Showing posts with label Danone Indonesia

Air merupakan kebutuhan esensial dalam keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Untuk menjaga ketersediaan dan melestarikan sumberdaya air agar tetap layak digunakan tentu dibutuhkan kolaborasi multipihak dalam pengelolaannya. Oleh sebab itu, aku ingin sekali membagikan informasi penting yang aku dapatkan saat mengikuti kegiatan Lokakarya Pengelolaan Terpadu DAS Rejoso melalui Investasi Bersama Sumberdaya Air pada tanggal 25 agustus 2022 di J.S. Luwansa, Jakarta.

Ada baiknya jika kita mengenal lokasi DAS Rejoso itu berada, yakni di Kabupaten Pasuruan. Kabupaten Pasuruan terletak di Provinsi Jawa Timur yang sebelah utara berbatasan dengan Kota Pasuruan, Selat Madura dan Kabupaten Sidoarjo, sebelah selatan dibatasi oleh Kab. Malang, sebelah Barat berbatasan dengan Kab. Mojokerto dan Kota Batu, serta sebelah Timur berbatasan dengan Kab. Probolinggo. 

Kabupaten Pasuruan memiliki potensi air yang melimpah. Air yang berasal dari mata air dan tampungan air hujan di punggung-punggung gunung mengalir melalui sungai-sungai kecil hingga bermuara ke sungai besar hingga membentuk Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS terdiri dari subsistem hulu, tengah dan hilir.

Citra satelit DAS Rejoso bagian hulu
Citra satelit DAS Rejoso bagian hulu (doc. Tim ICRAF)

Gaya Hidup Halal Fondasi Indonesia Sehat dan Kuat
Gaya Hidup Halal Fondasi Indonesia Sehat dan Kuat

Saat ini, kuliner bukan lagi sekadar urusan perut belaka. Kuliner menjadi gaya hidup, identitas budaya masyarakat dan sektor industri yang menjanjikan. Terlebih di kalangan anak muda yang suka bereksplorasi, kuliner menjadi hobi mengisi waktu luang, pelarian kala patah hati dan juga menjadi bahan konten di sosial media. Seiring dengan menjamurnya berbagai produk makanan, rumah makan dan restoran di Indonesia, aspek kehalalan produk-produk tersebut menjadi perhatian sebab Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Kini, produk halal tidak hanya diperuntukkan bagi umat beragama Islam, namun juga telah menjadi kepentingan seluruh kalangan masyarakat.

Aku sendiri mulai sadar akan pentingnya memastikan produk yang dikonsumsi halal atau tidak sejak tinggal di Bangkok selama beberapa bulan pada tahun 2016. Sebelumnya jarang sekali mengecek apakah produk yang dikonsumsi atau restoran yang dimasuki sudah resmi halal atau tidak. Ternyata pernyataan ‘No Pork/No Lard” saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa makanan di suatu restoran itu halal.

Pada satu momen aku sedang berlibur di Jogja dan ingin sekali makan ramen yang viral di media sosial karena digadang-gadang rasanya autentik dengan ramen asli Jepang. Akhirnya aku coba bertanya melalui Direct Massage (DM) Instagram resto ramen tersebut dan balasannya cukup mengejutkan. Mereka bilang resto mereka belum memiliki sertifikat halal dan di salah satu cabang resto menyediakan ramen non-halal. Mereka juga menyampaikan bahwa alat masak antara yang dianggap ‘halal’ terpisah dengan alat masak ramen non-halal. Sebagai umat Islam jujur ini membuatku semakin sadar pentingnya klaim resmi HALAL pada setiap produk yang akan dikonsumsi.

 Untuk menambah wawasan tentang gaya hidup halal, aku mengikuti webinar yang diadakan CNN Indonesia berkolaborasi dengan Danone Indonesia. Webinar ini mengangkat tema “Gaya Hidup Halal Fondasi Indonesia Sehat dan Kuat”. Narasumber yang dihadirkan pada webinar tersebut yakni ada Ibu Jetti Rosila Hadi, Vice Chairwoman Indonesia Halal Lifestyle Center; Bapak Dr. Muhammad Aqil Irham, M. Si, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal Indonesia (BPJPHI); dan Ibu Prima S Sehan Putri, Head of Regulatory Danone Indonesia.

Event Webinar CNN Indonesia x Danone Indonesia
Event Webinar CNN Indonesia x Danone Indonesia

Gaya Hidup Halal Milik Semua Orang

Potensi pasar produk halal di seluruh dunia sangat besar sebab jumlah umat Islam dunia saat ini sudah melebihi 1,6 miliar jiwa. Oleh sebab itu, perhatian pada kehalalan produk juga semakin meningkat.

Q.S. Al-Baqarah-168:

“Wahai manusia, Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Berdasarkan pemaparan Ibu Jetti Rosila Hadi, mengacu pada Q.S. Al-Baqarah-168, halal adalah himbauan untuk seluruh manusia, tapi halal juga bergandengan dengan baik. Jadi, tidak hanya halal, tapi juga harus bersih, sehat, aman dikonsumsi, nyaman dan bermutu. Ada hal-hal yang secara hukum islam halal tapi tidak baik, itu tidak bisa digunakan. Ada yang tidak halal tetapi dalam keadaan tertentu baik dan bermanfaat. Jadi, anjuran halal dan thayyib itu tidak hanya untuk umat Islam saja, namun juga untuk semua manusia yang menginginkan hidup lebih berkualitas.

Gaya hidup sesuai dengan selera dan pilihan masing-masing orang. Bagi umat Islam, aturan halal dan haram telah ditentukan dalam Al-Quran dan Hadist. Semua aktivitas yang kita lakukan dan barang atau jasa yang kita pakai selalu diusahakan agar halal dan thayyib. Sehari-hari umat muslim mulai dari bangun tidur, mandi, solat, berpakaian, mencari nafkah, dan seterusnya di bangun di atas fondasi keislaman. Oleh sebab itu, dalam memproduksi barang atau jasa ada aturan dan proses yang dilakukan agar sesuai dengan kaidah Islam.

Kini, konsep halal tidak hanya dilihat sebagai sebuah kebutuhan dalam mengonsumsi barang atau jasa, namun sudah menjadi pasar yang menghasilkan banyak cuan. Selama kurun waktu lima tahun terakhir, industri halal di Asia Tenggara menjadi salah satu sector perekenomian yang terus berkembang. Permintaan produk-produk halal terus meningkat dari tahun ke tahun, terlebih saat pandemic Covid-19 yang meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan dan kebersihan sebagai prioritas.

 Ada 10 sektor gaya hidup halal:

  1. Makanan
  2. Pakaian
  3. Media dan Rekreasi
  4. Keuangan Syariah
  5. Kosmetik
  6. Obat-obatan
  7. Pendidikan
  8. Kedokteran dan Kesehatan
  9. Wisata Halal
  10. Seni dan Budaya

Indonesia Halal Market Report 2021/2022 menunjukkan bahwa ada tujuh sector pangsa pasar halal yang menghasilkan keuntungan sangat besar dan nomor satu berasal dari industri makanan. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, yakni 229 juta atau sekitar 87,2% dari total populasi, Indonesia sangat berpotensi untuk mengembangkan gaya hidup halal dalam semua sector.

Implikasi Tren Gaya Hidup Halal dalam Industri Makanan

Produk halal di era kekinian bukan lagi dipandang sebagai kebutuhan masyarakat Islam saja, tapi sudah berkembang menjadi tren gaya hidup yang bernilai baik dan juga berimplikasi pada tren perdagangan global.

Indonesia menjadi pangsa pasar produk halal yang sangat menggiurkan. Sayangnya, produsen-produsen produk halal tersebut justru berasal dari negara-negara yang penduduk muslimnya minoritas bahkan negara sekuler. Mereka mengekspor barang-barang halal kepada penduduk muslim dunia, salah satunya Indonesia.

Bapak Dr. Muhammad Aqil Irham, M. Si, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal Indonesia (BPJPH) mengatakan bahwa sebagai regulator, BPJPH memberikan jaminan kepada konsumen dan produsen agar aktivitas yang menghubungkan antara produsen dan konsumen berjalan dengan baik. Pemerintah juga berusaha mendorong pelaku usaha dalam negeri, baik industri makanan-minumam sekala menengah dan besar maupun skala mikro dan kecil agar memerhatikan kehalalan produknya.

Pelaku usaha sekala mikro dan kecil sekarang sudah bisa mendaftarkan produknya untuk mendapatkan sertifikat halal dengan biaya yang lebih terjangkau. Alur pendaftarannya juga mudah lho, pelaku usaha bisa mendaftarkan produknya secara mandiri. Info selengkapnya cek pada laman website BPJPH Kemenag RI.


#DanoneIndonesia #GayaHidupHalal                                                                                                                          

© Alfizza Murdiyono · Designed by Sahabat Hosting