Pasuruan. Pada kesempatan ini pula, Bupati Pasuruan yang diwakili Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Kabupaten Pasuruan, Rachmat Syarifuddin, S.Sos, menekankan perlunya keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan. Beliau juga menitipkan harapannya agar minat kalangan swasta untuk menjalankan usaha berbahan bahan baku air dapat diikuti dengan peran aktif mereka dalam pelestarian lingkungan guna memastikan keberlanjutan usaha.

Acara lokakarya yang diadakan di Jakarta ini menghadirkan beberapa narasumber yang juga menekankan perlunya ko-investasi dalam upaya rehabilitasi dan konservasi DAS Rejoso.

Di akhir sesi, Karyanto Wibowo, Direktur Sustainable Development Danone Indonesia menyampaikan keyakinannya bahwa dampak penyelamatan lingkungan ini akan lebih besar jika dilakukan secara bersama-sama. “Kita semua adalah pengguna air. Oleh karenanya, kami pun meyakini bahwa korporasi atau swasta bisa mengambil peran penting menjadi bagian dari aksi kolektif dalam pelestarian sumber daya air, karena lestarinya air adalah tanggung jawab dan masa depan kita bersama,” tutup Karyanto.

Momen simbolis dukungan Kolaborasi Bersama Kelola DAS Pasuruan (doc. pribadi)
Melalui lokakarya ini, diharapkan akan ada lebih banyak pihak swasta sebagai pemanfaat air di kawasan hilir DAS Rejoso yang peduli pada dampak lingkungan, sosial dan tata kelola dalam konteks pengelolaan DAS terpadu dan turut serta dalam skema pendanaan bagi petani kecil yang berkontribusi untuk peningkatan jasa ekosistem.

Danone Ecosysteme Fund adalah katalis dalam mengembangkan proyek untuk memajukan kepentingan publik di dalam ekosistem rantai nilai tempat Danone beroperasi. Sejak 2009, telah memberi dampak kepada lebih dari 5 juta orang dan bersama-sama membuat 100 proyek di seluruh dunia. Danone Ecosystem berfokus pada isu perlindungan mata air, pertanian regeneratif, daur ulang plastik inklusif, distribusi mikro, dan kesehatan. Info lebih lengkap, kunjungi ecosysteme.danone.com

Pendapat Petani Tentang Kolaborasi Pengelolaan DAS Rejoso dan Dampak yang Dirasakan

Pada akhir acara Lokakarya, aku sempat berbincang dengan bapak-bapak perwakilan petani yang hadir. Mereka adalah Pak Ahmad Miftah, pengurus Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) DAS Rejoso dan Pak Taufik, petani dampingan ICRAF.

Pak Miftah(kanan) dan Pak Taufik(kiri) Petani dampingan ICRAF (doc. pribadi)

Pak Miftah mengaku telah menikmati dari hasil kolaborasi multipihak yang telah berlangsung sejak tahun 2016 ini. “Kita bersyukur saat ini sudah terkoneksi dengan beberapa pemangku kepentingan dengan stakeholder di berbagai tingkatan. Setidaknya kami, para petani ada harapan baru semacam ada pendampingan, karena program sudah dirancang oleh ICRAF dan timnya betul-betul kami nikmati hasilnya. Sehingga kami berjalan dengan kaidah keilmuan dan seterusnya. Program ini kami berharap bisa berlanjut.” Ungkapnya.

Saat itu Pak Taufik juga menyampaikan bahwa ia merasakan satu tahun ini didampingi oleh ICRAF memicu petani bisa melakukan manuver yang semula memakai pupuk kimia sekarang bisa mengetahui cara berbudidaya ramah lingkungan.

Ketika berkunjung ke desa dan pegunungan di sekitar Bromo Tengger-Semeru, aku menikmati pemandangan indah dari sawah yang ijo royo-royo, barisan pohon cemara dan air sungai yang mengalir deras. Terkadang aku berpikir, apakah anak-cucuku nanti masih bisa menikmati apa yang kunikmati saat ini? Apalagi saat mendengar ada prediksi yang menyebut “Kabupaten Pasuruan Terancam Kekeringan Tahun 2050”. Tentu bukan hal yang mustahil dapat terjadi jika kita terus mengambil dari alam namun abai terhadap kelestariannya. Pada dasarnya, kita semua memanfaatkan sumber-sumber kehidupan yang berasal dari alam, untuk itu kita jugalah yang wajib bertanggung jawab melestarikannya.

Tulisan ini juga akan aku akhiri dengan harapan, semoga Kolaborasi Pemerintah, swasta (Danone Ecosystem), dan World Agroforestry dalam Pengelolaan Terpadu DAS Rejoso melalui Pertanian Berkelanjutan, Emisi Karbon Rendah dan Investasi bersama Sumberdaya Air ini dapat terus berjalan dan memberikan dampak positif terhadap lingkungan, sosial dan ekonomi masyarakat sekitar DAS Rejoso di Kabupaten Pasuruan.

#RejosoKita #PengelolaanDAS #KonservasiAir




SHARE 12 comments

Add your comment

  1. Penting bgt emang menjaga mata air, melestarikan alam. Karena dampaknya ini bakalan dirasakan anak cucu kita kelak. Thanks mbak tulisannya bagus bgt ❤️

    BalasHapus
  2. nah ini penting banget nih, btw rejoso juga kampung halaman ibuku dan emang sering banget banjir

    BalasHapus
  3. Kita suka lupa ya menjaga kelestarian airm tahunya cuma ngebor, make, udah gitu aja. Alhamdulillah dengan program kayak gini, makin banyak orang yang tahu dan sadar kalau kita jangan cuma bisa pakai aja.

    Vita mamanesia.com

    BalasHapus
  4. Mari jaga air karena dekat dengan kehidupan kita kekayaan air melimpah sampai anak cucu kita merasakan air

    BalasHapus
  5. program-programnya oke nih, jangan sampai sumber mata air bersih tercemar karena kelalaian satu atau dua pihak yang bisa merugikan masyarakat banyak..

    BalasHapus
  6. Bagus sekali program nya, memang kita harus peduli & menjaga lingkungan kelestarian alam yg nanti utk anak cucu kita

    BalasHapus
  7. Programnya bagus bgt untuk keberlangsungan hidup manusia ya karena air adalah kebutuhan utama & sangat penting.

    BalasHapus
  8. program yang bagus sekali ya, mbak karena pengelolaan air ini sangat penting untuk kesejahteraan orang banyak

    BalasHapus
  9. Ikut bangga sama Danone yang sudah melakukan kolaborasi dengan pemerintah setempat dan pihak terkait. Semoga program ini terus berjalan dan keadaan DAS Rejoso terus lestari

    BalasHapus
  10. Wahh, keren ya programnya. Ngeluarin inovasi yg bermanfaat tapi tetap ramah lingkungan. Bangga bgt sama pihak2 terkait yg ikut berkontribusi.

    BalasHapus
  11. Keren inovasi programnya. Semoga makin merata desa yg dapat program ini

    BalasHapus
  12. Sedih juga ya makin hari air makin menyusut. Untunglah banyak perusahaan yang mulai menyadari keadaan tersebut dan mencoba melakukan sesuatu agar penyusutan itu bisa dikendalikan. Suka sama program -programnya Danone nih

    BalasHapus

© Alfizza Murdiyono · Designed by Sahabat Hosting